Jumat, 11 Oktober 2024

Mengikuti manhaj Salafush sholeh

Manhaj Salafush Sholeh yang syar'i merujuk kepada cara beragama yang mengikuti jejak dan pemahaman para pendahulu kita yang shaleh dari umat Islam, yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabi'ut tabi’in. Kata "Salafush Sholeh" berarti “generasi yang terdahulu dan saleh.” Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan Nabi Muhammad ﷺ, yang dipuji dalam banyak hadits karena ketakwaan, pemahaman agama yang benar, dan praktik ibadah yang lurus.

" Cara syar'i memahami Al-Qur'an dan As-sunnah ialah ushul fiqih. Inilah manhaj salaf yang Shahih (benar) dalam menggali ibrah, hikmah dan hukum syara' atau syariah Islam "

Prinsip-prinsip ilmiah manhaj Salafush Sholeh yang syar'i terdiri dari kaidah-kaidah dasar dalam memahami agama dan menuntut ilmu berdasarkan metode para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Prinsip-prinsip inilah menjadi fondasi dalam pendekatan ilmiah mereka memahami & mengamalkan Al-Qur'an & As Sunnah.

Berikut ini prinsip utama manhaj Salafush Sholeh yang syar'i:

Pertama Berpegang Teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah

   Manhaj ini mengutamakan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber utama dalam beragama. Mereka memahami dan mengamalkan agama Berdasarkan qowaid Syar'iah yakni Ulumul Qur'an, Ulumul hadits & Ushul fiqih bukan dengan logika atau pendapat pribadi.

Kedua Pemahaman Agama Berdasarkan Para Sahabat

   Pemahaman terhadap Al-Qur'an dan Sunnah harus merujuk kepada ijma' dan penafsiran para sahabat, karena mereka adalah generasi yang menyaksikan langsung Nabi Muhammad ﷺ, mendapatkan penjelasan langsung darinya, dan memahami konteks pewahyuan. Demikianlah Manhaj salafush sholeh adalah persatuan diatas sunnah Nabi Saw & Sunnah khulafaur rosyidin (kekhilafahan) dalam ilmu & amal

Ketiga Menghindari Bid'ah

   Dalam manhaj islam, Cara syar'i memahami Al-Qur'an dan As-sunnah ialah ushul fiqih. Inilah manhaj salaf yang Shahih (benar) untuk menggali ibrah, hikmah dan hukum syara' atau syariah Islam.

Dengan Ushul fiqih maka kaum Muslimin akan terhindar dari bid'ah dholalah, tahrif (penyelewengan) serta tadhlil (penyesatan) dalam beragama.

Keempat Mengikuti Jalan yang Lurus (As-Sirat Al-Mustaqim)

   Manhaj Salafush Sholeh menganut pendekatan yang lurus dalam beragama, tidak berlebih-lebihan dalam perkara agama (ghuluw) dan tidak juga meremehkannya. Mereka mengambil sikap seimbang dalam menjalankan agama sesuai dengan petunjuk yang benar. Mendahulukan Dalil (wahyu) dari pada Akal.

Dalam manhaj Salaf, dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah diutamakan daripada penggunaan akal atau logika murni. Akal digunakan untuk memahami dalil

Kelima Menjaga Akidah yang Murni 

   Salah satu ciri khas manhaj ini adalah menjaga kemurnian tauhid, yaitu hanya menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Manhaj ini sangat menentang syirik dalam segala bentuknya dan menyebarkan akidah yang benar berdasarkan dalil-dalil yang shahih.

Keenam Mengutamakan Keilmuan yang Shahih

   Menuntut ilmu dengan dalil-dalil yang sahih dari sumber-sumber yang terpercaya sangat ditekankan dalam manhaj Salafush Sholeh. Oleh sebab itu, seorang Muslim harus belajar dari ulama yang terpercaya dan menghindari pemahaman yang keliru.

Ketujuh Akhlak dan Adab yang Mulia

   Selain perhatian terhadap akidah dan ibadah, manhaj ini juga menekankan pentingnya memiliki akhlak yang baik. Mereka berusaha meniru akhlak Nabi ﷺ dan para sahabat dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam bersikap terhadap sesama Muslim dan non-Muslim.

Kedelapan Mengutamakan persatuan serta menjauhi Perpecahan dan Fanatisme Golongan

Manhaj Salaf menekankan pentingnya persatuan umat dan menjauhi fanatisme terhadap kelompok atau mazhab tertentu. Mereka menganjurkan agar umat Islam bersatu di atas kebenaran dan tidak berpecah-belah karena kepentingan golongan.

Kesembilan menerapkan Islam secara kaffah 

Berislam secara kaffah meliputi Aqidah, ibadah, muamalah, Uqubat & Al akhlak Al karimah

لإسلام دين كامل و نظام شامل

islam itu agama yang lengkap (sempurna) dan sistem (tatanan hidup) yang menyeluruh

manhaj Salafush Sholeh yang syar'i adalah upaya untuk mempraktikkan Islam secara menyeluruh ( kaffah )sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi ﷺ dan dipraktikkan oleh para sahabatnya dengan menjaga kesucian & kemurnian akidah, ibadah, dan akhlak muamalah dan uqubat(sanksi hukum) secara totalitas atau kaffah.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (Qs al Baqarah 2:208)

Rabu, 09 Oktober 2024

Baiti jannati

بيتي جنّتي

Rumahku surgaku. kebahagiaan rumah tangga muslim adalah bersama dalam ketaatan dan taqwa. Untuk membangun keluarga sakinah (tentram), mawaddah (penuh cinta)  & warohmah (penyayang) merupakan dambaan setiap keluarga mukmin. 

Jalan untuk meraih semua itu hanya bisa ditempuh dengan pemenuhan nafkah lahir dan juga nafkah batin secara bersamaan.

Adapun nafkah lahir tentu saja berupa sandang,  pangan, papan dan kebutuhan materi lainnya. sedangkan nafkah batin terdiri dari : 

Pertama, Ta'lim

   Pemenuhan nafkah batin keluarga  berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah menjadi pedoman yang jelas dan panduan yang pasti dalam mendidik istri & anak. Diantaranya :

1. Riya'ah & Qowwan

   - Al-Qur'an Allah SWT mengingatkan dalam surat At-Tahrim ayat 6: _“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”_  

     Ayat ini menegaskan tanggung jawab orang tua dalam menjaga keluarga mereka dari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan perkara yang melalaikan.

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW bersabda: _"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya..."_ (HR. Bukhari dan Muslim). Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anak mereka, sehingga wajib memberikan pendidikan yang baik.

2. Pendidikan Tauhid

   - Al-Qur'an : Dalam surat Luqman ayat 13, Luqman mengajarkan tauhid kepada anaknya: _“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”_  

     Pendidikan tauhid harus menjadi dasar utama dalam parenting Islami, agar anak memiliki hubungan yang kuat dengan Allah.

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menanamkan tauhid sejak dini. Ketika Abdullah bin Abbas masih kecil, Rasulullah SAW bersabda: "Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu..." (HR. Tirmidzi).

3. Kasih Sayang dan Kelembutan

   - Al-Qur'an : Dalam surat Al-Isra' ayat 24, Allah berfirman: _"...dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua (orang tua) dengan penuh kasih sayang."_

     Orang tua harus mengasuh anak-anak mereka dengan kasih sayang, sehingga mereka tumbuh dalam suasana penuh cinta.

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari). Beliau juga sangat penyayang terhadap anak-anak, menunjukkan betapa pentingnya kelembutan dalam pengasuhan.

4. Mengajarkan Akhlak Mulia

   - Al-Qur'an : Surat Luqman ayat 18-19 mengajarkan agar anak-anak diajarkan akhlak baik: “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh... dan sederhanalah dalam berjalan, serta lunakkanlah suaramu...”

     Anak perlu diajarkan tata krama, rendah hati, dan sikap baik dalam bersosialisasi.

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Pengajaran akhlak yang mulia harus menjadi prioritas dalam pendidikan anak.

 5. Doa untuk Anak

   - Al-Qur'an : Allah memuji orang-orang yang senantiasa mendoakan anak mereka, sebagaimana dalam surat Al-Furqan ayat 74: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)...”

     Doa orang tua untuk anak-anaknya sangat penting dalam proses pengasuhan.

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW bersabda: "Doa orang tua untuk anaknya seperti doa nabi untuk umatnya." (HR. Ahmad).

6. Pendidikan Ibadah Sejak Dini

   - Al-Qur'an : Dalam surat Taha ayat 132, Allah berfirman: _“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya...”_  

     Anak harus diajari ibadah sejak kecil agar mereka terbiasa dengan kewajiban-kewajiban agama.

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun...” (HR. Abu Dawud)

Orang tua perlu membiasakan anak untuk melaksanakan ibadah secara bertahap dan sesuai usia.

   - Al-Qur'an: Allah SWT memerintahkan keadilan dalam segala hal, termasuk dalam mengasuh anak, seperti dalam surat An-Nisa ayat 58 : "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil..."_

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW bersabda: “Berlakulah adil terhadap anak-anakmu, sebagaimana kamu suka jika mereka memperlakukanmu dengan adil.” (HR. Bukhari)

Orang tua harus bersikap adil dalam pemberian kasih sayang, perhatian, dan perlakuan terhadap semua anak.

8. Mendidik dengan Hikmah (Kebijaksanaan)

   - Al-Qur'an : Dalam surat An-Nahl ayat 125, Allah SWT berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..."_  

     Orang tua harus bijaksana dalam mendidik anak-anaknya, menggunakan pendekatan yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi anak.

   - As-Sunnah : Rasulullah SAW mencontohkan cara mendidik yang penuh kebijaksanaan, beliau tidak pernah marah secara berlebihan, dan selalu menggunakan metode yang sesuai dengan kemampuan dan usia anak-anak.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sesuai ajaran Islam.

Kedua, Ta'dib

Dengan berpedoman pada konsep-konsep ini, orang tua Muslim dapat mendidik anak-anaknya sesuai dengan tuntunan Islam agar mereka tumbuh menjadi generasi yang saleh, berakhlak mulia, dan bertakwa.

Prinsip-prinsip parenting dalam Islam mengacu pada nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan hadits. Berikut adalah beberapa prinsip utama dalam pengasuhan anak (Ta'dib) menurut Islam:

1. Pendidikan Adab (Tarbiyah Akhlakiyah)

Anak harus dididik dengan nilai-nilai akhlak dan etika islami. Islam menekankan pentingnya membentuk karakter mulia sejak dini, seperti kejujuran, kasih sayang, dan rasa tanggung jawab, bertutur dan bersikap sopan dll

2. Pemberian Kasih Sayang yang benar

   Orang tua dianjurkan untuk memberikan kasih sayang yang tulus kepada anak. Rasulullah SAW sangat mencintai anak-anak dan mencontohkan bagaimana seharusnya kasih sayang diberikan tanpa berlebihan atau kekerasan. Memupuk rasa cinta dan kasih sayang mereka dalam keimanan dan ketaatan bukan sekedar kesenangan duniawi dan materi semata

3. Pembiasaan Ibadah Sejak Dini

   Anak perlu diajari untuk mengenal dan melaksanakan ibadah sejak kecil, seperti salat, puasa, dan membaca Al-Qur'an. Namun, orang tua harus melakukannya dengan bijak dan tanpa paksaan, agar anak tumbuh dengan cinta terhadap ibadah.

4. Keadilan dalam Perlakuan

   Islam mengajarkan bahwa orang tua harus berlaku adil kepada semua anak tanpa membedakan jenis kelamin, bakat, atau kondisi fisik. Ini penting untuk membentuk rasa percaya diri dan kepercayaan dalam keluarga dan lingkungannya

5. Mencintai Ilmu Syar'i, Pengetahuan dan Keterampilan

   Menumbuhkan kecintaan anak kepada ilmu dan literasi. Selain pendidikan agama, anak-anak juga harus diajari ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan keterampilan hidup agar mereka dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri dan sukses di dunia dan akhiratnya 

6. Doa dan Dukungan Spiritual

   Orang tua dianjurkan untuk selalu mendoakan anak-anak mereka agar mendapatkan kebaikan dan petunjuk dari Allah. Doa orang tua, terutama ibu, adalah doa yang sangat mustajab dalam Islam.

7. Mengajarkan Tanggung Jawab dan Kemandirian

   Islam mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan dilatih untuk mandiri sejak dini. Hal ini termasuk dalam aspek spiritual, sosial, dan finansial. Sehingga mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang survivel, tangguh Dan mandiri

ketiga,  Qudwah

   Orang tua harus menjadi Contoh yang Baik (Uswatun Hasanah) sehingga mengharuskannya bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Sebab anak cenderung meniru perilaku orang tuanya. Maka penting untuk menunjukkan akhlak mulia dan perilaku Islami dalam kehidupan sehari-hari Serta Contoh dalam ihsan & ketaqwaan. Tanpa semua itu Bimbingan, arahan dan nasehat takkan berarti tanpa keteladanan

Selasa, 08 Oktober 2024

Bukti keaslian & kebenaran al-Qur'an

Bukti ilmiah dan empiris terkait kebenaran dan keaslian Al-Qur'an telah menjadi fokus berbagai kajian, baik dari segi bahasa, sejarah, maupun sains. Berikut adalah beberapa bukti yang sering dikemukakan oleh para ilmuwan, ulama, dan ahli tafsir terkait kebenaran dan keaslian Al-Qur'an:

Pertama Keotentikan Al-Qur'an yang Terjaga

   Salah satu bukti keaslian Al-Qur'an adalah kenyataan bahwa naskah Al-Qur'an tidak pernah berubah sejak pertama kali diturunkan lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Umat Muslim menjaga Al-Qur'an dengan cara hafalan (tahfiz) yang dilakukan secara turun-temurun, serta pembukuan yang sudah dilakukan sejak masa Khalifah Utsman bin Affan. Naskah-naskah Al-Qur'an yang ada saat ini, baik di museum maupun di manuskrip kuno, menunjukkan kesesuaian yang luar biasa dengan Al-Qur'an yang digunakan oleh kaum Muslimin hingga saat ini.

   Argumen keilmuan: 

   - Manuskrip-manuskrip kuno, seperti Manuskrip Topkapi dan Manuskrip Sana'a, membuktikan bahwa teks Al-Qur'an tetap sama sejak abad ke-7 tanpa adanya perubahan signifikan.

   - Sistem hafalan kolektif (tahfiz) yang telah berlangsung sejak zaman Nabi hingga kini memastikan bahwa kesalahan atau penambahan dalam teks sangat sulit terjadi.

Kedua Kesesuaian Al-Qur'an dengan Ilmu Pengetahuan Modern

   Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang diyakini sesuai dengan pengetahuan ilmiah modern, meskipun Al-Qur'an diturunkan di masa ketika pengetahuan ilmiah masih sangat terbatas. Beberapa di antaranya:

   - Penciptaan Alam Semesta: Al-Qur'an menyebutkan bahwa alam semesta berasal dari sesuatu yang bersatu dan kemudian dipisahkan (Big Bang). Ayat yang sering dirujuk adalah:

      “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya” (QS. Al-Anbiya: 30)

     Kesesuaian: Teori Big Bang yang ditemukan pada abad ke-20 menggambarkan bahwa alam semesta berawal dari ledakan besar dan pemisahan materi yang bersatu.

   - Pembentukan Janin di Dalam Rahim : Al-Qur'an memberikan penjelasan rinci tentang proses penciptaan manusia dalam rahim:

      "Kemudian Kami menjadikan nutfah (air mani) yang tersimpan di tempat yang kokoh (rahim). Kemudian Kami menciptakan darah beku dari nutfah itu, lalu Kami jadikan darah beku itu segumpal daging..." (QS. Al-Mu’minun: 13-14)

     Kesesuaian: Penjelasan ini sesuai dengan pengetahuan embriologi modern, yang baru dapat diungkap secara rinci setelah ditemukannya teknologi canggih seperti mikroskop pada abad ke-20.

   - Gunung sebagai Pasak: Al-Qur'an menyebutkan bahwa gunung berfungsi sebagai pasak yang menstabilkan bumi:

     “Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS. An-Naba: 6-7).

     Kesesuaian: Ilmu geologi modern menemukan bahwa gunung memang memiliki fungsi menjaga stabilitas lempeng tektonik bumi, yang membantu mencegah gempa bumi yang lebih hebat.

Ketiga Prediksi Ilmiah dalam Al-Qur'an

   Beberapa ayat dalam Al-Qur'an juga berisi pernyataan yang baru dapat dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern. Contoh yang sering disebutkan adalah:

   - Eksplorasi dasar laut:

      "Atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak di atas ombak, di atasnya awan; gelap gulita yang berlapis-lapis, apabila dia mengeluarkan tangannya tiadalah dia dapat melihatnya." (QS. An-Nur: 40)

     Penemuan: Para ilmuwan menemukan bahwa di lautan yang dalam, terdapat lapisan gelap yang tidak bisa ditembus oleh cahaya matahari. Hal ini baru diketahui setelah teknologi kapal selam modern ditemukan, namun Al-Qur'an telah menyebutkannya lebih dari 1400 tahun yang lalu.

   - Berat di luar angkasa:

      "Barangsiapa dikehendaki Allah untuk diberi petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit" (QS. Al-An'am: 125).

     Penemuan : Semakin tinggi seseorang mendaki ke atmosfer bumi, semakin sulit bernapas karena berkurangnya kadar oksigen. Ini adalah fenomena yang hanya dapat dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian modern tentang ketinggian dan tekanan udara.

Keempat Keindahan dan Kesempurnaan Bahasa Al-Qur'an

   Al-Qur'an memiliki gaya bahasa yang luar biasa dalam sastra Arab, bahkan pada masa Nabi Muhammad SAW, di mana bahasa Arab berada pada puncak kejayaannya. Tantangan yang disampaikan oleh Al-Qur'an untuk menghasilkan satu surat atau ayat yang sebanding dengan Al-Qur'an hingga kini belum dapat dipenuhi, meskipun banyak ahli bahasa Arab yang mencoba melakukannya. Keindahan dan kefasihan bahasa ini diakui oleh para pujangga dan ahli sastra sepanjang sejarah.

    "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar" (QS. Al-Baqarah: 23).

   Bukti empiris ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an memiliki keindahan dan struktur bahasa yang unik dan tak tertandingi.

Kelima Tidak Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan

   Dalam banyak hal, Al-Qur'an tidak pernah bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang telah terbukti. Ketika ilmu pengetahuan modern terus berkembang, ayat-ayat Al-Qur'an yang dulunya tidak bisa dipahami sepenuhnya justru menunjukkan kebenaran dengan penemuan-penemuan baru. Ini sering dianggap sebagai bukti bahwa Al-Qur'an bukanlah produk pemikiran manusia, tetapi berasal dari sumber yang Mahatahu Dia Allah SWT 

 Kesimpulan :

Bukti-bukti ilmiah dan empiris yang dijelaskan di atas, meskipun tidak dimaksudkan untuk menjadi kitab sains, menunjukkan bahwa Al-Qur'an berisi kebenaran yang baru bisa dibuktikan oleh pengetahuan modern. Selain itu, keotentikan naskah yang terjaga, serta keselarasan dengan ilmu pengetahuan, mendukung keyakinan umat Muslim bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah yang benar dan tidak diragukan keasliannya.

Jumat, 04 Oktober 2024

Benarkah singularitas bukti keesaan Allah ?

Membangun pondasi keimanan islam dilakukan dengan berfikir rasional tanpa mengharuskan berfikir empiris yang diperuntukkan bagi object inderawi. 

jika ada pertanyaan siapakah yang menciptakan Allah sebagai prima causa ? Tentu ini adalah kecacatan berfikir (logical fallacy) karena Subtansi tuhan yang Sebenarnya haruslah bersifat Azali yakni entintas yang tak berawal dan tak berakhir. 

Apakah Tuhan itu nyata atau hanya imaginasi (khayalan) orang yang meyakininya...?

Alam semesta tidaklah mungkin muncul dari ketiadaan secara acak tanpa penyebab. Dimana penyebab ini haruslah berada di luar dimensi ruang dan waktu itu sendiri serta bersifat kekal. Inilah alasan paling logis adanya Tuhan secara nyata bukan sekedar konsepsi Serta imaginasi penganutnya. Sebab realitas sederhana sekalipun membutuhkan Pencipta atau produsen. misalnya ekosistem android Samsung, Xiaomi, oppo, vivo atau ekosistem apple iphone, ipad, iwatch, MacBook dll yang Kita gunakan ini semuanya memiliki produsen yang menciptakan atau memproduksinya. Bukan tercipta dengan sendirinya secara tiba-tiba dan kebetulan apalagi kosmologis yang begitu rumit dan kompleks ini.

Siapakah yang menciptakan titik singularitas ? 

Membenturkan agama dan sains merupakan kejumudan berfikir seperti yang dilakukan para gerejawan eropa pada masa dark age. Padahal klaim dan hipotesis yang benar tidaklah bertentangan dengan akal sehat, realitas dan kausalitas. Sedangkan sains terus terkoreksi dan berkembang sehingga mustahil Tuhan sebagai prima causa itu diciptakan dari yang lain. Begitu pula Big bang mustahil tercipta dari ketiadaan. Allah SWT berfirman :

لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan (Qs al Anbiyaa' 21 : 22)

Lalu apa yang menyebabkan terjadinya ledakan big bang ?

 أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang yang ingkar (kafir) itu tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ? (Qs al Anbiyaa' 21:30)

Dalam pandangan Islam, segala sesuatu adalah makhluq ciptaan Allah SWT. Argumentasi Sains tentang singularitas sering digunakan sebagai bukti empiris untuk menggambarkan konsep keesaan Allah, meskipun demikian teori sains ini mungkin saja terkoreksi dan berubah. Namun Islam tidak menjadikan hipotesis sains termasuk Singularitas dalam kosmologi yang merujuk pada titik awal alam semesta dimana semua hukum fisika tidak berlaku dan segala sesuatu bersatu dalam satu titik yang tidak terdefinisi sebagai dasar fundamental keimanan 

Konsep ini hanya dianggap sebagai bukti kebesaran dan keesaan Allah karena ia menunjukkan adanya titik asal dari segala sesuatu dalam ajaran Islam, Allah merupakan pencipta segala sesuatu, termasuk alam semesta. Singularitas kosmologis bisa dipahami sebagai manifestasi dari kuasa Allah yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan.

Namun, perlu dicatat bahwa konsep "singularitas" adalah istilah sains, dan penggunaannya untuk membuktikan keesaan Allah adalah pendekatan filosofis-teologis yang melibatkan interpretasi spiritual dari fenomena fisik. Dalam perspektif iman, singularitas bisa dipandang sebagai tanda kebesaran Tuhan, tetapi tidak secara langsung merupakan "bukti ilmiah" dalam pengertian sains murni.

Jadi, bagi orang yang beriman, singularitas bisa dipahami sebagai salah satu tanda atau bukti kebesaran dan keesaan Allah, tetapi bagi komunitas ilmiah, singularitas hanya merupakan fenomena fisik yang masih diteliti lebih lanjut tanpa melibatkan aspek teologis.

۞ أَوَلَمْ يَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ قَادِرٌ عَلَىٰٓ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلًا لَّا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى ٱلظَّٰلِمُونَ إِلَّا كُفُورًا

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya ? Maka orang-orang zalim itu tidaklah menghendaki kecuali pengingkaran ( kekafiran ) [Qs al Israa' 17:99]

Selasa, 01 Oktober 2024

Kesalahan pemikiran Ateisme

Apakah tuhan itu ada & nyata...? 

atau hanyalah imaginasi penganutnya...

Pemikiran ateisme pada dasarnya menolak keberadaan Tuhan atau dewa-dewa, ini sering kali didasarkan pada argumen empiris dan logis yang menuntut bukti konkrit atas klaim keberadaan Tuhan. Namun, ada beberapa kritik terhadap pendekatan empiris ateisme, yang menunjukkan bahwa pendekatan ini  memiliki kelemahan atau keterbatasan. Berikut adalah beberapa kesalahan empiris yang sering dituduhkan terhadap pemikiran ateisme:

1. Permintaan Bukti Empiris yang Tidak mungkin untuk Entitas Non-Material

   Salah satu kritik terhadap ateisme adalah bahwa meminta bukti empiris atas keberadaan Tuhan mengasumsikan bahwa Tuhan harus dapat dibuktikan dengan metode yang sama yang digunakan untuk menguji benda-benda fisik. Padahal konsep ketuhanan dalam agama adalah bahwa Tuhan adalah entitas non-material, supranatural, dan transenden (diluar jangkauan).

   - Kelemahan empiris: Metode ilmiah empiris hanya bisa mengamati dan mengukur fenomena yang ada di dalam alam fisik. Sedangkan Tuhan berada di luar alam fisik, sehingga mencari bukti empiris dalam bentuk observasi langsung atau eksperimen ilmiah adalah salah sasaran. Ateisme, dengan menuntut bukti seperti itu, bisa dikritik karena membatasi realitas hanya pada hal-hal yang bisa diukur secara fisik tentu ini merupakan kecacatan berfikir 

   - Contoh: Sama seperti ilmu fisika tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan metafisika tentang makna atau tujuan hidup, sains juga tidak bisa mengamati atau mengukur entitas yang bersifat transenden seperti Tuhan.

2. Reduksionisme Materialis

   Pemikiran ateisme sering kali bergantung pada materialisme, pandangan bahwa segala sesuatu yang ada adalah materi, dan semua fenomena, termasuk kesadaran dan moralitas, dapat dijelaskan sepenuhnya oleh interaksi materi. Ini sering disebut sebagai reduksionisme materialis.

   - Kelemahan empiris : Tidak semua aspek realitas dapat dijelaskan hanya dengan merujuk pada materi. Fenomena seperti kesadaran, nilai moral, dan tujuan sering kali tidak bisa dijelaskan secara memadai hanya melalui materialisme. Sebagai contoh, ilmu saraf masih belum bisa menjelaskan bagaimana proses fisik di otak menghasilkan pengalaman subyektif (masalah kesadaran atau "the hard problem of consciousness").

   - Contoh : Kesadaran manusia adalah fenomena yang sangat kompleks dan unik, dan banyak filsuf serta ilmuwan yang mempertanyakan apakah penjelasan materialis akan pernah cukup untuk menjelaskan aspek-aspek non-material dari pikiran dan pengalaman manusia. Ateisme yang berpegang teguh pada materialisme mengabaikan realitas aspek-aspek ini.

 3. Pengabaian pada Argumen Filosofis tentang Penyebab Pertama

   Salah satu kritik yang sering diajukan terhadap ateisme adalah pengabaian atau penolakan terhadap argumen filosofis tentang penyebab pertama atau penjelasan ontologis tentang mengapa ada sesuatu dari pada tidak ada. Argumen kosmologis yang menyatakan bahwa alam semesta membutuhkan penyebab eksternal untuk keberadaannya sering kali diabaikan atau disederhanakan oleh para ateis.

   - Kelemahan empiris: Ateis yang mengandalkan sains mungkin akan berpendapat bahwa alam semesta tidak membutuhkan penyebab eksternal atau bahwa penyebabnya belum diketahui. Namun, para filsuf teistik berargumen bahwa menolak adanya penyebab eksternal atau "Pencipta" tanpa memberikan alternatif yang memadai adalah kelemahan logis dalam pemikiran ateistik. Pengamatan empiris menunjukkan bahwa segala sesuatu yang memiliki permulaan membutuhkan penyebab, dan alam semesta memiliki permulaan yang jelas (misalnya, melalui teori Big Bang).

   - Contoh: Alam semesta memiliki asal usul, dan keberadaan alam semesta dari ketiadaan memerlukan penjelasan. Sains dapat menjelaskan proses fisik yang terjadi setelah awal alam semesta, tetapi ia tidak bisa menjelaskan mengapa alam semesta ada sejak awal.

 4. Kesalahan dalam Memahami Konsep Tuhan

   Ateisme sering kali menyasar gambaran Tuhan yang dianggap antropomorfik atau terlalu disederhanakan, yaitu Tuhan yang dipahami seperti manusia yang sangat kuat atau sebagai entitas fisik yang berada di luar sana di alam semesta.

   - Kelemahan empiris: Banyak tradisi agama, khususnya dalam filsafat teistik yang lebih maju, menggambarkan Tuhan sebagai entitas non-material, tak terbatas dan transenden, yang tidak dapat disamakan dengan objek-objek fisik dalam ruang dan waktu. Mengkritik konsep Tuhan sebagai makhluk fisik yang berada di alam semesta adalah salah sasaran, karena tidak sesuai dengan pengertian Tuhan dalam filsafat klasik atau agama-agama besar seperti Kristen, Islam, dan Yahudi.

   - Contoh: Argumen bahwa Tuhan tidak bisa ditemukan di ruang angkasa atau tidak bisa diukur secara ilmiah mengabaikan konsep bahwa Tuhan tidak berada di dalam dimensi ruang dan waktu yang sama dengan benda-benda fisik. Tuhan dalam pemahaman teistik klasik bukanlah "makhluk" di antara makhluk-makhluk lain, tetapi "Sumber dari segala yang ada."

 5. Keterbatasan Sains dalam Menjawab Pertanyaan Metafisik

   Ateisme sering berasumsi bahwa sains, dalam prinsipnya, dapat memberikan jawaban untuk semua pertanyaan tentang alam semesta. Namun, sains memiliki batasan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti "Mengapa ada sesuatu daripada tidak ada?" atau "Apa tujuan dari kehidupan?"

   - Kelemahan empiris : Sains bergantung pada metode observasi dan eksperimen untuk memahami dunia fisik, tetapi pertanyaan-pertanyaan metafisik yang lebih dalam seperti asal usul eksistensi, makna kehidupan, atau tujuan moral tidak bisa diselesaikan dengan eksperimen atau data empiris. Ateis yang mengandalkan sains untuk semua jawaban mungkin gagal melihat bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang berada di luar jangkauan sains.

   - Contoh: Pertanyaan seperti "Mengapa hukum alam bekerja sebagaimana adanya ?" atau "Apa sumber dari moralitas objektif?" adalah pertanyaan yang lebih bersifat filosofis daripada ilmiah. Sains dapat menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja, tetapi tidak selalu menjelaskan mengapa hal itu ada atau untuk tujuan apa.

 6. Kesalahan dalam Menggunakan Argumen Evolusi untuk Menolak Tuhan

   Salah satu argumen yang sering diajukan oleh ateis adalah bahwa teori evolusi membuktikan bahwa Tuhan tidak diperlukan untuk menjelaskan keberadaan kehidupan. Namun, kritik terhadap pandangan ini menunjukkan bahwa evolusi hanya menjelaskan mekanisme perubahan dalam kehidupan, bukan asal usul kehidupan itu sendiri atau alam semesta secara keseluruhan.

   - Kelemahan empiris: Evolusi memberikan penjelasan yang kuat tentang bagaimana spesies berkembang dari waktu ke waktu melalui seleksi alam, tetapi ia tidak menjawab pertanyaan yang lebih mendalam tentang bagaimana kehidupan itu sendiri pertama kali muncul dari materi non-hidup (abiogenesis) atau mengapa hukum-hukum alam mendukung keberadaan kehidupan.

   - Contoh: Sementara teori evolusi menjelaskan mekanisme perubahan spesies, ia tidak menjelaskan asal mula alam semesta, hukum-hukum fisika yang memungkinkan evolusi terjadi, atau kesadaran manusia. Argumen bahwa evolusi menggantikan Tuhan sering kali disalahgunakan penganut Ateisme.

Kesimpulan

Kritik terhadap ateisme yang berlandaskan pada kesalahan empiris menunjukkan bahwa pendekatan yang hanya bergantung pada sains dan materialisme mungkin memiliki keterbatasan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam tentang keberadaan dan realitas. Tuntutan bukti empiris untuk entitas non-material, seperti Tuhan, mengabaikan kenyataan bahwa tidak semua realitas bisa diukur atau diamati secara ilmiah. Selain itu, pemikiran ateistik yang menolak atau mengabaikan argumen metafisik, moral, dan kesadaran menunjukkan bahwa ada keterbatasan dalam pendekatan murni materialistik terhadap realitas.

Sains & teknologi memiliki kemampuan luar biasa untuk menjelaskan fenomena alam, tetapi ada aspek-aspek realitas yang melampaui metode ilmiah dan observasi. Kegagalan untuk mengakui batasan ini bisa menjadi salah satu kelemahan utama dalam pemikiran ateisme.

Namun terkadang sebagian orang memilih Ateisme bukan karena kebenarannya dan kewarasan akal sehatnya yang rasional tapi  karena kemalasan dalam beribadah dan budaya liberal hedonis yang tidak mau dibatasi aturan (Syariah) Agama.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱشْتَرَوُا۟ ٱلْكُفْرَ بِٱلْإِيمَٰنِ لَن يَضُرُّوا۟ ٱللَّهَ شَيْـًٔا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

sesungguhnya orang-orang yang membeli (menukar) kekufuran dengan keimanannya. maka itu tidak akan pernah sedikitpun merugikan (memudhorotkan) Allah SWT dan bagi mereka azab yang pedih (Qs Ali Imran 3:177)

Mengapa Tuhan itu harus Esa & Azali...?

Menolak eksistensi Allah sebagai Prima cause dengan alasan tidak bisa dibuktikan secara empiris bukan hanya sekedar kecacatan berfikir (logical fallacy), menyalahi realitas serta kausalitas (Sunatullah) tapi merupakan bukti ketidak warasan akal sehat akibat "mempertuhankan" kedunguan Ateisme yang tidak rasional

قُلْ أَرَءَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَرُونِى مَاذَا خَلَقُوا۟ مِنَ ٱلْأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ ۖ ٱئْتُونِى بِكِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ هَٰذَآ أَوْ أَثَٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit ? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar" (Qs al Ahqaaf 46:4)

Selanjutnya kenapa Prima cause itu harus Allah SWT bukan yang lain...?

Keyakinan bahwasanya penciptaan alam semesta berasal dari satu materi atau singularitas yang terkompresi lalu meledak (big bang) dan mengembang (inflation) bersumber dari Allah yang tunggal (Esa) bukanlah faktor kebetulan & tiba-tiba. Tauhid adalah landasan utama keimanan seorang Muslim. Adapun alasan paling mendasar bahwasanya Tuhan itu menciptakan alam raya ini ialah kausalitas bahwasanya segala akibat pasti ada penyebabnya. Ini bukanlah sekedar argumentasi logis dan Rasional tapi realitas kehidupan yang terbantahkan. Namun Allah tidak tercipta dari apapun dan diciptakan oleh siapapun Karena Dialah Cause prima itu sendiri. Sehingga mustahil ada permulaannya Serta terikat oleh dimensi ruang waktu yang diciptakanNya. Adapun Beberapa alasan rasional lain diantaranya :

1. Keesaan yang Logis

Dalam Aqidah Islam, konsep keesaan Tuhan (tauhid) adalah keyakinan paling rasional, masuk akal dari pada adanya banyak tuhan. Sebab Jika ada lebih dari satu pencipta, akan ada potensi konflik antara kehendak dan tindakan mereka. Hal ini bisa menyebabkan kekacauan dalam tatanan alam semesta, yang bertentangan dengan realitas bahwa alam ini berfungsi secara teratur dan harmonis.

2. Keharmonisan Alam Semesta

Alam semesta menunjukkan keteraturan dan keselarasan yang luar biasa. Hukum-hukum alam bekerja dengan sangat presisi, mulai dari gerakan planet hingga interaksi molekul. Keteraturan ini menunjukkan adanya satu sumber kekuasaan dan pengetahuan mutlak yang mengatur segalanya. Jika ada banyak dewa, sulit membayangkan bagaimana mereka bisa menciptakan dan menjaga harmoni ini tanpa bertabrakan satu sama lain.

3. Kekuatan dan Keabsolutan:

Tuhan dalam pengertian monoteistik (Tauhid) adalah entitas yang Maha Kuasa dan tidak terbatas. Jika ada lebih dari satu Tuhan, masing-masing tidak akan bisa memiliki kekuasaan absolut, karena kekuasaan mereka akan dibatasi oleh keberadaan Tuhan lainnya. Ini bertentangan dengan konsep keesaan Allah sebagai yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.

4. Konsistensi dalam Penyembahan:

Dengan mengakui satu Tuhan, manusia dapat memiliki hubungan yang lebih konsisten dalam penyembahan dan ibadah. Jika ada banyak dewa, akan timbul kebingungan tentang siapa yang harus disembah dan bagaimana cara menyembahnya. Konsep Allah yang tunggal memberikan panduan yang jelas dan tegas dalam menjalani hidup dan ibadah.

5. Dalil Wahyu:

Dalam banyak kitab suci, seperti Al-Quran, disebutkan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam semesta. Misalnya, dalam Surah Al-Ikhlas (112:1-4), Allah digambarkan sebagai "Ahad" (Satu), tanpa sekutu dan tidak bergantung pada apapun.

Jadi, penciptaan oleh satu Tuhan merupakan argumentasi yang lebih logis, konsisten, dan sesuai dengan realitas keteraturan alam semesta. Monoteisme atau ketauhidan memberikan penjelasan yang lebih koheren tentang keberadaan, keharmonisan, dan kekuasaan tertinggi di alam semesta.

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا

Sembahlah (beribadahlah) kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun (Qs an Nisa 4:36)

Mengenal Makhrojul huruf

Makhrojul huruf artinya tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah. Baiknya bacaan Al-Qur'an diawali dari benarnya dalam melafalkan (mengucapkan) makhorijul huruf ini. Al-Qur'an yang kita baca tersusun dalam dari 29 huruf yang terdapat pada 17 tempat keluarnya huruf yang disebut makhorijul huruf.  ketujuh belas makhroj ini kemudian dikelompokkan kedalam 5 bagian : 

Pertama, الجوف

Makhrojul huruf yang terletak pada ruang kosong rongga mulut.

kedua, الحلق

Makhrojul huruf yang terletak dikerongkongan atau tenggorokan

ketigaاللسان

Makhrojul huruf yang terletak pada lidah

keempat, الشفتين

Makhrojul huruf yang terletak pada bibir

kelimaالخيشوم

Makhrojul huruf yang terletak pada pangkal hidung yang mengeluarkan dengung (gunnah)

القاب الحروف

istilah yang digunakan ulama tajwid dan Quro' untuk menyebut suatu huruf yang diklasifikasikan berdasarkan tempat keluarnya (makhorijul huruf) 

1. الجوفية 

Huruf  jaufiyah merupakan huruf mad atau disebut juga huruf ilat dalam shorof ا ي و

2. الحلقية

Huruf yang dikeluarkan dari dalam tenggorokan atau kerongkongan ء ه ع ح غ خ

3. اللهوية

Huruf yang dikeluarkan dari Pangkal lidah dekat anak lidah (Uvula) ق ك

4. الشجرية

Disebut juga Al Ghar yaitu Huruf yang dikeluarkan dari pertengahan lidah ج ش ض ي

5. النطعية

Huruf yang dikeluarkan dari ujung lidah yang dirapatkan dengan Pangkal Gigi seri atas  ت د ط

6. اللثوية

Huruf yang dikeluarkan dari ujung lidah yang diletakkan dibawah dari Gigi seri bagian atas atau ujung lidah yang diletakkan diantara Gigi seri atas & bawah ث ذ ظ

7. الأسلية

Huruf yang dikeluarkan dari ujung lidah yang dekat Gigi seri bagian bawah س ز ص

8. الذلقية

Huruf yang dikeluarkan dari tepi ujung lidah dengan tipis ر ن ل

9. الشفوية

Huruf yang dikeluarkan dari 2 bibir ب م ف و

Jumat, 27 September 2024

Membangun Pondasi Tauhid & keimanan

Ma'rifatullah

التوحيد لغةً : العلم بأن الشيء واحد. وشرعا : بمعنى الفن المُدوَّن فيما سيأتي وهو علم يقتدر به على إثبات العقائد الدين مكتسب من أدلتها اليقينية

Tauhid secara bahasa berarti pengetahuan dan keyakinan bahwa akan Esanya sesuatu. Adapun secara Syar'i (ilmu) Tauhid merupakan Cabang keilmuan yang disusun didalamnya Perkara aqidah yang datang dari ilmu yang menetapkan denganya atas kepastian keimanan Agama yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang Pasti (qoth'i) [Tuhfatul murid ala jauharit tauhid hal 38 Darus salam Mesir 2019]

وبعد فالعلم بأصل الدين # محتَّم يحتاج للتبيين 

Selanjutnya ilmu itu adalah Pondasi dalam beragama yang diwajibkan lagi dibutuhkan untuk menjelaskan (Agama). Sebagaimana Allah SWT jelaskan dengan shighat amr (Perintah) untuk mengetahui atau berilmu : 

فأعلم أنه لآ  إله إلاّ اللهُ 

maka ketahuilah bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT (Qs muhammad : 19)

Wajib bagi setiap mukallaf (berakal & baligh) baik pria maupun wanita secara fardhu 'ain mengetahui seluruh dasar Aqidah berdasarkan dalil meskipun secara global [Tuhfatul murid 'ala jauharid Tauhid hal 53-55 Darussalam Mesir 2019]

Tahapan pertama dalam bertauhid yang benar dimulai dari mengenal Allah (makrifatullah) dan mengimaninya secara pasti berdasarkan dalil yang qoth'i (pasti). Dimana dalil-dalil dalam mendapatkan atau memperoleh keimanan yang shahih terdiri dalil Aqli dan Naqli sebagaimana dijelasakan Al allamah Qodhi Taqiyuddin annabhani Rahimahullah :

و الدليل إما أن يكون عقليا و إما أن يكون نقليا

Dalil Aqidah adakalanya berupa dalil Aqli adakalanya berupa dalil Naqli (Asy Syakhshiyah al islamiyah juz 1 hal 30 Darul ummah 2003)

Dalil Aqli 

Memahami hakikat diri, alam raya dan kehidupan yang terbatas dan saling terikat dan bergantung mengharuskan adanya Pencipta dan pengatur. 

misalnya manusia, ia tak bisa hidup tanpa oksigen tanpa makan dan minum yang menunjukkan ketergantungannya pada yang lain sehingga tidak mungkin manusia menjadi entitas maha kuasa atas segala sesuatu. 

begitu pula seluruh makhluk dialam raya ini partikel elementer penyusunnya saling terikat membentuk entitasnya sendiri dan terikat pada kausalitas atau sunnatullah yang melingkupinya 

demikian pula kehidupan yang begitu kompleks dan dinamis. semua realitas kehidupan sepanjang masa diseluruh jagad raya ini dan disepanjang zaman tentu diluar kendalinya dalam kapasitasnya sebagai manusia. Disinilah pentingnya menemukan Hakikat diri atau Uqdatul kubro yaitu simpul besar kehidupan seseorang dalam hidupnya agar ia menemukan Tujuan hidupnya yang Sesungguhnya.

dari uraian ini bisa kita simpulkan eksistensi ruang waktu dan kehidupan yang ada didalamnya membutuhkan eksistensi sesuatu yang tak terbatas dan tak bergantung pada sesuatu apapun yang mampu menciptakan, mengatur dan mengendalikan segala sesuatu. 

Dalil Naqli

وجود الدليل شرط أساسي في وجود الإيمان 

Adanya dalil merupakan syarat mendasar bagi adanya keimanan

imam al-Zajaj menjelaskan definisi Iman : 

الإيمان إظهار الخلضوع والقبول للشريعة و لما أتى به النبي صلى الله عليه وسلم، واعتقاده وتصديقه بالقلب

Iman adalah memperlihatkan ketundukan dan penerimaan pada Syariat Allah dan segala yang dibawa oleh Nabi SAW, disertai dengan meyakini dan membenarkannya dengan hati (Lisan al-Arab, Ibnu manzhur)

Setelah kita mampu membuktikan & menyadari bahwasanya segala sesuatu itu adalah makhluk yang diciptakan maka pastilah ada Pencipta semua itu (prima causa). dialah Allah azza wa jalla sebagaimana Al-Qur'an menjelaskan:

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَٰعِبِينَ

Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main (Qs al Anbiyaa' 21:16)

وَكَأَيِّن مِّنْ ءَايَةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya (Qs yusuf 12:105)

Mendudukkan Sains 

Adapun penjelasan ilmiah mengenai keberadaan Allah SWT berkaitan dengan eksistensinya sebagai Pencipta bukan pada zatnya secara fisik. Sebab Hakikatnya Tuhan haruslah entitas independent yang tidak terikat dan terbatas oleh dimensi ruang, waktu, dan materi yang ia ciptakan sehingga Allah berada diluar jangkauan metode ilmiah yang berfokus pada fenomena yang dapat diukur, diamati, dan diuji. 
Namun, ada banyak argumentasi logis ilmu pengetahuan untuk membuktikan adanya Allah SWT :

Pertama, Argumen Kosmologis (Asal-Usul Alam Semesta
Ilmu pengetahuan saat ini mengakui bahwa alam semesta memiliki awal, yang dikenal sebagai Teori Big Bang. Alam semesta muncul dari singularitas—keadaan yang sangat padat dan panas—sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Sebelum Big Bang, tidak ada ruang, waktu, atau materi, dan ini menimbulkan pertanyaan: Mengapa alam semesta ada dan apa yang menyebabkannya ?

Sains tidak memberikan jawaban pasti tentang apa yang menyebabkan Big Bang, tetapi beberapa filsuf dan teolog berargumen bahwa penyebab alam semesta haruslah sesuatu yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, serta tidak tergantung pada materi—seperti sifat-sifat yang sering dikaitkan dengan Allah. Maka, argumen kosmologis ini meniscayakan adanya Pencipta. Dialah Allah "Penyebab Pertama" (Causa prima) yang tak tercipta yang menciptakan alam semesta 4 dimensi ini.

Kedua, Fine-Tuning Alam Semesta
Banyak ilmuwan mencatat bahwa konstanta fisik di alam semesta—seperti konstanta gravitasi, kekuatan elektromagnetik, dan interaksi nuklir—diatur dengan sangat tepat untuk memungkinkan kehidupan. Jika salah satu konstanta ini berbeda sedikit saja, alam semesta yang kita kenal mungkin tidak akan dapat mendukung kehidupan.

Ini sering disebut sebagai argumen fine-tuning. Ilmuwan seperti Stephen Hawking dan Sir Roger Penrose mengakui bahwa kebetulan luar biasa ini memerlukan penjelasan. Ada dua penjelasan umum:

   - Teori Multiverse: Mungkin ada banyak alam semesta dengan kondisi fisika yang berbeda-beda, dan kita kebetulan berada di salah satu yang tepat untuk kehidupan. Namun teori multiverse yakni Dunia paralel (alam semesta jamak) yang terbentuk secara kebetulan & acak sering digunakan sebagai alternatif untuk menjelaskan keteraturan alam semesta, tetapi penjelasan ini terlalu spekulatif dibandingkan dengan konsep Tuhan sebagai pencipta.

   - Desain Cerdas (Intelligent Design): Beberapa berpendapat bahwa alam semesta yang begitu halus disetel menunjukkan adanya Desainer Cerdas yang merancang & menciptakan semua ini yang Kita yakini sebagai Tuhan yang wajibul wujud.

Ketiga, Keteraturan dan Hukum Alam
Ilmu pengetahuan mengandalkan hukum-hukum fisika yang konsisten di seluruh alam semesta, seperti hukum gravitasi, elektromagnetisme, dan termodinamika. Alam semesta kita berfungsi berdasarkan hukum-hukum yang dapat dipahami secara matematis dan konsisten berlaku di seluruh ruang dan waktu. Pertanyaannya adalah: Mengapa ada hukum-hukum yang begitu teratur dan dapat dipahami secara rasional ?

Seperti Genomic DNA, RNA dan berbagai kompleksitas keteraturan ini menyiratkan adanya kecerdasan di balik alam semesta yang mendesain & mengatur segala sesuatu.  

Keempat, Argumentasi Kesadaran (awareness).
Kesadaran manusia adalah salah satu misteri terbesar dalam sains. Ilmu pengetahuan sejauh ini belum bisa sepenuhnya menjelaskan bagaimana otak manusia, yang merupakan benda fisik, bisa menghasilkan kesadaran subjektif seperti pikiran, emosi, dan pengalaman.

Beberapa filsuf dan ilmuwan berpendapat bahwa kesadaran tidak mungkin dijelaskan sepenuhnya oleh proses materialistik. Jika kesadaran manusia adalah sesuatu yang lebih dari sekadar reaksi kimia dan impuls listrik, maka ini mungkin menunjukkan adanya realitas yang lebih tinggi, seperti keberadaan Allah, yang menjadi sumber dari kesadaran atau jiwa.

Kelima, Argumen dari Kompleksitas Kehidupan
Meskipun teori evolusi telah menjelaskan banyak hal tentang bagaimana spesies berkembang dari bentuk sederhana menjadi lebih kompleks, asal mula kehidupan dari materi tak hidup (abiogenesis) tetap menjadi misteri yang belum sepenuhnya dipahami. Proses yang memungkinkan molekul-molekul kimia sederhana untuk berkumpul dan membentuk sel yang hidup masih belum dapat dijelaskan secara tuntas.

Kompleksitas yang luar biasa dari kehidupan—seperti struktur DNA, protein, dan mekanisme biologis lainnya—telah membuat sebagian orang berpendapat bahwa kehidupan itu sendiri menunjukkan adanya desain yang disengaja bukan sekedar mitos kebetulan yang secara tiba-tiba untuk menolak adanya eksistensi Tuhan sebagai pencipta. karena mustahil seluruh formulasi empiris semua ilmu pengetahuan ini dari proses acak semata.

Keenam, Argumen Ontologis
Dalam filsafat, argumen ontologis untuk keberadaan Allah menyatakan bahwa konsep Allah sebagai Entitas yang paling sempurna yang mengimplikasikan bahwa Allah harus ada. Sebuah entitas yang paling sempurna tidak mungkin tidak ada, karena ketidakadaannya adalah kekurangan, sedangkan entitas yang sempurna tidak memiliki kekurangan. Meskipun argumen ini lebih bersifat logis dari pada empiris. Namun secara rasional tak mungkin adanya pakaian, kendaraan, smartphone, komputer dll yang Kita gunakan ini ada tanpa adanya produsen semua manufaktur tersebut sebagai konsekuensi logis kausalitas atau hukum Sebab akibat.

Khotimah 

معنى الإيمان هو التصديق الجازم المطابق للواقع عن دليل. لانه إذا كان التصديق عن غير دليل لا يكون إيمانا
Makna keimanan adalah pembenaran yang bersifat pasti yang sesuai kenyataan (realitas) dan Berdasarkan dalil. Oleh Sebab itu apabila ada pembenaran (keyakinan) tanpa dalil Maka tidak ada keimanan terhadapnya [Asy Syakhsiyah Al islamiyah juz 1 Hal 30 Darul ummah 2003]

Sehingga meskipun pesatnya kemajuan teknologi dalam mengobservasi Maha karya ciptaanNya. Namun validasi Tauhid & keimanan seorang Muslim itu harus dibangun Berdasarkan dalil Aqli dan Naqli yang sesuai fitroh manusia, Masuk akal dan menentramkan jiwa. Bukan dengan metode ilmiah eksprimental melalui teori dan hipotesis sains semata yang terus terkoreksi & berkembang.
Sebab bila Satu teori dan hipotesis sains itu Salah maka kita juga harus merevisi keyakinan atau I'tiqod keimanan. Tentu ini mustahil.
Karena metode ilmiah terbatas hanya pada pengujian fenomena yang dapat diukur dan diamati. Namun, argumen-argumen seperti asal-usul alam semesta, fine-tuning, keteraturan alam, kesadaran, dan kompleksitas kehidupan dapat dijadikan sebagai informasi penunjang untuk mendukung eksistensi tuhan yang diingkari kaum mulhid (Ateis) melalui propaganda sainstisme yang Skeptis dengan membangun asumsi awalnya menafikkan atau menihilkan pernyataan & kebenaran Agama. Sementara kemampuan observasi dan ekprimental analisis yang akan menentukan nilai validasi kebenaran argumentasi hipotesisnya masih terus berkembang, terkoreksi dan berubah.

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ فَٱعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ

Demikian itulah Allah Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Ia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Ia; dan Dialah Pemelihara segala sesuatu (Qs al An'aam 6:102)

Kamis, 19 September 2024

Cara Shahih memahami Dalil

الدليل : هو مرشد الى المطلوب

Dalil adalah sesuatu yang menunjukkan kepada perkara yang dicari [Syarhul Waroqot fii ushulil fiqh hal 40 Maktabah Syafi'iyah 2023]

Fenomena diakhir zaman ini banyaknya orang yang beramal tanpa ilmu, sebagian lagi berilmu tanpa Amal, Namun yang paling memprihatinkan adalah tak berilmu dan tak beramal alias  Mager (Malas Gerak) & Makir (Malas Mikir)

لاحقّ إلا بالحجة لا حجة إلا بالدليل 

Tak ada kebenaran tanpa adanya hujjah (argumentasi syar'i). tak ada hujjah tanpa adanya dalil.

Tanpa dalil (petunjuk) kita akan kehilangan arah, terombang-ambing dalam ketidaktahuan dan melangkah dalam ketidakpastian. 

و الدليل لغة المرشد و إصطلاحا : ما يمكن التوصل بصحيح النظر فيه الى مطلوب خبريّ

Dalil secara harfiah berarti penunjuk sedangkan secara istilah berarti sesuatu yang bisa menghantarkan terhadap benarnya suatu pandangan (pendapat) didalamnya kepada tuntunan yang membenarkan 

الدليل العقلي هو ما ثبت عقلا و الدليلالنقلي هو ما ثبت بالقرآن، والسنة و الإجماع

Adapun dalil aqli ialah argumentasi yang penetapannya berdasarkan  Akal (rasionalitas) sedangkan dalil naqli merupakan dalil yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur'an,  As-sunnah dan ijmak [Tashilul wushul ila fahmi lubbil ushul 31-32 Al maktabah al anwariyah 2023]

islam itu agama ilmu

    Islam merupakan Agama yang tegak diatas ilmu. berislam tanpa ilmu membuat seorang hamba terjebak dalam perasaan dan prasangka serta membuatnya terpenjara dalam kebodohan (kejahilan). Padahal Allah SWT telah menuntun manusia dengan Al-Qur'an & As-sunnah sebagai petunjuk kehidupan manusia.

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ. الذي علّم بالقلم. علّم الإنسان ما لم يعلم

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha pemurah. Allah mengajarkan manusia dengan baca & tulis. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak mereka ketahui (Qs al 'Alaq 96 : 3-5)

Disinilah peranan Ushul fiqih sebagai manhaj syar'i Salafush sholeh dalam memahami Al-Qur'an & as sunnah serta menggali (istimbat) Aqidah dan hukum islam berupa I'tiqod, Fiqih dan ulumul Syariah lainnya. Dengan demikian Ushul fiqih merupakan Cara shahih memahami dalil secara syar'i. Tanpa Ushul fiqih seorang akan keliru, bahkan menyimpang (Tahrif) & Tersesat (Tadhlil) dalam menyimpulkan Nash-nash Syar'i Sebab ia akan memahami al-Qur'an dan Assunnah tanpa panduan dan tuntunan ilmiah yang mu'tamad.

Ushul tafsir

التأويل قسمان : صحيح مقبول و فاسد مردود

Ta'wil itu terbagi 2 (Dua) : Shohih yang diterima dan fasid yang tertolak [ Syarhu Al Ushul min ilmi Ushul Hal 281 Darul ibnu jauzi Mesir 2007]

Manhaj salaf dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabbihat ialah tafwidh yaitu menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah tabaraka wa ta'ala Namun sebagian ulama salaf lain menta'wilnya yakni memalingkan dari makna asalnya Berdasarkan Qorinah yang meliputinya Serta menjadikan ayat-ayat Muhkam sebagai induk dari ayat mutasybih.

Meskipun demikian terdapat perbedaan pengunaan ta'wil oleh segelintir ulama kholaf (generasi setelah salaf) seperti ibnu hazm & ibnu taimiyah yang menolak ta'wil sehingga bisa menjerumuskan kepada  tasybih, tajsim, tafdhil bahkan ta'til. Allah azza wa jalla berfirman :

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

Ar rohman itu istiwa' (bersemayam) diatas Arsy (Qs Thahaa 20:5) 

Lihatlah dampak anti ta'wil akan memaksa Allah harus bertempat ini adalah tajsim padahal kita sepakat Allah bilaa kaif yang tak serupa dengan makhluk-Nya. hanya sekte dzahiri mujasimah dan ibnu taimiyah serta para pengikutnya yang mengisbat atau menetapkan makna istiwa' ialah menetap dan bertempat dilangit. Sementara pada ayat lainnya Allah SWT juga berfirman :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qs Qaaf 50:16)

Bayangkan betapa berbahayanya bila ayat yang mulia ini dipahami hanya Secara mantuq (tekstual) semata tanpa menta'wilnya berdasarkan qowaid Syar'iah Maka akan ada milyaran Allah yang bersemayam dileher-leher makhluk-Nya naudzubillah min dzalik.

Maka ulama ahlus sunnah wal jamaah menetapkan bahwa :

الأولى: اعتقاد أن كل ما تصور في الأوهام فالله بخلافه

Pertama :  keyakinan bahwasanya setiap apa yang terbayang (terlintas) dalam sangkaan dan perasaan maka Allah berbeda darinya

والثانية: اعتقاد أن ذاته تعلى ليست مشبهة للذوات ولا معطلة عن صفات

Kedua : meyakini bahwa Dzat Allah Ta'ala tidaklah menyerupai segala dzat apapun dan tidak menafikkan sifat-sifat-Nya [Tuhfatul murid ala jauharit tauhid hal 58 Darussalam Mesir 2019]

Disinilah objektivitas kebenaran harus tetap berdiri diatas keadilan dalam menyikapi iktilaf (perbedaan) bukan berdiri diatas kepentingan tertentu yang dimanipulasi dengan klaim subjektif dengan "bersilat lidah" dan manisnya retorika serta sentimen sektoral, taqlid buta & fanatisme ashobiyah. Untuk Menjaga kemurnian dan keutuhan nushush Syar'iyah atau dalil Syar'i ulama menyusun panduan dalam memahami dalil-dalil melalui Ushul Fiqih contohnya :

فإن أمكن الجمع و الترجيحُ فالجمع أولى منه على كما تقدّم

jika memungkinkan untuk mengumpulkan (mengamalkan) dan mentarjih dalil-dalil. maka mengamalkan (al jam'u) semua dalil itu lebih utama darinya berdasarksan pertimbangan (ushul) yang paling shahih sebagaimana penjelasan yang telah terdahulu [Al badrut tholiq Syarhul jam'ul jawami' hal 366 Darul ibnul jauzi Mesir 2015]

Kesimpulan 

     Ushul fiqih merupakan Platform berpikir Tasyri'i. Dengan Ushul fiqih Nash-nash Syar'i akan dapat dipahami sesuai konteksnya, dalalah dan batasan-batasanya. Alhasil cara termudah bagi seorang Muslim yang awam dalam mengkaji al-Qur'an ialah mempelajari tafsir-tafsirnya begitu pula memahami hadist Nabi Saw melalui syarah-syarahnya. Sedangkan cara paling Selamat memahami syariah ialah melalui Kitab-kitab fiqih sembari terus meningkatkan Ulumul wasail (ilmu-ilmu alat) serta senantiasa memohon Taufiq Allah SWT untuk memiliki kebersihan hati (Shofi) dan kejernihan pikiran (Naqi) untuk kembali dan berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan as sunnah. Namun kita tak bisa memahami dalil-dalil Syar'i Serta mengistimbat hukum darinya kecuali dengan memahami Ushul fiqih.

إن فهم الحكم الشرعي متوقف على فهم الكتاب و السنة و أرشدا اليه من إجماع الصحابة و القياس الشرعي. لأنه الحكم الشرعي هو خطاب الشارع المتعلق بأفعال العباد

Sesungguhnya pemahaman dalil Syar'i bergantung atau bersandar atas pemahaman terhadap kitabNya & As sunnah serta apa yang ditunjuk olehnya Ijmak sahabat dan Qiyas Syar'iyah. karena hukum syara' adalah khitab As syari' (Allah & RasulNya) yang berkaitan dengan aktivitas perbuatan hamba [Al mukhtar fii ushulil fiqh hal 4 Daruts tsaqofah 2023]

و الله موافق الى أقوام الطريق

Rabu, 04 September 2024

Mengenal Sunnah

     Lafadz As-Sunnah merupakan isim musytarok yaitu satu kata yang memiliki banyak maknanya. Pengertian As-Sunnah dalam Islam memiliki beberapa perspektif tergantung pada bidang ilmu yang mendefinisikannya.


Definisi Sunnah 

Pertama: Perspektif Bahasa  

   As-sunnah secara harfiah (bahasa) berarti thoriqoh yakni "jalan" atau "cara". Ini merujuk pada cara seseorang dalam menjalani kehidupan yang tercermin pada perilaku atau kebiasaan baik lisan maupun perbuatannya.

Al allamah Qodhi Taqiyuddin an-nabhani Rahimahullah menjelaskan :

السنة في اللغة الطريقة. و أما في الشرع فقد تطلق على ما كان من العبادات نافلة منقولة عن النبي.  قد تطلق على ما صدر عن الرسول من قول أو فعل أو تقرير

As-sunnah secara bahasa berarti thoriqoh (jalan).  Adapun makna syar'i Sunnah terkadang menunjukkan pada ibadah-ibadah yang bersifat Nafilah (mandub) yang diambil dari nabi saw. juga dinyatakan atas apa yang bersumber dari Rasulullah saw baik perkataan, perbuatan maupun persetujuan & diamnya [Asy syakhshiyah alislamiyah juz 3 hal 73 Darul ummah Beirut 2005]

Kedua : Perspektif Syariah

Almuhadits wal mufasir Imam Asy syaukani rahimahullah didalam Ushul fiqihnya menjelaskan : 

و أما معناها شرعا : أي في اصطلاح أهل الشرع فهي:  قول النبي صلى الله عليه و آله وسلم و فعله و تقريره. تطلق بمعنى العام على الواجب و غيره في عرف أهل اللغة و الحديث. و أما في عرف أهل الفقه فإنما يطلقونها على ما ليس بواجب

Adapun makna As-sunnah secara Syar'i yaitu dalam istilah ahlul syara' ialah Perkataan Nabi saw, perbuatan dan persetujuannya (diam). Diungkapkan dengan makna umum bagi yang mewajibkannya Serta selainnya dalam urf ahli bahasa dan ahli hadits. Sedangkan dalam istilah ahli fiqih mereka menyatakan As-sunnah terhadap perkara yang bukan diwajibkan 

و تطلق على ما يقابل البدعة.  كقولهم فلان من أهل السنة 

Dinyatakan juga As-sunnah merupakan kebalikan dari Bid'ah. Seperti perkataan mereka fulan termasuk ahlus sunnah [Irsyadul fuhul juz 1 hal 159 DKI Beirut 1999]

As-sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW selain dari Al-Qur'an, baik perkataan (qawl), perbuatan (fi'il), maupun diamnya Nabi Saw yang merupakan persetujuan (taqrir) beliau. As Sunnah menjadi sumber hukum islam ( mashodirul ahkam ) kedua setelah Al-Qur'an.  Lalu Apakah, semua yang tidak pernah dilakukan nabi saw itu bukan Sunnah...? 

Jawabannya tentu tidak Sebab Sunnah Nabi saw tidak hanya sebatas pada apa yang diperbuat Nabi semata tapi juga meliputi, perkataan dan diamnya Rasulullah Saw 

Contohnya :  

   - Perkataan Rasul atau Sunnah qauliyah : Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam."  

   - Perbuatan Rasul atau Sunnah fi'liyah : Nabi SAW mencontohkan cara shalat, seperti gerakan shalat dan bacaan shalat.  

   - Persetujuan Rasul atau Sunnah taqririyah : Ketika beberapa sahabat melakukan sesuatu di hadapan Nabi dan beliau tidak melarang, maka itu dianggap sebagai sunnah yang diperbolehkan.

Ketiga : Perspektif Fiqih 

   والمندوب: يثاب فاعله امتثالا، ولا يعاقب تاركه. و يسمى سنة، و منسوبا، مستحبا و نفلا

Mandub adalah Aktivitas yang diberi pahala melaksanakan Dan tidak disanksi (berdosa) meninggalkannya. ia juga dinamakan Sunnah, mustahab & nafilah [Al Ushul min ilmi ushul hal 30 Darul ibnil jauzi Mesir 2007]

Dalam ushul fiqih hukum Syariah terdiri dari khitab taklifi dan khithob wadh'i. sunnah atau mandub merujuk pada perbuatan atau amalan yang jika dikerjakan mendapat pahala, namun jika ditinggalkan tidak berdosa. Pengertian Sunnah disini sering dipakai untuk mengidentifikasi hukum yang bersifat mustahab (dianjurkan) (disukai) atau tathowu' yang merupakan khithob taklifi atau status hukum dalam Syariah islam.

  Seperti :

   - Shalat sunnah Dhuha: Dikerjakan mendapat pahala, tetapi ditinggalkan tidak berdosa.  

   - Puasa Senin-Kamis: Sebuah ibadah yang sunnah untuk dilakukan sebagai bentuk keteladanan Nabi SAW.

Keempat : Perspektif Hadits

Dalam ilmu hadits, sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, termasuk perkataan, perbuatan, sikap, dan sifat fisik maupun non-fisik beliau. Sunnah dalam konteks ini berperan sebagai cara untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan dan kebijaksanaan Nabi.  

Imam ibnu qudamah Rahimahullah mentarjih 2 (dua) definisi terkuat sunnah yang bermakna mandub atau tathowu' :

المندوب هو مأمور لا يلحَق بتركه ذمّ من حيث تركه من غير حاجة الى بدل

Mandub (Sunnah) ialah sesuatu ibadah yang diperintahkan dimana tiada celaan dengan meninggalkannya serta tanpa dibutuhkan mengganti (Qodho) bila meninggalkannya.

[Kasyfus satir syarhu raudhotun nazhir hal 123 Muasasah ar risalah beirut 2018]

Diantaranya banyaknya riwayat hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW makan dengan tangan kanan dan menyukai makan kurma ajwa.

Kelima : Perspektif Tashawuf 

 وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ مَاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا۟ خَيْرًا ۗ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ ٱلْءَاخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ ٱلْمُتَّقِينَ

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu ?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat ihsan didunia ini akan mendapatkan (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (Qs An Nahl 16:30)

Allah SWT dan Rasulullah saw memerintahkan seorang muslim untuk bersikap ihsan. Tashowuf  atau Tazkiyatun nafs merupakan cara hidup ihsan atau thoriqoh (Sunnah) Nabi saw yang ideal bagi seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam ibadah dan muamalahnya secara ahsan dengan meniru perilaku dan akhlak Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan. Sunnah disini maksudnya ialah ittiba' (mengikuti) perilaku Nabi saw lahir & batin dalam aspek ibadah, moral (etika) dan muamalah dengan ihsan 

Misalnya Berakhlak mulia, rendah hati (tawadhu'), zuhud, waro' terhadap dunia dan ikhlas dengan segala ketetapan Allah azza wa jalla dalam setiap tindakan ucapan & perbuatan sebagaimana adab, sifat dan kepribadian Nabi Saw.

Lantas Benarkah sunnah itu hanyalah apa yang pernah diperbuat nabi saw saja...?

Al hafidz Imam As sakhowi rahimahullah mendefinisikan As sunnah adalah : 

السنن الضافة للنبي قولا له أو فعلا أو تقريرا

Sunnah (jamak dari kata sunnah) adalah penyandaran kepada Nabi saw berupa perkataan atau perbuatan atau diamnya Rasulullah saw [Fathul ghaits syarhul alfiatil hadits juz 1 hal 25 DKI Beirut 2009]

وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang bersikap ihsan (baik) diantaramu pahala yang besar (Qs Al Ahzab 33:29)

Keenam : Sunnah bermakna manhaj

Sunnah dalam Perspektif ushuluddin bermakna manhaj atau thoriqul dalam ber-Aqidah dan prinsip-prisip fundamental dalam berislam. Sunnah merupakan lawan dari pada Bid'ah. Wajib bagi setiap muslim meninggalkan bid'ah syaiah, munkaroh dan dholalah dengan senantiasa berpegang teguh kepada Syariah Islam dan Sunnah (manhaj) Nabi saw.

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka [Qs An Nisa 4 :80]