Minggu, 11 Agustus 2024

Meraih Syafa'at Al-Qur'an


وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

Dan Kami turunkan kepadamu AlKitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (Qs an Nahl 16:89)

Ibnu mas'ud ra menjelaskan sungguh Allah azza wa jalla  telah menerangkan kepada kita didalam Al-Qur'an semua ilmu dan segala sesuatu. Adapun Mujahid menyampaikan setiap halal dan haram. namun penjelasan ibnu mas'ud lebih umum dan lebih menyeluruh. sesungguhnya Al-Qur'an itu mencakup atas berbagai ilmu yang bermanfaat baik berupa berita masa lalu,  ilmu yang akan datang (masa depan), hukum berbagai halal haram dan apa saja yang dibutuhkan manusia dalam perkara dunia, Agama, kehidupan dan Akhirat [Tafsir Umdatut tafsir juz 2 hal 348 Darul wafa 2014 Mesir]

Al-Qur'an Petunjuk, Rahmat & Kabar gembira

من قال به صدق، ومن عمل أُجر، ومن حكم به عدل، ومن دعا إليه هدي إلى صراط مستقيم

Siapa yang berbicara berdasarkan al-Qur'an dia akan benar, siapa yang beramal dengannya akan diberi pahala, siapa yang berhukum dengan al-Qur'an Maka ia akan adil dan siapa yang menyeru (berdakwah) kepada Al-Qur'an akan diberi petunjuk ke jalan yang lurus (At tibyan fii 'ulumil Qu'ran hal 10 Darul mawahib 2016)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh (obat) bagi penyakit-penyakit  didalam dada-dada (hatimu) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (Qs Yunus 10:57)

Al-Qur'an adalah kalamullah. Ia akan menjadi petunjuk yang lurus, obat yang mujarab & solusi yang Adil dengan dipelajari dan dipahami (Tadabburi) yakni dihayati atau direnungi makna-maknanya. Ringkasnya al-Qur'an bukan sekedar bacaan dan hafalan semata tapi al-Qur'an adalah Obat hati dan Solusi kehidupan hakiki.

Sahabat beriman, jika Allah dan RasulNya wajib diikuti dan ditaati maka Al Qur'an wajib dibaca dan diamalkan sebagai tuntunan kehidupan yang Berkah juga sebagai kompas kehidupan didunia dan GPS perjalanan negeri Akhiratnya...

فإذا شرع في القراءة فليكن سأنه الخشوع و التدبر عند القراءة. فهو المقصود والمطلوب وبه تنشرح الصدور و تستنير القلوب 

Selanjutnya Seseorang yang akan memulai membaca al-Qur'an hendaknya ia menjadikan dirinya khusu' dan mentadaburi (merenunginya) saat membacanya. karena Tadabbur (perenungan) ialah tujuan yang dimaksud lagi dicari yang dengannya menjadi lapanglah dada dan bersinarnya hati.

أفلا يتدبرون القرآن...؟ 

Mengapa mereka (kalian) tidak mentadaburi Qur'an..? (Qs An nisa: 82)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَآ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka telah terkunci...? (Qs Muhammad 47:24)

Padahal keberkahan Al-Qur'an ada didalam mentadabburinya (menyelami maknanya) : 

كتاب أنزلناه إليك مبارك ليَدّبّروا ءاياته

Ini adalah Al-Qur'an yang kami turunkan kepadamu keberkahkan didalamnya agar mereka mentadabburinya (merenungi) ayat-ayatNya (Qs shad : 29) [At tibyan fi adabi hamlatil Qur'an hal 72-73 Darussalam Mesir 2018]

Namun Seorang hamba tidaklah Serta merta ia bisa memahami kandungan makna-makna al-Qur'an melainkan dibutuhkan keahlian didalam Ulumul lughoh, Ushul fiqih dan ulumul Qur'an.

Sehingga bila kita belum memiliki Ulumul wasail (ilmu-ilmu alat) yang memadai cara termudah mengkaji kandungan Al-Qur'an ialah melalui talaqqi bersama para ahli ilmu & Ulama Akhirat atau merujuk kepada Kitab-kitab Tafsir mu'tabar Sebab dengan bertalaqqi turots (literasi Islam) Kita akan memiliki sanad dalam ilmu dan amal Serta Selamat dari kejahilan dan kekeliruan (awham) sebagaimana ulama bersepakat :

ويحرم تفسيرُه بغير علم، والكلام في معانيه لمن ليس من أهلها

Haram menafsirkan Al-Qur'an tanpa ilmu dan mengungkapkan makna-maknanya bagi orang yang tidak memiliki keahlian didalamnya (At tibyan fii adabi hamalatil Qur'an hal 144 Darussalam Mesir 2018)

Investasi Akhirat   

Selain menjadi petunjuk kehidupan didunia, Al-Qur'an juga bisa menjadi tabungan Amal sholeh diakhirat Karena membacanya adalah ibadah dan berpahala. Apalagi  mempelajarinya kandungan maknanya lalu mengajarkanya kepada kaum Muslimin. Menyelami makna al-Qur'an mencari faidah yang terkandung didalamnya (Istifadah) lalu mengajarkannya Ta'lim wal ifadah Maka ia akan menjadi Amal jariyah yang terus mengalir...

Sebagaimana Nabi saw menjelaskan keutamaan belajar & mengajar Al-Qur'an:

خيركم من تعلم القرآن و عمله

Sebaik baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya (HR Bukhari)

Menjadi Penolong al-Qur'an 

Dari Abu Said radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:

من شَغَلَهُ الُقرُانُ عَن ذَكرِي وَمَسْئلَتيِ اَعطَيتُهُ اَفضَلَ مَا اُعطِي السْاَئِلينً

“Siapa yang disibukkan oleh Al Qur'an dari pada mengingat-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepada mereka sesuatu yang lebih utama dari apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepada-Ku” (HR At-Tirmidzi)

Semoga kita mendapatkan kemuliaan dan Syafa'at al-Qur'an dengan menyibukkan diri membaca, menghafal, mengkaji menjadi penjaga dan penolong Al-Qu'ran. Sebagaimana Allah SWT telah memuliakan generasi sahabat dan Salafush sholeh seperti Zaid bin tsabit dan para khulafaur rosyidin Radhiyallahu anhum sebagai penghafal, pencatat, pengumpul dan penyusun, pembela al-Qur'an. Lalu memeliharanya membaca dan mengamalkannya dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai tuntunan kehidupannya Serta menyebarkan & mendakwahkannya keseluruh penjuru dunia.

أشراف الأمتي حمَلةُ القرآن

Umatku (Nabi Saw) yang paling mulia adalah mereka yang mengemban Al-Qur'an (HR Tirmidzi) 

إقرأوا القرآن لانه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

Bacalah (Pelajarilah) al-Qur'an Karena nanti ia akan datang dihari kiamat sebagai Pemberi Syafa'at bagi pembacanya (HR Muslim)

Kamis, 01 Agustus 2024

Mengenal diri,...

Pintu taubat dan rahmat Allah SWT selalu terbuka bagi siapapun yang mau kembali mencari ampunan & kasih sayangNya Serta berusaha memperbaiki dirinya

Tafakkur (Renungan)

Manusia punya mata monyet punya mata, manusia punya telinga monyet punya telinga, manusia butuh makan monyetpun butuh makan. 

berarti apakah manusia sama dengan monyet...? tentu tidak .......

lalu apakah Sebenarnya yang membedakan manusia dengan monyet dan binatang lainnya...?

الحيوان النانق في تعريف الإنسان 

Definisi manusia adalah makhluk hidup yang berfikir [Idhohul mubham syarhu sulam munawaroq hal 16 Maktabah az zahra 2022]

Sahabat beriman, Allah SWT telah menganugerahkan manusia Hidayah kholqiyah berupa akal untuk berfikir & mengkaji Ayat-ayatNya dan Sunnah Nabi Saw sebagai tuntunan kehidupan dan bekal akhiratnya nanti. Sebab semuanya pasti akan berakhir mati & binasa tak ada yang tersisa kecuali iman & amal sholehnya yang akan menentukan masa depan Akhiratnya nanti. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman :

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan peliharalah dirimu dari waktu yang kalian semua akan dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap diri (an nafs) akan diberi balasan yang sempurna terhadap Amal apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak akan dirugikan (Qs al Baqarah 2:281) 

Hujjatul Islam Imam Al Ghazali Rahimahullah menukilkan penjelasan Empat macam keadaan manusia. Dimanakah posisi Kita...?

: قال خليل بن أحمد: الرجل أربعة 

Berkata imam kholil bin ahmad Rahimahullah menjelaskan bahwasanya ada 4 (Empat) tipe manusia  : 

1. رجل يدري ويدري أنه ىدري فذلك عالم فاتبعوه

Seseorang yang tahu bila dirinya tahu. sesungguhnya dia adalah orang yang 'alim maka ikutilah ia

2. رجل يدري و لا يدري أنه يدري فذلك نائم فأيقظوه

Seseorang yang tahu ('alim) tapi ia tidak menyadari bahwasanya ia Alim. maka bangunkanlah (sadarkanlah) ia

3. ورجل لا يدري و يدري وأنه لا يدري فذلك مسترشد فعلموه

Seseorang yang tidak tahu sementara ia menyadari ketidak tahuannya. ia adalah orang yang mencari bimbingan maka beritahulah (bimbinganlah) ia

4. ورجل لا يدري ولا يدري وأنه لا يدري فذلك جاهل فارفضوه

Seseorang yang tidak tahu sementara ia tidak menyadari (tak mau tahu) atas ketidaktahuannya. sesungguhnya ia adalah orang Bodoh maka abaikan (tinggalkanlah) ia [Ihya ulumiddin Hal 57 Darul alamiah 2014]

kenapa tipe orang yang ke-4 (empat) ini harus ditinggalkan...? 

ini sebagaimana yang telah Allah SWT jelaskan dalam firmanNya : 

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingkar (kafir) itu, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman (Qs al Baqarah 2:6)

Sahabat beriman, semoga Kita termasuk orang yang istiqomah menapaki jalan kebenaran meningkatkan keimanan dan Amal sholeh 

ثمرة هذ اليقين: صدق المقرابة في الحركات السكنات والخطرات و المبالغة في التقوى و الأختراز عن كل السيئات

Buah dari keyakinan yang benar ialah Benarnya muroqobah (merasa selalu diawasi Allah) dalam setiap gerakannya, diamnya serta dalam berbagai lintasan hati dan pikirannya serta terdepan didalam taqwa dan memelihara diri dari setiap keburukan [Ihya ulumiddin hal 65 Darul alamiah 2014]

Senin, 24 Juni 2024

Mengenal Aqidah Salafush sholeh

إن العقيدة هي أساس الدين

Sesungguhnya Aqidah Merupakan dasar didalam beragama [Syarah Aqidah thohawiyah Hal 12 Ibda' 2014 Mesir]

Sedangkan Tauhid adalah dasar keimanan yang menjadi pondasi keislaman. Adapun ketelitian & kehati-hatian merupakan kunci keselamatan dalam beraqidah dan beribadah.

Syaikh Sholeh bin fauzan Rahimahullah menjelaskan : 

والعقيدة عمل قلبي ، و هي إيمان القلب بالشيء و تصديقه به

Aqidah Merupakan Aktivitas (Amalan) Hati ia adalah keyakinan didalam Hati terhadap sesuatu dan membenarkan terhadapnya 

والعقيدة شرعا هي إيمان بالله وملائكته و كتبه و رسله و اليوم الآخر، و الإيمان بالقدر خير و شره،  وتسمى هذه أركان الإيمان

Aqidah secara syar'i ialah iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitabNya, para Rasul, hari Akhir dan beriman dengan Taqdir baik & burukNya. ia dinamakan juga Rukun iman (Aqidah Tauhid hal 9 Darul 'alamiah 2017)

Adapun Manhaj (Thoriqoh) Salaf dalam isbat Aqidah yang shahih dibangun berdasarkan dalil Aqli & Naqli dengan hujjah yang Qoth'i atau pasti.

Al allamah Imam Taqiyuddin annabhani Rahimahullah mendefinisikan :

العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله و ملائكته وكتبه و رسله و اليوم الآخر و بالقضاء و قدر خيرهما وشرّهما من الله تعالى. 

Aqidah islamiyah adalah iman terhadap Allah, Para malaikat,  kitab, Rasul, hari akhir, dan beriman terhadap Al Qodho wal Qodar baik dan buruk keduanya dari Allah Ta'ala.

 و معنى الإيمان هو تصديق الجازم المطابق للواقع عن دليل. لأنه إذا كان التصديق عن غير دليل لا يكون إيمانا

Sedangkan makna Iman ia adalah pembenaran secara pasti yang sesuai dengan fakta dan berdasarkan dalil. sebab Apabila ada Pembenaran atau keyakinan yang diperoleh tanpa dalil maka ia tidak bisa menjadi keimanan.

 وجود الدليل على كل ما يطلب الإيمان به حتى يكون الصديق به إيمانا. فوجود الدليل شرط أساسي في وجود الإيمان 

Keberadaan dalil atas setiap perkara yang menuntut keimanan terhadapnya sampai menjadikannya pembenaran atas sesuatu yang diimani. maka adanya dalil merupakan syarat mendasar bagi adanya keimanan [Asy Syakhsiyah Al islamiyah juz 1 Hal 30 Darul ummah 2003]

Dari sini keimanan tidak boleh disandarkan pada asumsi dan sangkaan (wahm) juga tidak boleh diserahkan pada perasaan manusia semata (wijdan) maupun ditetapkan Berdasarkan Premis-premis mantiq filsafat. namun i'tiqod (keyakinan) islam haruslah lahir dari dalil Aqli (Tafakkur) dan dalil Naqli (Tadabbur) melalui proses berpikir Tasyri'i tentang ayat-ayat Qauniyah secara logis & rasional dalam pembuktian keberadaan atau eksistensi Pencipta, Rasul dan Al Qur'an yang disebut tafakkur sebagaimana Nabiyullah Ibrahim alaihis Salam. serta mengkaji ayat-ayat Qauliyah atau Nash-nash syar'i yang terkandung didalam Al Qu'ran dan As sunnah yang disebut Tadabbur Berdasarkan Qowaid atau kaidah-kaidah Syar'iyah.

Meskipun demikian tak dapat dipungkiri adanya mazhab-mazhab didalam memahami furu' (cabang) Aqidah Sebab tidak semua kaum Muslimin mampu menjadi mujtahid untuk berijtihad langsung dari Al-Qur'an Al Kareem dan As Sunnah an nabawi. Seperti Sunni (Aswaja), Syiah, Mu'tazilah, Wahabi dll.

Namun saat ini sangat disayangkan  terdapat firqoh salafi wahabi yang sering kali menebar kebencian dan permusuhan melalui syubhat-syubhat Pemikirannya untuk menyerang dan memecah belah kaum Muslimin agar mengikuti ijtihad mazhabnya.

Allah azza wa jalla berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan Adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat pada ketaqwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs Al Ma'idah 5:8)

Misalnya tuduhan bahwasanya Asya'iroh menyimpulkan kalamullah itu makhluq. Padahal Al-Qur'an Merupakan kalamullah yang redaksi dan maknanya berasal dari Allah SWT. Adapun Taqsim (pembagian) kalamullah kepada lafdzi dan nafsi adalah bentuk ketelitian dan kehati-hatian ulama ushul ahlus Sunnah wal jama'ah sebagai Tafriq (perincian) dari imam Asy'ari didalam Al ibanah 'an ushulid diniyah agar kaum muslimin terhindar dari tadhlil (penyesatan) & takfir (mengkafirkan) ahlul iman atas fitnah khulqul Qur'an yang dilakukan mu'tazilah. Sebagaimana penjelasan Al arif billah An nawawi al bantani As syafi'i al asa'iroh rahimahullah :

أن تؤمن بكتبه معنى الإيمان بالكتاب التصديق بأنها كلام الله المنزل على رسله عليهم الصلاة و السلام

Engkau beriman terhadap kitab-kitabNya. makna iman terhadap kitabNya adalah membenarkan bahwasanya ia Merupakan Kalamullah yang diturunkan atas para RasulNya alaihim sholatu wa salam (Kasyifatus saja fii syarhi Safinatin najah hal 33 Darul 'alamiah 2018)

Begitu pula Sebagaimana yang dijelaskan Al imam al hafizh almuhaddits ibnu hajar al haitsami as syafi'i Rahimahullah didalam kitabnya fathul mubin : 

[وكتبه] بأنها تعالى كلام الله الأزلي القديم، القائم بذاته. المنزه عن الحرف  و الصوت، و بأنه تعالى أنزلها على بعض رسله بألفاظ حادثة في ألواح أو على لسان الملك وبأن كل ما تضمنته حق و صدق

Beriman terhadap kitab-kitabNya. bahwasanya kitab-kitabNya itu merupakan Kalamullah yang azali lagi qodim yang berdiri sendiri dan disucikan dari huruf dan suara yang baharu (huduts). dimana Allah menurunkan Kalamullah pada sebagian Rasul-RasulNya dengan lafadz yang beragam yang baharu (hadits) dalam ketetapannya atau melalui lisan malaikat bahwa segala sesuatu yang terkandung didalamnya adalah kebenaran lagi terpercaya (Majmu syuruh arba'in hal 146 Markaz ibnu jauzi 2022)

Namun berbeda dengan taqsim Trinitas Aqidah wahabi yang Merupakan bid'ah tauhid yang tak pernah dilakukan Nabi Saw dan para sahabat radhiyallahu anhum serta menyelisihi salafush sholeh yang dapat mengeluarkan kaum muslimin dari keimanannya jika tidak disikapi dengan teliti, adil dan penuh kehati-hatian. wa naudzubillah

Al allamah Al muhaddits Sayid Alwi al maliki al hasani mengingatkan : 

لا يجوز التكفير بارتكاب المعاصي مع الإيمان و الإقرار بالشهادتين

Tidak boleh mengkafirkan (Takfir) Pelaku maksiat yang masih beriman dan menetapkan syahadat didalam dirinya. 

dari Anas Ra Nabi Saw bersabda : 

ثلاث من أصل الإيمان : الكفّ عمَن قال: لا إله إلا اللّٰه؛ لا نُكفّره بذنب ولا نخرجه عن الإسلام بالعمل

Tiga pilar keimanan : menahan diri dari mengkafirkan (takfiir) orang yang mengimani kalimat tauhid Laa ilaha illa Allah karena dosanya dan tidak boleh kita mengeluarkan orang dari islam karena amalnya

لذلك نُحذّر كلَ التحذير من المجازفة بالتكفير

Oleh karena itu kita harus benar-benar Mewaspadai dengan penuh kehati-hatian dari setiap bahaya Takfiri atau mengkafirkan (kaum Muslimin) (Mafahim yajibu an tushoha 82-83 t.t Haiah shofwah al malikiyah)

Aqidah Salafush sholeh bukanlah Doktrin Bid'ah Tauhid trinitas 

Sebenarnya bila mau jujur akan Kita temukan kepalsuan klaim dusta doktrin Aqidah trinitas wahabi ini yang dinisbatkan kepada salafush sholeh. Karena Doktrin Bid'ah ini baru disusun dan dikembangkan oleh Syaikh Muhammad bin abdul wahab at tamimi Wafat 1792. Doktrin ini sama sekali tidak ada dalil-dalil Syar'i yang membagi-bagi Tauhid juga tak pernah diajarkan Nabi Saw dan dicontohkan para sahabat Radhiyallahu anhum. Namun Sayangnya doktrin Aqidah trinitas ini justru dijadikan senjata untuk "membegal" Aswaja dan menyerang umat islam dengan memaksakan syubhat-syubhat asumsi (auham)  pemikirannya.

Allahu al muwafiq, inilah akibat klaim kebenaran tanpa kejujuran, kehati-hatian dan keadilan sehingga menjerumuskan pengikutnya pada fanatik buta dalam bertaqlid. padahal ibnu taimiyah Wafat 1328 M dan Syaikh M abdul wahab 1792 M itu adalah ulama kholaf bukanlah ulama salafush sholeh.

Khotimah, kita memang harus memurnikan Aqidah dan ibadah dengan teliti dan selektif namun kita juga harus bersikap Hati - Hati, adil dan bijaksana tidak boleh membabi buta "memerangi" saudara muslim kita yang berbeda pandangan dalam perkara ikhtilaf atau khilafiyah ijtihad meskipun kita juga  harus berlepas diri dalam setiap penyimpangan (inhirof). Waallahu a'lam

Mewaspadai doktrin Neo khowarij :

1. Selalu merasa paling Benar dan mengaku paling salaf tapi meninggalkan Qowaid syar'iyah dan Ushul fiqih dalam memahami Al Qu'ran dan As sunnah

2. Ceroboh & Gampang menyalahkan dengan menjadikan doktrin Aqidahnya sebagai "senjata" untuk menyesatkan (Tadhlil) dan mengkafirkan (Takfiri) saudaranya seiman yang berbeda pandangan dengannya 

3. Rajin membid'ahkan amaliyahnya saudaranya dengan syubhat-syubhat Pemikirannya

4. Gemar menuduh ahli Bid'ah dan ahli syubhat dengan siapapun yang berbeda ijtihad dengan firqoh (kelompok)nya

5. Mengaku Manhaj salafush sholeh tapi meninggalkan Ushuluddin dan Ushul fiqih salafush sholeh dengan membuat mazhab  Aqidah baru 

6. Membegal Aqidah salafush sholeh kepada ulama kholaf ibnul taimiyah dan Muhammad bin Abdul wahab dengan Bid'ah Tauhid trinitas

7. Eklusif, Anti perbedaan dan anti ta'wil dalam Memahami dalil-dalil Syar'i serta tidak mau berlaku Adil dan Tasamuh (berlapang Hati ) dalam menyikapi perbedaan (ikhtilaf)

8. Membegal Islam wa bil khusus Manhaj ahlus Sunnah wal jama'ah (ASWAJA) melalui propaganda kajian Sunnah dan konten dakwahnya dengan Tahrif (penyelewengan) Ushuluddin melalui ta'liqot (komentar Syarah & hasyiah kitab) serta "membelokkan" kandungan isi dan pandangan kitab-kitab mu'tabar melalui syuruh & taqrirot kutub Turost muktabaroh yang menjadi literasi Islam

9. Fokus menyerang amaliyahnya umat Islam secara keji, tak bermoral dan tak beradab tapi bisu, buta & tuli bahkan membiarkan perampasan masjidil Aqsho dan pembantaian (genosida) Z!onis laknatullah terhadap saudaranya diPalestina

10. Memahami al-Qur'an & Assunnah secara tekstual (mantuq) dan menggali hukum Syara' tanpa Ushul fiqh

11.  Mengaku (mengklaim) ahlus Sunnah wal jamaah tapi manhaj Aqidahnya zhahiriyah dan mujassimah yang tasybih & tafdhil dalam beristidlal.

Rasulullah ﷺ bersabda : 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

 "Seorang muslim itu adalah jika manusia lainnya selamat dari kejahatan lisan dan tangannya, adapun muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang-orang yang menjauhi apa yang Allah larang." (HR Imam Ahmad)

Selasa, 11 Juni 2024

kesurupan dalam islam

Tragedi Vina hanyalah potongan kecil potret Suram, Rusaknya pergaulan Remaja saat ini. Dimana para remaja hari ini mereka tumbuh dan berkembang jauh dari tuntutan Syariat sehingga terjadilah krisis etika, moral & kehilangan kendali dirinya.

kesurupan atau kerasukan 

Apakah kerasukan (kesurupan) itu nyata..?

atau halusinasi, skizofrenia (gangguan mental berat), epilepsi atau hanya ilusi pikiran belaka...

fenomena kesurupan (talabus) didalam Islam merupakan kondisi dimana manusia mengalami gangguan syaithan baik berupa bisikan hingga kerasukan (takhabbutu). ini sebagaimana yang Allah SWT terangkan didalam Al Qu'ran :

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ

Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan (yatakhabbathu) syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. (Qs al Baqarah 2:275)

Nabi Saw juga menjelaskan :

إنّ ااشيطان يجري من آدم مجرى الدمّ

Sesungguhnya syaithan merasuk didalam diri anak adam melalui aliran darahnya (HR Bukhori & Muslim) 

Berdasarkan Ayat dan hadits mulia diatas dapat Kita pahami bahwasanya syaithan dapat merasuk kedalam tubuh manusia (lihat Ruqyah Jin, sihir & terapinya Hal 85 Syaikh Wahid Abdussalam Ummul Qura)

Meskipun demikian tidak Setiap orang yang terlihat kerasukan (talabus) itu benar kesurupan. bisa jadi ia sedang mengalami depresi, stress atau frustasi berat (Skizofrenia) atau mengidap penyakit medis tertentu seperti Ayan atau epilepsi.

Ruh mayit tinggal dialam Barzakh

Jadi, Benarkah Linda kerasukan Roh vina ...?

Arwah Merupakan bentuk jamak dari kata Ruh yang berarti sirrul hayah (Nyawa atau Rahasia kehidupan) dimana manusia sangatlah terbatas pengetahuannya tentang Ruh tersebut.

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".( Qs Al Israa' 17:85 ) 

Syaidina Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « إن القبر أول منازل الآخرة فمن نجا منه فما بعده أيسر منه ، ومن لم ينج منه فما بعده أشد منه »

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat (HR Imam At tirmidzi) 

Alam kubur (Barzakh) adalah fase pemisah antara Alam dunia menuju Alam akhirat. Arwah Orang meninggal tetap berada disana sampai datangnya Hari kiamat. Adapun yang bergentayangan menyerupai seseorang mayit ialah Jin Qorinnya atau syaithan yang menjelma seperti orang tertentu tetapi bukan Ruh orang tersebut. Dari Abu hurairoh ra Rasulullah Saw bersabda :

...Tidak ada mayat (Roh) gentayangan menjadi hantu kuburan...(HR Muslim)

Syaithan dan jin Qorin

Allah azza wa jalla berfirman :

وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ

Dan Allah menciptakan jin dari nyala api (Qs Ar Rahmaan 55:15)

Jin merupakan salah satu makhluk Allah SWT yang diciptakan dari api. Sedangkan Syaithan merupakan laqob (gelar) bagi makhluk Allah yang ingkar baik dari bangsa jin maupun manusia yang menjauhkan dari kebenaran. Sebagaimana telah Allah SWT ingatkan didalam Al Qur'anul Kareem:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari kalangan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (Qs Al An'aam 6:112)

Dengan demikian bisikan dan perkataan syaithan itu tidak bisa dijadikan standar kebenaran Karena tabiat dasarnya syaithan adalah penipu lagi pendusta.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (petunjuk) Tuhannya Yang Maha Rahman, maka kami uji baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi Qorin (teman) yang selalu menyertainya (Qs Az Zukhruf 43:36)

Mengisi waktu dengan ilmu dan amal sholeh

Terjadinya berbagai kemaksiatan, tindak kejahatan dan pembunuhan disebabkan lemahnya keimanan sehingga mudah terperdaya bujuk rayu Syaithan baik Dari kalangan Jin maupun sesama manusia yang menjauhkan dari ketaatan kepada Allah SWT. Maka cara menghindarinya ialah dengan membekali diri dengan giat mengikuti majelis-majelis ilmu & zikir. Karena ilmu akan menguatkan keimanan sedangkan zikir akan membentengi Hati & pikiran dari bisikan, tipu daya dan jebakan Syaithan.

Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala menutup Surat terakhir didalam AlQur'anNya dengan sebuah peringatan (tanbih) kepada manusia agar berhati-hati dari bisikan Syaithan baik kalangan Jin maupun Syaithan dari kalangan manusia. 

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ

Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada (hati) manusia. dari kalangan jin dan manusia (Qs An-Nas 114:5-6)

وعليك يا أخي بمراقبة الله تعالى في حركاتك و سكناتك و لحظانك و طرفاتك و خطرانك و اراداتك و سائر حالاتك و استشعر قربه منك. 

hendaklah engkau saudaraku merasa diawasi Allah (Muroqobah) baik dalam gerakmu, diammu, pandanganmu, kedipan serta lintasan hati dan pikiranmu, keinginan serta seluruh keadaanmu. Merasalah Allah dekat bersamamu. 

واعلم إنه ناظر إليك و مطلع عليك لا يخفي عليه منك خافية

Sadarilah, bahwasanya Allah selalu memandangmu dan mengamatimu tak ada apapun darimu yang luput dan tersembunyi padanya ( Risalah muawanah wal muzhahirati wal muwazaroti hal 5)

Sabtu, 01 Juni 2024

Menjemput Hidayah

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu

بإتمام الهداية و التوفيق بإتمام سببهما

yakni dengan menyempurnakan hidayah dan Taufiq-Nya dengan menyempurnakan sebab-sebab untuk meraihnya [Tafsir Ruhul ma'ani juz 3/328 Qs Al Ma'idah 5:3 Darul hadits Mesir]

Lafadz hudan atau hidayah berasal dari akar kata hada yahdi hidayatan yang berarti ar rosyad yakni tuntunan atau bimbingan.

الهداية شرعا هي الإهتداء الى الإسلام و الإيمان به

Hidayah secara syar'i artinya tertunjukinya seseorang kepada islam dan ia beriman terhadapnya [Asy Syakhshiyah al islamiyah juz 1 hal 97 Darul ummah 2003]

Dengan demikian hidayah merupakan Petunjuk yang dicari, dipelajari dan dikaji yakni petunjuk yang diupayakan untuk mendapatkannya tetapi ia juga merupakan mawahib (Anugerah) yang Allah SWT berikan kepada siapa saja yang selalu berusaha bersungguh-sungguh mencarinya.

Allah azza wa jalla berfirman :

مَّنِ ٱهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah, maka sesungguhnya ia berbuat untuk  dirinya sendiri. dan barangsiapa yang tersesat maka sesungguhnya kesesatannya itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul (Qs al Israa' 17:15) 

Jenis- jenis hidayah 

" Kilauan mutiara hidayah akan terus terkubur, terpendam dalam lautan angan-angan dan kemalasan belajar & berfikir " 

1. Hidayah kholqiyah

Akal & Hati merupakan hidayah penciptaan yaitu alhidayah alkholqiyah, maka siapapun yang berakal dan memiliki perasaan hati (wijdan) Sesungguhnya ia telah memiliki hidayah.

Sahabat beriman, Rasa keingintahuan adalah jalan utama menjemput hidayah (bidayatul hidayah). Sedangkan berfikir mendalam dengan Tafakkur yaitu mengkaji Ayat-ayat kauniyah dan Tadabburi yakni mengkaji Ayat-ayat Qauliyah merupakan sarana seorang hamba mengenal akan hakikat dirinya, Tuhannya serta tujuan kehidupannya. Berfikir islami (Tasyri'i) menjadi jalan membangun kesadaran diri agar senantiasa istiqomah menyiapkan masa depan akhiratnya yang kekal abadi.

kesadaran diri adalah kunci Perubahan, siapapun yang ingin berubah maka ia harus merubah mindset pikirannya untuk membentuk kesadaran diri agar sesuai dengan tuntunan dan tujuan kehidupannya yakni islam. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

وَٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ زَادَهُمْ هُدًى وَءَاتَىٰهُمْ تَقْوَىٰهُمْ

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk (Hidayah), Maka Allah akan menambahkan petunjuk itu kepada mereka dan memberikan balasan atas ketakwaannya. (Qs Muhammad 47:17) 

2. Hidayah Irsad wal bayan

Islam datang merubah cara pandang merubah kejahilan (kebodohan) menuju jalan kebenaran, keselamatan dan kebahagiaan. Allah subhanahu wa ta'ala telah menjelaskan petunjuk-Nya berupa hidayah Al irsyad wal bayan yakni Al-Qur'an & As Sunnah.

Maka Bagi seorang hamba yang ingin mendapatkan Petunjuk-Nya (hidayah). Hendaknya ia senantiasa belajar dan mengkaji hidayah al irsyad (tuntunan) wal bayan (Penjelasan) berupa Al Qur'an, As sunnah, Ijmak sahabat dan Qiyas syar'iyah yang terhimpun didalam ulumul syar'i yaitu ilmu Aqidah (Tauhid) dan ilmu-ilmu Syariah (fiqih & Tashawuf).

Dengan demikian seorang muslim haruslah senantiasa bertafakur dan tadabur untuk mempergunakan hidayah kholqiyah (akal & hatinya) dengan berfikir, merasakan dan memahami hidayah irsyad wal bayan yang telah Allah azza wa jalla turunkan sebagai petunjuk dan solusi kehidupannya.

لَقَدْ أَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ كِتَٰبًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Sungguh kami benar-benar telah menurunkan AlQur'an  yang didalamnya berisi petunjuk bagi kalian. Mengapa kalian tidak Memahaminya..? (Qs Al Anbiyaa' 21:10)

3. Hidayah Taufiq wal inayah

Imam khatib Asy Syarbini Rahimahullah mendefinisikan :

التوفيق : الذي هو  خلق قدرة الطاعة في العبد

Taufiq adalah kemampuan berbuat taat yang Allah ciptakan bagi hambaNya (Al Iqna  syarhu taqrib hal 28 Darul hadits Mesir)

Allah Ta'ala telah memberi Kita kemampuan Akal dan Hati nurani untuk berfikir Dan merasakan, menimbang dan memutuskan memilih jalan ketaatan atau kefasikan sebagaimana firmanNya :

وَهَدَيْنَٰهُ ٱلنَّجْدَيْنِ

Dan kami telah menunjukkan Dua jalan (Qs al Balad 90:10) 

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا

Maka kami menunjukkan pada manusia jalan keburukan dan ketaqwaan (Qs Asy Syams 91:8) 

Oleh Karena itu, manusia sendirilah yang menentukan Pilihan hidupnya. Jadi Solusinya manusia harus selalu meningkatkan hubungannya kepada Allah SWT yang disebut  Idrak silah billah. Sebab seberapa kuat konektivitas sinyal keimanan seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dari seberapa luas pengetahuan dan pemahamannya terhadap hidayah irsyad wal bayan juga tergantung seberapa dalam & kokoh kebenaran Islam menghujam (tertanam) didalam benaknya serta terpatri direlung jiwanya yang menjadi pondasi keimanan yang akan menjadi energi ketaatannya dalam beribadah kepada Allah SWT serta terikat pada Sunnah NabiNya SAW.


Imam ibnul Qoyim Al jauziyah mengingatkan :

تعمي بصيرة القلب، تطمس نوره و تسدّ طرق العلم و تحجب 
موادّ الهداية
Butanya mata Hati akan memadamkan cahaya hidayah, menutupi jalan-jalan ilmu Serta menghalangi Cahaya hidayah 
[Ad da' wad dawa' hal 70 dar 'alamiah]

Khotimah
Tanpa petunjuk kita akan kehilangan arah, terombang-ambing dalam ketidaktahuan dan ketidakpastian. oleh Karena itu, untuk mendapatkan hidayah Taufiq wal inayah hendaknya kita senantiasa meluruskan niat, menjernihkan pikiran, membersihkan hati Serta senantiasa mengharapkan bimbingan dan pertolongan Allah SWT dalam mengkaji, mempelajari dan Memahami al-Qur'an dan As sunnah.
 
Nabi Saw mengajarkan kita berdoa :
اللهم إني أسألك الهدى و التقى و العفاف و الغنى
Yaa Allah,...
Sesungguhnya aku memohon hidayah TaufiqMu, ketaqwaan, kebersihan jiwa dan kekayaan hati (HR Muslim)

Rabu, 22 Mei 2024

Antara Usaha dan malas

    Setiap muslim wajib Beriman kepada qadha & qodar serta taqdir baik dan buruk dari Allah SWT meliputi ilmu, qudrah, irodah,  lauhul mahfudz serta hakikat penciptaan perbuatan hamba. Namun dalam perkara ghaib seorang Muslim Wajib bergantung dan bersandar (tawaquf) kepada dalil dalam memahami perkara mughayyabah (ghaib) tersebut.

Hakikat dari Qodho & Qodar Allahlah yang menciptakan segala sesuatu lagi maha kuasa atasnya dengan qudrah (kekuasaan) dan irodah (kehendak)Nya

الله خالق كل شيء (Qs Az zumar 32:62)

Tapi, Sayangnya istilah Taqdir dan qodarullah ini seringkali dijadikan "Tameng" alasan dibalik kemalasan, kesalahan, kegagalan oleh para pemalas & orang yang lalai sebagai pembenaran perbuatannya.

Disinilah fokus kajian kita, Apakah manusia itu bisa berbuat atas kehendaknya sendiri atau kehendak Allah semata tanpa pilihan....? 

Apakah Bebas memilih atau dipaksa...?

1. Jabbariyah Allah Pencipta perbuatan dan iradah manusia. Sehingga Ia dipaksa berbuat tanpa ada pilihan

2. Mu'tazillah manusia yang menciptakan perbuatannya sendiri dan bebas memilih

3. Ahlus sunnah Allah yang menciptakan perbuatan manusia. Namun manusia sendiri yang memilih untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan berdasarkan kasb ikhtiarinya. Sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman :

والله خلقكم وما تعملون 

Allah menciptakan kalian dan Apa yang kalian perbuat (kerjakan) (Qs ash shaffaat 37:96)

Tapi Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman bahwasanya :

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka sendirilah yang merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Allah (Qs Ar Ra'd 13:11)  

Natijah atau kesimpulannya bahwasanya Allah SWT adalah dzat yang maha adil lagi maha bijaksana yang dengan kasih sayangNya  Dia menciptakan manusia dalam 2 keadaan adakalanya mukhayar (bebas) Dan adakalanya musayyar (dipaksa) atas apa yang ia alami dan jalankan.

1. Mukhayyar : manusia bisa memilih untuk mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan  dan akan dihisab berdasarkan pilihannya 

2. Musyayyar :  manusia hanya bisa menerima apa yang ia alami dan jalani tanpa bisa memilih dan ia tidak dihisab

قد جعل الله لكل شيء قدرا (Qs Ath Tholaq 65:3)

Sebenarnya Allah SWT telah menganugerahkan manusia akal (Rasio), Hati (Rasa), Pilihan (Qudroh) dan keinginan diri (irodah) untuk ia memilih mengerjakan atau meninggalkan suatu Perbuatan sesuai Syariat atau melanggarnya. Jadi ringkasnya :

1. Pembahasan taqdir Merupakan dimensi ruang (mahal) Aqidah atau keyakinan.

2. Sedangkan Aktivitas perbuatan manusia berupa Pilihan-pilihannya dalam melakukan atau meninggalkan sebuah perbuatan Merupakan ruang amal apakah memilih taat syariah atau sebaliknya.

3. Adapun Polemik mutakalimin (ahli Kalam) terjadi akibat mencampurkan adukkan ruang keyakinan (Aqidah) dan ruang amal (syariat) yang terkontaminasi dari filsafat epicurisme & riwaqqisme. Sehingga mereka terjebak dalam membangun  argumentasi keimanan & perbuatan terhadap perkara mughoyyabah (ghaib) dan Amal berdasarkan premis dan hipotesis mantiq dan filsafat. 

Padahal Allah ta'ala telah memerintahkan manusia untuk berusaha  beramal sesuai SyariatNya bukan berdiam diri dan "Pasrah" tanpa usaha sebab kita tidak tahu masa depan dari taqdir kehidupan diri sendiri. tapi kita bisa mencurahkan hati, pikiran, harta, tenaga waktu segenap daya dan upaya untuk mempersiapkan masa depan akhirat yang kita harapkan  dengan seluruh potensi diri :

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ 

Dan Apa yang diperintahkan Rasul padamu Maka kerjakanlah Dan Apa yang dilarang bagimu Maka jauhilah. Bertaqwalah kalian kepada Allah. sesungguhnya siksaan Allah amatlah pedih (Qs al Hasyr 59:7) 

Oleh Karena itu, Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik bagi hambaNya. Sehingga kewajiban kita sebagai hamba terikat dengan perintah dan laranganNya dalam memilih dan menjalani kehidupan ini dengan berusaha (berikhtiar) dalam ketaatan bukan berdiam diri dalam kemalasan ✅

Sebagaimana Allah memerintahkan Kita untuk memiliki tekad yang kuat (Azam) lalu bertawakkal kepadaNya :

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

apabila kamu telah berazam. maka bertawakallah sesungguhnya Allah mencintai Orang-orang yang bertawakal (Qs ali Imran 3:159)

Dengan demikian Azam atau tekad yang kuat meniscayakan amal. maka  Tawakal yang benar itu akan mendorong pelakunya menyempurnakan ikhtiar jawarih (sunatullah) dan ikhtiar langit doa dan Qona'ah bersandar hanya kepada Allah SWT semata bukan kepada sebab. Tapi disaat yang sama ia juga menyadari bahwasanya Allah Ta'ala memerintahkannya untuk senantiasa berusaha. 

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya manusia itu tidaklah memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (Qs an Najm 53:39)

sehingga keyakinan dan tawakalnya tidak menafikkan (menolak) usaha dan kausalitas (sebab akibat) tapi  justru akan berupaya menyempurnakan kasab ikhtiari untuk meraih tujuannya. Sehingga seorang Muslim boleh salah, gagal,  kalah, bersedih tapi ia  tidak boleh menyerah Karena setiap usahanya dalam mencurahkan hati pikiran,  harta, tenaga waktu serta segenap daya dan upaya itu bernilai disisi Allah SWT :

فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَٰهُمْ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari kiamat yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada diri (an nafs) balasan apa yang diusahakannya (kasb) sedang mereka tidak akan dianiaya (dirugikan) sedikitpun (Qs Ali Imran 3:25)

Sabtu, 18 Mei 2024

Fiqih Cara praktis mengamalkan Syariah

      Setiap muslim diperintahkan untuk terikat & taat pada Syariah-Nya yaitu mengamalkan berbagai perintah dan menjauhkan semua larangan inilah hakikat taqwa yakni berislam Secara Kaffah :

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِى مَآ ءَاتَىٰكُمْ ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ ۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab terdahulu sekaligus batu ujian terhadap kitab-kitab itu. maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu (Qs al Ma'idah 5:48)

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Telah aku tinggalkan padamu dua perkara. Kalian tidak akan pernah tersesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ( HR. Malik, al-Hakim, al-Baihaqi)

1. Mengenal hukum Syara'

Sumber hukum islam ialah kitabullah dan sunnah Nabawiyah, ijma' sahabat dan Qiyas syar'iyah. dimana Setiap Muslim wajib beramal dengannya. Syariat islam atau hukum syara' mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia mulai dari individu, masyarakat,  negara,  baik ibadah, muamalat hingga uqubat (sanksi hukum) baik lahir maupun batin. Namun dengan berbagai kompleksitas kesempurnaan mashodirul ahkam (sumber hukum) Islam dibutuhkan mujtahid ( ulama yang mampu berijtihad) untuk bisa menggali (istinbat) hukum syara' tersebut  sehingga kaum Muslimin yang tidak memiliki kemampuan berijtihad diwajibkan mengikuti atau bertaqlid dari hukum syara' yang diistinbat oleh seorang mujtahid.

Al allamah al mujaddid Taqiyuddin annabhani Rahimahullah menjelaskan bolehnya bertaqlid (bermazhab) bagi seorang muqolid (orang awam): 

أما التقليد في الأحكام الشرعية  فجائز شرعا لكل مسلم. قال تعالى 

Adapun taqlid dalam hukum-hukum Syariah maka dia adalah boleh secara Syar'i bagi setiap muslim.  sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : 

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui (Qs an Nahl 16:43)

( Asy Syakhshiyah al islamiyah juz I hal 217 )

2. Mengenal ushul fiqh 

Memahami dan mengamalkan hukum syara' atau Syariah dibutuhkan penguasaan ulumul maqosid dan ulumul wasail serta metodologi istinbat tertentu untuk berijtihad menghasilkan Produk hukum syara' yakni fiqih islam.

Pertanyaannya kenapa kita tidak langsung saja merujuk Al-Qur'an dan as sunnah...? 

jawaban mendasarnya ialah lemahnya Penguasaan ulumul lughah dan Qawaid syar'iyah mayoritas kaum muslimin sebagai syarat utama memahami dalil-dalil Syariah.

إن دين الله لا يفهم بغير لغته كما أن استنباط أحكام جديدة للوقائع متجددة عن طريق الإجتهاد لا يتأتى بدون اللغة العربية 

Sesungguhnya Agama Allah SWT tidak dapat dipahami dengan selain bahasanya (Arab), sebagaimana bahwasanya instinbat hukum-hukum baru dari berbagai realitas dan fakta yang terus berkembang melalui jalan  ijtihad yang tidak akan bisa tanpa bahasa arab ( Ta'rif hizb at-tahrir hal 11)

Padahal Proses ijtihad tidaklah sekedar pemahaman terhadap lafadz dan makna nash atau dalil tapi juga bagaimana mendudukkan berbagai nash dalam suatu topik (quwwatud dalil) baik dari aspek Tsubut dan dilalahnya, Qoth'i dan zhanninya disatu sisi serta ragam ikhtilaf ushul, Qowaid kulliyah dan wajhul istidlal yang meliputinya.

Disinilah syarat berijtihad itu membutuhkan penguasaan berbagai funun islam terutama ushuluddin dan ushul fiqh.

Al Qodhi Taqiyuddin an nabhani Rahimahullah mendefinisikan ushul fiqh   : 

فأصول الفقه هي القواعد التي يبتنى عليها الفقه

Ushul fiqh adalah kaidah-kaidah Syar'i yang dibangun diatasnya fiqih

(Asy Syakhshiyah al islamiyah juz III hal 12)

Setelah mendeskripsikan fakta secara lengkap Maka perlu dilakukan tahqiqul manath agar dapat memahami fakta dengan benar. Selanjutnya dilakukan Pengkajian dalil-dalil syar'i untuk mendapatkan hukum syara' yang paling tepat & benar terhadapnya

1. Pahmun nushus

Pemahaman terhadap ragam ma'ani dari aspek haqiqoh, kinayah dan majaz dengan berbagai alaqohnya serta derivasi (istiqo') lafadz. Begitu juga kedudukan antar lafadz seperti : Amm khosh, mutlak muqoyad, mujmal mubayyan, muhkam, mutasyabih, Nashikh, nasakh, manskhuh, riwayat Dan diroyahnya serta illat yang terkandung didalamnya. 

juga korelasi antar lafadz dalam tarkib dan jumal dari aspek qowaid nahwiyah, balaghah serta korelasi antar dalil dari sisi otoritatifnya dalam wajhul istidlal istimbat.

2. Khitob taklifi

Status hukum atas suatu benda atau perbuatan dalam islam seperti :  halal, haram, wajib, sunnah, mubah (jaiz) dan makruh ini merupakan khitob taklifi atau disebut juga ahkamul khomsah yang menjadi standar amal setiap muslim (miqyasul amal)

3. Khitob wadh'i 

Ringkasnya Tata cara pelaksanaan hukum syara' diatur dalam khitob wadh'i yang berfungsi sebagai mekanisme terlaksana (berlaku) atau tidaknya suatu hukum syara'.

Mekanisme (kaifiyah) penerapan khitob taklifi : Sah, batal, fasid, mani', 'azhimah, sabab, rukshoh, illat dan seterusnya.

Disinilah Al allamah Taqiyuddin Annabhani Rahimahullah menjelaskan penting dan wajibnya belajar Fiqih (Dirosatul fiqih) untuk memahami dan mengamalkan Syariah : 

معرفة الأحكم الشرعية التي تلزم المسلم في حياته فرض عين على كل مسلم، لأنه بأن يقوم بأعماله حسب أحكام الشرع

Mengetahui hukum-hukum syariah yang dibutuhkan dalam kehidupan seorang muslim ialah fardhu 'ain. sebab setiap muslim diperintahkan untuk beramal sesuai hukum syara' ( Asy syakhsiyah al islamiyah juz 2 hal 8 )

3. Mengenal fiqih

Dari uraian singkat diatas tentulah kaum Muslimin yang awam tidak bisa berijtihad  sendiri untuk mendapatkan hukum syara'. Namun umat Islam membutuhkan fiqih yang diistinbat oleh para mujtahid.

Al Qodhi Taqiyuddin annabhani Rahimahullah mendefinisikan fiqih :

الفقه هو العلم بالأحكام الشرعية  العملية المستنبطة من الأدلة التفصيلية

Fiqih ialah ilmu terhadap hukum-hukum Syariah yang bersifat praktis yang digali dari dalil-dalil yang terperinci

(Asy Syakhshiyah al islamiyah juz 3 hal 12)

para imam mujtahid dan murid-muridnya mengumpulkan kodefikasi berbagai hukum Syara' melalui ijtihadnya didalam kitab-kitab fikih islam. Lalu mengajarkannya dengan bersanad secara talaqy untuk menjaga Validasi (kemurnian) hukum dan tsaqofahnya. Maka hendaknya Kita semakin tekun, giat dan bersemangat lagi talaqy turost, fiqih dan ushulnya agar Kita bisa benar dalam beramal sholeh serta lebih berhati-hati dan Selamat dari kekeliruan dalam beribadah dan berfatwa eeehh berdakwah...

Sebab setiap hukum syara' berlaku atau berjalan pada Ruang lingkup waqi'nya sehingga bila terjadi perbedaan atau perubahan fakta. maka dibutuhkan kembali tahqiqul manath yang baru atau lebih lanjut lagi untuk mendapatkan hukum yang benar terhadapnya, sehingga tidak boleh seorang Muslim mengeneralisir (pukul rata) suatu hukum atas manath yang berbeda. 

Al allamah Taqiyuddin alhisni menukil dari imam Sufyan bin uyainah Rahimahumallah : 

لم يعط أحد بعد النبوّة أفضل من العلم و الفقه فالدّين

Tidaklah diberikan kepada seorang pun setelah nubuwah (kenabian) yang  lebih utama dari pada ilmu dan Fiqih didalam Agama ( kifayatul akhyar  hal 16 Dar 'alamiah )

Waallahul muwafiq ila aqwamit thoriq

Kamis, 09 Mei 2024

Membentuk kepribadian islami anak

Al allamah Qodhi Taqiyuddin An nabhani rahimahullah menerangkan : 

الشخصية في كل إنسان تتألف من عقليته و نفسيته

kepribadian pada setiap manusia tersusun (terbentuk) dari aqliyah dan nafsiyahnya (Asy Syakhshiyah Al islamiyah juz 1 hal 12 Darul ummah  2003)

A.  Tasqif Al islami

Fitrahnya manusia akan menjalani Hidup sesuai dengan cara pandangnya (mindset). Sebagai seorang Muslim, Islam Merupakan Cara pandangnya (Islamic worldview) Maka kepribadian islam seseorang Muslim akan terbentuk dari Aqliyah dan Nafsiyahnya yang islami. Dimana konsepsi Pemikiran islam (Qoidah fikriyah) yang tersimpan didalam benaknya itu dijadikan sebagai perspektif dan standar nilai hidupnya (Qiyadah fikriyah) lalu diaplikasikan dalam Aktivitas perbuatannya (nafsiyah) baik yang bersifat zhahir atau fisik (af 'alul jawarih) maupun bathin atau hati (af'alul Qolbi) sehingga terbentuk menjadi kepribadian dirinya.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui..?  
sesungguhnya hanya orang berfikirlah yang dapat menerima (mengambil) pelajaran (Qs az Zumar 39:9)

Sahabat beriman, ayat mulia diatas menjelaskan bahwa pengetahuan dan pelajaran manusia didapat dari proses berfikir untuk membentuk kesadaran diri yang benar. Mengkaji kemurnian Aqidah (Tauhid) dan Tsaqofah islami yang mengkristal dan mengakar akan menumbuhkan keimanan dan amal sholeh serta melatih keteguhan jiwa (Riyadhoh an nafs) dalam ketaatan dan keistiqomahan. Maka dibutuhkan proses pembelajaran untuk mengisi akal (Aqliyah) sesuai tuntunan Islam.

Membentuk kepribadian Anak

 1. Aqliyah (mindset)

العلم كالنور في الهداية 

Ilmu itu seperti Cahaya dalam pencarian Hidayah (husnush shiyaghah syarhu durusil balaghah hal 99 Maktabah Jubeer 2023)

Ibarah Ini selaras Sebagaimana firman Allah SWT:

الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ.[ أي لتخرجهم من الظلمات الكفر و الجهل و الضلال الى نور الإيمان و العلم و الهداية]

Alif, laam raa. (Ini adalah) Al-Qu'ran yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Qs Ibrahim 14:1)

yakni Agar mengeluarkan (menyelamatkan) manusia dari gelapnya kekufuran, kebodohan dan kesesatan menuju Cahaya iman, ilmu & hidayah (Tafsir fathul Qodir juz 3 hal 116 Darul hadits Mesir 2007)

Peran ilmu dalam merubah prilaku (nafsiyah) itu diawali dari perubahan mindset (pikiran). Mindset yang Benar akan melahirkan Kesadaran yang Benar. Lalu menjadi pusat kendali seseorang dalam memilah dan memilih untuk mengambil sebuah tindakan atau keputusannya.

Ta'lim wa ta'alum proses membentuk mindset Islami Anak

كِلْ لكل عبد بمعيار عقله، وزِنْ له بميزان فهمه

Takarlah ilmu bagi setiap orang sesuai ukuran akalnya dan pertimbangkanlah pengajaran baginya sesuai kadar pemahamannya (Ihya ulumiddin hal 56 Darul alamiah 2014)

Ulumul Aqidah

قال رسول الله:[اليقين الإيمان كله] ولا بد من تعلم علم اليقين

Rasulullah saw bersabda : keyakinan itu adalah mengimani sepenuhnya (HR Al bayhaqi) maka tidak boleh tidak mengharuskan dari mempelajari ilmu yakin ini (Ihya ulumiddin hal 64 Darul alamiah 2014)

Tauhid merupakan dasar keimanan. Setelah mencapai usia baligh seorang anak telah menjadi mukallaf secari Syar'i. Maka tugas  utama Orangtua ialah mengenalkan Penciptanya (Ma'rifatullah) dan menjadikan Allah sebagai puncak Tujuan amalnya dan muara seluruh aktivitasnya dengan menyentuh akal dan hati anak melalui  mentadaburi ayat-ayat Qauliyah dan tafakkur alam & sains sesuai dengan kadar akalnya.

Ulumul Adab

Akhlak adalah jamak dari khuluqun ia merupakan sifat bawaan pada manusia (tabiat al kholqi) sedangkan adab islami merupakan hasil dari proses pembentukan karakter yang mulia (akhlaqul karimah).

Maka pentingnya mengajarkan ulumul adab yang akan Menghidupkan iman didalam jiwa, melembutkan hati dan menghaluskan akal & rasa.

Ulumul Fiqih 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya (Qs al Israa' 17:36)

"Apapun masalahnya islam solusinya"

Fiqih adalah standar kebenaran amal seorang Muslim.Tanpa fiqih seorang Muslim tidak akan bisa memahami Hukum-hukum islam atau Syariah dan beramal sesuai dengan hukum syara'.

2. Nafsiyah (attitude)

Setelah membekali Aqliyah anak dengan berbagai ilmu syar'i yang mereka butuhkan selanjutnya ayah dan bunda harus membantu mereka untuk mengamalkan ilmunya dengan berbagai uslub (cara) dan wasilah (sarana) yang sesuai dengan potensi tumbuh kembangnya.

A. Aktivitas fisik

Orang tua harus selalu mengarahkan orientasi hidup anak adalah untuk akhirat sehingga semua aktivitasnya selalu dalam bingkai ketaatan.

Diriwayatkan dari jabir bin abdullah dari sayidina Ali Ra : 

أخوف ما أخاف على أمتي:  اتباع الهوى و طول الأمل. فأما اتباع الهوى فيصد عن الحق وأما طول الأمل فينسى الآخرة 

yang paling aku takutkan atas umatku ialah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. adapun mengikuti hawa nafsu dia akan menghalangi dari kebenaran sedangkan panjang angan-angan akan melalaikan dari Akhirat ( Ar risalah al qusyairiyah hal 188 DKI Beirut)

begitu juga Hujjatul islam imam Al Ghazali rahimahullah mengingatkan bahwasanya : 

فالأهم ما يبقى أبد الآباد و عند ذلك تصير الدنيا منزلا و البدن مركبا والعمال سعيا إلى مقصد، ولا مصقد إلا لقاء الله ففيه النعيم كله

Ilmu yang paling utama ialah ilmu akhirat yang akan membuat pemiliknya kekal abadi selamanya. pada saat itu dunia hanya menjadi persinggahannya saja, badannya hanyalah kendaraannya dan seluruh aktivitasnya dijadikan usaha untuk meraih tujuan akhiratnya. tiadalah tujuannya melainkan pertemuan kepada Allah Ta'ala semata didalamnya semuanya adalah kenikmatan.... (Ihya ulumiddin hal 53 Darul alamiah 2014)

B. Aktivitas hati

Orang tua tidaklah maksum (terbebas dari salah & keliru) begitu pula anak-anak kita mereka bukanlah "Robot". maka Kita hendaknya membiasakan diri dan membantu anak untuk senantiasa muhasabah diri agar mereka juga terbiasa membersihkan berbagai penyakit Hati serta mengobati Luka batinnya

عظ نفسك فإن اتعظت فعظ الناس إلا فاستح من أن تعظ الناس

Nasehatilah dirimu.  jika engkau telah bisa menerima nasehat dari dirimu sendiri maka nasehatilah manusia. Namun bila tidak maka malulah engkau padaku (Allah) saat menasehati orang lain (Ar risalah al qusairiyah hal 251 DKI Beirut)

B. Riyadhoh

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku (nabi saw) niscaya Allâh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Qs ali Imran 3:31] 

Penerapan konsepsi Islam pada anak (Ta'dib) yang telah tersimpan didalam benaknya secara praktis dilakukan melalui pelatihan & pembiasaan (Riyadhoh) serta keteladanan (Qudwah) dari kedua Orangtuanya, keluarga serta komunitasnya 

A. Ta'dib

Pertama, Ta'dib iman

Tadabbur Al-Qu'ran & As sunnah Serta mengkaji berbagai Ulumul Syar'i merupakan manhaj Islam dalam menuntun anak & keluarga kejalan hidayah, membangun kesadaran mereka yang Benar, yang menjadi Pangkal dari segala kebaikan dan pondasi semua kemuliaan.

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Qs al Baqarah 2:152)

Membangun kesadaran anak untuk selalu bersama Allah SWT  (Idrak silah billah)

Kedua, Ta'dib akhlak 

أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu sendiri melalaikannya..? padahal kamu membaca Al Kitab. Maka tidakkah kamu berpikir...? (Qs al Baqarah 2:44)

Ta'dib akhlak dilakukan dengan memberikan Contoh (mir'ah) dan keteladanan (Qudwah) dalam adab dan ketaatan bagi anak adalah sarana efektif dalam pembentukan kepribadian anak. lalu memupuknya dengan kesabaran dan kasih sayang serta merawatnya dengan muroja'ah, ibadah dan dakwah sambil terus menyempurnakan kepribadian mereka dengan kebaikan adabnya serta menghiasinya dengan kemuliaan akhlak.

Ketiga, Ta'dib Taqwa

Ketaatan pada Syariat Merupakan kunci ketaqwaan. Dengan demikian Orangtua harus terus berupaya menciptakan atmosfer ketaqwaan keluarga serta lingkungan pertemanan dan komunitas atau circlenya yang islami 

Diriwayatkan dari Anas ra Nabi saw bersabda : 

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai (HR Bukhari)

Bahkan Imam hawazin Al Qusyairi Rahimahullah menjelaskan :

اصحبوا مع الله، فإن لم تطيقوا فاصبحوا مع من يصحب مع الله،  لتوصلكم بركات صحبتهم الى صحبة الله عزّ و جلّ

Selalulah engkau bersama dengan Allah, jika belum mampu maka bersahabatlah engkau bersama orang yang selalu bersama Allah, agar dengan keberkahan persahabatanmu kepada mereka membuatmu juga bersama allah azza wa jalla (Ar risalah al Qusairiyah hal 329 DKI Beirut)

B. Istiqomah 

Buah dari tarbiyatul aulad ialah ketaqwaan keluarga. Sehingga Orang tua harus senantiasa menghadirkan suasana keilmuan, keimanan dan ketaatan dalam rumah tangganya Sebab Kepribadian islami itu tumbuh dari berbagai ketaatan yang diaplikasikan dalam kehidupan.

Selanjutnya output Ta'dib harus menumbuhkan kecintaan anak kepada Rabbnya sehingga ia akan menjaga Allah selalu didalam hati & pikirannya yakni merasakan Allah selalu bersamanya (muroqobah)

 اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ  تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah Allah (dihati dan pikiranmu) maka Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya Allah akan bersamamu (HR Tirmidzi)

C. Parenting islami (islamic parenting

islam menjadikan rumah tangga muslim sebagai madrosatul ula sehingga ta'lim wa ta'alum dimulai sejak dini oleh kedua orangtuanya. dari sini parenting islami tidak hanya berfokus pada proses pengasuhan dan pendidikan anak semata tapi proses membangun keluarga Dakwah mulai dari merawat ketaqwaan anak, keluarga, masyarakat hingga negara sebab hakikatnya ilmu bagi seorang Muslim itu untuk diamalkan dan didakwahkan. Sebagaimana firman Allah SWT : 

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Qs an Nahl 16:125)

Rabu, 01 Mei 2024

istiqomah dijalan dakwah

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata : Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri ? (Qs Fushshilat 41:33)

Menjaga keistiqomahan

keberlangsungan perjalanan peradaban islam ditentukan oleh dakwah. dimana aktivitas perbuatan manusia sejatinya terdiri dari dua bagian mendasar yakni aktivitas fisik atau lahir (af 'alul jawarih) dan aktivitas hati atau batin (af 'alul Qolbi). dimana Allah SWT memerintahkan setiap hambanya untuk senantiasa istiqomah lahir dan batin.

Allah azza wa jalla berfirman :

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

maka Istiqomalah kamu sebagaimana yang telah diperintahkan. dan siapa saja yang telah bertaubat bersamamu maka janganlah kalian melampaui batas. sesungguhnya dia maha melihat terhadap apa saja yang kamu lakukan (Qs Huud 11:112)

Baik istiqomah dalam amalan jawarih ( bil arkan atau badaniyah) seperti sholat, sedekah, tilawah, muthola'ah, dakwah maupun istiqomah dalam amalan Qolbu (batin) seperti merawat keimanan, keikhlasan, kesabaran, Wara', Zuhud, kebersihan hati dari berbagai penyakit bakhil (kikir), tamak, wahn dll. karena hakikatnya taqwa ialah taat secara kaffah dzahiran wa bathinan pada seluruh Syariat Allah SWT.

Imam badrudin ibnu jamaah Rahimahullah mengingatkan para ahli ilmu hendaknya : 

أن يُطهرَ باطنه و ظاهره من الأخلاق الرديّة و يُعمّرَه بالأخلاق المرضيّة

mensucikan (membersihkan) bathin dan dzhahir (lahir) dari akhlak yang buruk serta menghiasinya dengan akhlak (adab) yang disenangi (terpuji) [Tadzkirotus saami' wa mutakalim hal 106 Dar 'alamiah]

sebab terkadang lemah atau minimnya gerak dakwah itu bukan disebabkan oleh kesibukan, kekurangan materi (financial) maupun tsaqofah para pengembannya melainkan disebabkan kelemahan hatinya dalam memprioritaskan dakwah sebagai Al Qhodiyah al mashiriyah (Persoalan paling Utama) dan Aulawiyah (prioritas) dalam kehidupannya. 

Dakwah berjamaah

Nabi saw mengingatkan para pengemban dakwah yang telah Allah titipkan ilmu kepada mereka : 

إن العلماء ورثة الأنبياء، و إنّ لم يورّثوا دينارا ولا درهما، إنما ورّثوا العلمَ

Sesungguhnya ulama itu Pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan dinar (emas) dan tidak pula dirham (perak). tiada lain mereka hanya mewariskan ilmu... (HR Abu dawud & tirmidzi)

Dakwah merupakan jalan kemuliaan para Nabi. para pengemban dakwah adalah orang-orang yang menapaki jalan kemuliaan Nabinya saw yang akan menjadikannya wasilah untuk mendapatkan Asy syafa'at al'uzma Rasulullah saw. dengan demikian  mengharuskan dirinya meneladani Nabi saw yang menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya. akan tetapi meskipun demikian Rasulullah saw sebagai seorang hamba pilihan yang ma'shum (terpelihara dari berbuat dosa) serta diijabah doa-doanya namun nabi saw tetap berdakwah bersama jamaah yakni kutlah sahabat Radhiyallahu anhum

Al allamah imam Taqiyuddin an nabhani Rahimahullah menjelaskan : 

أما كون قيام الحزب كان استجابةً لقوله تعالى: ولْتَكم منكم أمةٌ يدْعُون الى الخير

فلأن اللهَ سبحانه قد أَمَرَ المسلمين في هذه الآية أن تكون منهم جماعةٌ مُتَكَتَّلَةٌ.... 

Adapun keberadaan hizb adalah jawaban dari firman Allah Subhanahu wa ta'ala : 

"dan hendaklah ada diantara kalian umat yang menyeru kepeda kebaikan (islam)". 

maka oleh karena itu Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin pada ayat ini untuk menjadikan diantara mereka satu kelompok jamaah... 

ويجب أن تكون هذه الجماعة المتكتلة حزبا سياسيا. وهذا آتٍ من ناحية أن الآية طلبتْ مت المسلمين أن يقيموا منهم جماعةً، ومن ناحية تحديد عمل هذه الجماعة بأنه الدعوة إلى الإسلام،  و الأمر بالمعروف و النهىي عن المنكر

Wajib menjadikan satu kelompok jamaah sebagai hizb siyasi.  ini datang dari aspek bahwasanya Ayat ini menuntut diantara kaum muslimin mendirikan jamaah. dari sisi pembatasan aktivitas dakwah kepada islam,  menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari kemungkaran [Ta'rif Hizb at-tahrir hal 5-6]

Dakwah siyasiyah

Pasca keputusan Mahkamah konstitusi (MK) senin, 22 April lalu terhadap Sengketa Pilpres 2024 (https://www.mkri.id/index.php?page=web.Berita&id=20216&menu=2). Rakyat indonesia kembali lagi dan lagi dibuat sedih dan kecewa wa bil khusus umat islam yang terlanjur menaruh harapan perubahan didalam pilpres lalu dimana kita saksikan realitas kecurangan yang begitu Terstruktur, Sistematis dan Massif ( TSM ) ini semakin menunjukkan betapa rusaknya demokrasi dan jauhnya rasa keadilan. 

Begitu pula pembantaian dan genosida kaum Muslimin digaza dan rafah yang sangat biadab dan memilukan...

disinilah urgensinya dakwah siyasi untuk mengembalikan kesadaran umat kepada arah perjuangan politik islam yang benar yang telah dicontohkan oleh Nabi saw. dimana para pengemban dakwah harus menuntun umat untuk meneladani marhalah (tahapan) dakwah nabi saw secara kaffah yang akan menghindarkan umat ini dari di'ayah (propaganda), tadhlil siyasi (Penyesatan politik), kejenuhan dan keputus asaan yang melahirkan mental oportunis didalam benak mereka seperti adigium atau prinsip yang sangat pragmatis "Maju tak gentar membela yang bayar" bahkan standar hidupnya untung dan rugi. misalnya mau berdakwah jika menguntungkan atau tidak merugikan waktunya.

Imam ibnul Qoyyim al jauzi mengingatkan bahaya pragmatisme yang melahirkan berbagai kompromistis, kelalaian, kemaksiatan bahkan pengingkaran : 

أن يحذر مغالطة نفسه له على هذه الأسباب. هذا من أهم الأمور. فإن العبد يعرف أن المعصية والغفلة من الأسباب المضرة له في دنياه وآخرته

hendaknya ia Waspada dari kekeliruan diri atas sebab-sebab ini (maksiat dan kelalaiannya) ini merupakan bagian perkara-perkara yang paling penting bahwasanya seorang hamba menyadari bahwa maksiat dan kelalaiannya diantara sebab-sebab yang memudhoratkan baginya baik didunia maupun akhiratnya [Ad da' wa dawa' hal 17 Dar 'alamiah]

oleh karena itu para pengemban dakwah hendaknya senantiasa membekali dirinya dan umat dengan tsaqofah hizbiyah juga  dilengkapi dengan membekali ulumul Roqoiq yakni ilmu-ilmu yang dapat melembutkan hati seperti kitab-kitab tazkiyatun nufus (mensucikan jiwa) atau tashfiyatul qulub (membersihkan hati) yang dapat meningkatkan adab dan nafsiyah para pengemban dakwah dan umat ini.

khatimah

Melanjutkan kehidupan islam merupakan 'Azhomul wajibah (kewajiban yang paling agung) dimana Perubahan islami yang hakiki (Taghyirul inqilaby) akan terjadi melalui jalan umat. maka saatnya kita para pengemban dakwah bergandengan tangan memikul amanah dakwah bersama terjun ditengah-tengah umat (dukhulul mujtama') menjemput Nashrullah Pertolongan Allah Subhanahu wa ta'ala.


Senin, 22 April 2024

Tujuan & tinjauan amal dalam islam

 صلاح الأمة في علو الهمة

Baiknya umat ini ada pada ketinggian cita-citanya ( 'unwanul kitab Sayyid bin Husain al'afani al mishri)

Setiap amal memiliki Tujuan. maka bagaimana cara seorang hamba memiliki himmatul aliyah ( tujuan & cita-cita tertinggi ) tersebut ? Serta bagaimana pula Cara Meraihnya hingga kepuncak tujuan (غاية الغاية) yang sesungguhnya...?

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

قُلْ مَتَٰعُ ٱلدُّنْيَا قَلِيلٌ وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

katakanlah Kesenangan didunia ini hanyalah sebentar (sementara) dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun (Qs An Nisa 4:77)

Tips Meraih Amal terbaik

1. Mencari ridho Allah Semata

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى 

Semua perbuatan tergantung niatnya, dan bagi setiap orang akan mendapatkan apa yang telah ia niatkan (HR Bukhari)

Sahabat beriman, niat yang benar akan menghantarkan pada keridhoan Allah yaitu menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan (Ghoyatul ghoyah). inilah pondasi amal seorang muslim.

  إنما الله غايتنا أي إلهي أنت مقصدي و رضاك مطلوبي 

Sesungguhnya hanya Allahlah Tujuan kita yakni hanya Engkaulah yang kutuju dan hanya RidhoMu yang kucari  

Karena Allah azza wa jalla mencela ahlul Kitab yang menisbatkan (menyandarkan) ibadah dan amaliyahnya kepada selain Allah SWT. Sebab itu merupakan bentuk kekufuran dan bisa menggiring pada kemusyrikan. 

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan (hakim) selain Allah dan mempertuhankan Al Masih putera Maryam Padahal tidaklah mereka disuruh (perintahkan) untuk beribadah (beramal) kecuali hanya kepada Tuhan yang Esa, tidak ada penghambaan selain kepadaNya. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (Qs at Taubah 9 : 31)

Dengan demikian seorang hamba tidak diperkenankan menyandarkan (nisbat amal) ibadah dan dakwahnya kepada makhluk atau kelompok tertentu selain kepada Allah SWT semata.

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا

Beribadahlah engkau kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (Qs an Nisa 4:36)

2. Sesuai Syariah

Akal dan rasa bukanlah sumber kebenaran sehingga bila pendapat (akal), firasat atau perasaan hati (intuisi) bertentangan dengan nash-nash Syar'iyah maka kita harus kembali berjalan sesuai sunnah dan terikat dengan syariah dalam beribadah dan muamalah. Sebab Allahlah yang paling mengetahui hakikat baik buruk, benar Salah, tercela terpuji, halal dan haram.

Allah azza wa jalla berfirman :

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa saja yang Rasul saw perintahkan kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang  dilarang kepada kalian maka tinggalkanlah”(Qs al-Hasyr : 7)

3. Level amal seorang hamba

Martabat ( tingkatan ) Amal :

1. meninggalkan yang haram itu Wajib

2. meninggalkan yang syubhat itu Wara'

3. meninggalkan perkara mubah yang melalaikan itu Zuhud

4. Istiqomah menyempurnakan ketaatan dengan amalan Sunnah itulah Taqwa

dimana Hakikatnya Taqwa ialah taat secara kaffah zhahiran wa bathinan fii imtisalil awamirillah wa ijtinabin nawahihi. Dan termasuk diantara ketaqwaan sebagaimana dinukilkan Imam ibnu hajar alhaitsami dari Abu darda Ra :

تمام التقوى: ترك بعض الحلال خوفا أن يكون حراما 

Sempurnanya ketaqwaan ialah meninggalkan sebagian yang halal karena takut terjatuh pada keharaman (Majmu' syuruh arbain hal 336 Markaz ibnul jauzi Mesir 2022)

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوٓا۟ أَعْمَٰلَكُم

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusak amal-amalmu. (Qs Muhammad 47:33)  

4. Qimatul amal

Adapun Nilai perbuatan (Qimatul amal) dari sebuah aktivitas. Ia merupakan hasil yang ingin digapai atau hendak diraihnya. contohnya :

1. Qimah madiyah (nilai materi) berdakwah tapi untuk mendapatkan bayaran atau kepentingan dan keuntungan duniawi 

2. Qimah insaniyah (nilai kemanusiaan)  menolong untuk meningkatkan solidaritas persaudaraan, pertemanan atau untuk meraih tujuan bersama sebuah kelompok atau komunitasnya.

3. Qimah akhlakiyah (nilai etika)

Berdakwah untuk meninggikan adab dan mencapai atau memenuhi tuntutan normatif kebaikan itu sendiri

 4. Qimah Ruhiyah (idrak silah billah)

Berdakwah hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah Subhanahu wa ta'ala semata

5. Quwwatul amal

Bila Qimatul amal adalah hasil atau Output yang ingin diraih sedangkan Quwwatul amal merupakan faktor pendorong seorang hamba dalam beribadah dan beraktivitas. contoh ada orang yang jujur untuk meningkatkan Personal branding dan integritasnya, ada pula yang terlihat jujur demi Omset bisnis dan loyalitas konsumen tapi ada juga yang jujur Karena penghambaan kepada Allah SWT hanya untuk mengharapkan keridhoan Rabbnya semata.

a. Maddiyah motivasi amal berdasarkan  materi, demi jabatan dan motif  duniawi semata

b. Maknawiyah motivasi amal Karena pujian, popularitas, citra diri (brand image) atau karena rasa kasihan, senang dll

c. Ruhiyah motivasi amal hanya untuk dan karena Allah SWT semata. 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (Qs At Taubah 9:119) 

6. Standar Perbuatan (Miqyasul amal)

Benarnya amal ditentukan oleh lurusnya niat serta keterikatannya pada Syariat atau hukum syara' baik khithob taklifi berupa Wajib, Sunnah, mubah (jaiz), halal, makruh dan haram maupun khithob wadh'i berupa tata cara pelaksanaannya. dengan demikian adalah keharusan bagi seorang hamba yang ingin meraih Puncak dari segala Tujuan amalnya (غاية الغاية) senantiasa terikat pada perintah dan larangan Allah Subhanahu wa ta'ala yang tersusun didalam fiqih islam.

Al allamah imam Taqiyuddin Annabhani Rahimahullah menjelaskan penting dan wajibnya belajar Fiqih (Dirosatul fiqh) untuk memahami Syariah : 

معرفة الأحكم الشرعية التي تلزم المسلم في حياته فرض عين على كل مسلم، لأنه بأن يقوم بأعماله حسب أحكام الشرع

Mengetahui hukum-hukum syariah yang dibutuhkan dalam kehidupan seorang muslim ialah fardhu 'ain. sebab setiap muslim diperintahkan untuk beramal sesuai hukum syara' ( Asy syakhsiyah al islamiyah juz 2 hal 8 ) 

Sahabat beriman, Maka mengamalkan fiqih baik dalam ibadah, muamalah dan dakwah merupakan bukti keimanan  & ketaatan untuk menggapai puncak penghambaan yang hakiki yaitu keridhoan Allah SWT

جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.(Qs Al Bayyinah 98:8) 

Tapi Nabi Saw juga mengingatkan Kita agar senantiasa berhati-hati (ikhtiyat) dalam beramal :

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

Tinggalkanlah apa saja yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu (HR Tirmizi dan Nasa'i)