Minggu, 24 Maret 2024

Menjaga keistiqomahan

Allah azza wa jalla berfirman :

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

maka Istiqomalah kamu sebagaimana yang telah diperintahkan. dan siapa saja yang telah bertaubat bersamamu maka janganlah kalian melampaui batas. sesungguhnya dia maha melihat terhadap apa saja yang kamu lakukan (Qs Huud 11:112)

Sahabat beriman, berazam (komitmen) pada kebenaran serta konsisten didalam ketaatan memang membutuhkan kesabaran, perjuangan bahkan pengorbanan yang besar. itulah yang menjadikan Istiqomah merupakan maqom (kedudukan)nya orang-orang yang bertakwa. bahkan Nabi saw menjelaskan bahwasanya istiqomah ialah amalan pamungkas sepanjang masa

عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ 
 Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan lagi kepada seorangpun selainmu. Beliau bersabda: Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah (HR Muslim) 

الإستقامة خير من ألف الكرامة
istiqomah itu lebih baik dari 1000 karomah

Cara meningkatkan keistiqomahan

Sahabat beriman, istiqomah itu haruslah diperjuangkan karena kemalasan, kepentingan, ambisi dan hawa nafsu terkadang
bisa menjadi penghalang dalam ketaatan dan keistiqomahan seorang hamba.

Sahabat Nabi saw sayidina Ali bin abi tholib ra berkata : 
أخاف عليكم اثنين : اتباع الهوى، وطول الأمل. فإن إتباع الهوى يصد عن الحق و طول الأمل ينسي الآخرة 
Aku khawatir atas kalian 2 perkara : mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. sebab sesungguhnya menuruti nafsu akan memalingkan dari kebenaran sedangkan Panjang angan-angan (Over thinking) akan melalaikan dari Akhirat 
( Adabud dunia wad dien hal 18 darul 'alamiah )

1. Berorientasi akhirat

Orang yang memahami hakikat dirinya sebagai seorang hamba serta menyadari tujuan kehidupannya yang sebenarnya adalah untuk beribadah pastilah akan mengerahkan seluruh potensinya dalam ketaatan. sehingga ia akan terus belajar dan beramal sholeh sampai akhir hayat (hidupnya). Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah (Qs adz Dzaariyaat 51:56)

2. Tadabbur Al-Qur'an & Siroh nabawi

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Ini adalah kitab yang Kami turunkan dia (Al-Qur'an) kepadamu penuh dengan keberkahan supaya mereka mentadabburi (memperhatikan & mengkaji) ayat-ayatNya serta agar orang berakal dapat bertafakkur (merenungi dan berfikir) mengambil pelajaran darinya (Qs Shaad 38: 29)

Memperbanyak mentadabburi (mengkaji, menghayati dan meresapi) makna Ayat-ayat Al-Qur'an akan menguatkan hati, pikiran dan keimanan. begitu pula mengkaji perjalanan hidup Nabi saw kita akan menemukan banyak pelajaran dan keteladanan agung.

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan kami kisahkan (ceritakan) semua dari rasul-rasul Kami kepadamu. kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan  telah datang dari kisah-kisah itu kebenaran, pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman (Qs Huud 11:120)

3. Mengkaji biografi sahabat dan para ulama

Menelaah pahit manisnya kehidupan para sahabat nabi. ketegaran, kesabaran dan keikhlasan mereka serta menelusuri perjalanan keilmuan dan dakwah para ulama yang penuh hikmah, pelajaran, kebijaksanaan dan inspirasi akan membangkitkan optimisme kita dalam melatih (riyadhoh) keistiqomahan.

4. Meningkatkan muhasabah diri dan Tazakkur 

Selain berupaya menyempurnakan ibadah wajib dengan berbagai amalan sunnah, istiqomah bisa ditingkatkan dengan memperbanyak muhasabah ( intropeksi & perenungan diri ) serta Tazakkur (zikir dan doa).

Sahabat beriman, diantara keutamaan dari memperbanyak  berzikir dan berdoa ialah dapat menyatukan khouf dan roja'. sebab bila pengharapan (roja') tanpa rasa takut (khouf) hanya akan membuat seorang hamba bermalas-malasan dan terjebak dengan angan-angannya belaka ia tertipu dalam penantiannya tanpa mau bersungguh-sungguh dalam berikhtiar. 

sedangkan muhasabah diri akan menumbuhkan kesadaran diri yang benar antara khouf dan roja' Serta memupuk semangat dalam beramal. Dan bila ia terus disirami dengan samudera pengetahuan (ilmu syar'i) maka ia akan meneguhkan keyakinan hati serta menguatkan rasa Qona'ah didalam jiwa.

5. Bersama ulama dan ahli adab

Rasulullah saw bersabda :

لا تجتمع أمتي على ضلالة

Tidaklah akan berkumpul umatku diatas kesesatan (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Berkumpul bersama ahli ilmu yang Zuhud (tidak tamak) terhadap dunia, tawadhu' (rendah hati), wara' (teliti dan hati-hati) yang senantiasa menjaga ilmu & adabnya. akan menjadi inspirasi dan motivasi dari mutiara-mutiara hikmah yang ia sampaikan serta keteladanannya.

اصحبوا مع الله، فإن لم تطيقوا فاصبحوا مع من يصحب مع الله،  لتوصلكم بركات صحبتهم الى صحبة الله عزّ و جلّ

selalulah engkau bersama dengan Allah, jika belum mampu maka bersahabatlah engkau bersama orang yang selalu bersama Allah, agar dengan keberkahan persahabatanmu kepada mereka membuatmu juga bersama allah azza wa jalla (Ar risalah al Qusairiyah hal 329 DKI Beirut)

6. Menelaah kitab roqoiq (tazkiyatun nafs)

Para ulama rabbani telah mengumpulkan penawar atau obat dari berbagai penyakit hati didalam kitab-kitab tazkiyatun nafs (mensucikan jiwa) dan tashfiyatul qulub (membersihkan hati) seperti kitab Tanbihul Ghofilin imam Nashr bin Muhammad samarqondi (373H), kitab Ar risalah al Qushairiyah imam abul qosim abdul kareem bin hawazin (465H), kitab Ad da'u wa dawa', kitab madarijus salikin karya imam ibnul qoyim al jauzi (691H) dll dapat mengobati berbagai penyakit batin, melembutkan jiwa (roqoiq), meninggikan adab (akhlakul karimah), membersihkan hati (shofy) dan menjernihkan pikiran (naqy) .

7. Tafakkur dan tadabbur

Meluangkan waktu untuk mutholaah (mengkaji), murojaah (mengulang ilmu) Tafakkur (merenungi ayat-ayat qauniyah) dan Tadabbur (merenungi ayat-ayat qauliyah) adalah faktor terpenting dalam mengkristalkan Pemahaman, memperdalam hikmah dan kebijaksanaan seorang hamba yang akan menguatkan idrak silah billah (kesadaran hubunganya dengan Allah Ta'ala) yang akan menghantarkannya pada keistiqomahan

8. Dakwah

Sahabat beriman, dakwah adalah ibadah yang paling agung. dakwah merupakan sarana efektif untuk melatih keistiqomahan sebab ia akan menuntut kita untuk lebih bersabar dan meneguhkan keikhlasan hati.

inilah rahasia kemuliaan dan keistimewaan ulul azmi dari para nabi lainnya yakni keistiqomahan mereka dalam berdakwah menanggung berbagai kesulitan dan Penderitaan yang begitu besar dijalan dakwah menghadapi penolakan, pengingkaran serta berbagai kedzaliman umatnya

9. Riyadhoh

Nabi Saw bersabda :

 مَا الْإِحْسَانُ ؟ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Apa itu ihsan ?

engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya. jika engkau tidak bisa melihatnya maka (ketahuilah) sesungguhnya Allah melihatmu (HR bukhari & Muslim)

Pelaut handal tak terlahir dari lautan yang tenang. badai dan marabahayalah yang menempanya. begitu pula seorang salik yakni orang yang menempuh jalan ketaatan kepada RabbNya. Ujian dan cobaanlah yang akan menghantarkannya pada ketaqwaan yang hakiki.

Sahabat beriman, ketahuilah istiqomah itu proses yang harus terus dilatih bukan kebetulan apalagi sebuah keberuntungan. maka Cintailah ibadah dan dakwahmu karena semua perkerjaan yang dilakukan dengan rasa cinta dan ketaatan yang tulus akan bermakna dan berpengaruh kepada jiwa yang ikhlas meskipun itu berat dan melelahkan.

10. Muhasabah dan muroqobah 

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian (Qs an Nisa 4:1) 

Bila semua resep diatas telah diamalkan namun belum juga dapat meningkatkan keistiqomahan maka kita perlu melakukan muhasabah atau evaluasi diri lebih jauh dan mendalam, mungkin terdapat dosa atau presepsi-presepsi (pemahaman) yang salah dan keliru yang mengotori keimanan dan merusak mental & jiwa Kita. seperti Penyakit-penyakit hati, cinta dunia, hawa nafsu dan keserakahan yang dapat menghalangi dari ketaatan bahkan bisa menjerumuskan pada kelalaian, kemaksiatan dan dosa.

setelah melakukan muhasabah diri hendaklah kita muroqobah (mawas diri) bahwasanya Allah Subhanahu wa ta'ala senantiasa mengawasi dan membalas semua perbuatan hambaNya. 

وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ رَّقِيبًا

Allah adalah Tuhan yang maha mengawasi atas segala sesuatu (Qs al Ahzab 33:52)

Sahabat beriman, menjaga dan mempertahankan keistiqomahan itu memang sulit dan berat dimana akhir perjalanannya ialah kematian yaitu husnul khotimah. disinilah kita harus bersama-sama dan berjamaah saling menguatkan dan melengkapi agar tetap Istiqomah sampai akhir hayat...

Yakinlah bahwasanya tak ada yang sia-sia disisiNya dari semua yang kita perbuat meskipun mungkin itu harus dilalui dengan berbagai kesulitan dan dibayar dengan kepahitan serta banyaknya pengorbanan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. (Qs ali Imran 3:102) 

Sabtu, 09 Maret 2024

Pendidikan islami anak

Tarbiyatul aulad al islamiyah

ialah Pendidikan anak secara islami. ia merupakan amanah terpenting yang Allah titip & berikan kepada kedua orangtua selain nafkah lahir berupa makan, minum, kesehatan dan kebutuhan materi juga nafkah batin berupa kasih sayang, bimbingan (irsyad), pengayoman dan keteladanan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (Qs at Tahrim 66:6)

Imam As syaukani ra menjelaskan dalam Tafsir nya : 

بفعل ما أمركم به و ترك ما نهاكم عنه و [أهليكم] بأمرهم بطاعة الله و نهيهم عن معاصيه

Dengan mengerjakan apa saja yang telah diperintahkan terhadapnya serta  meninggalkan apa yang dilarangnya. [keluarga kalian] maksudnya memelihara keluarga terhadap urusan mereka dengan ketaatan kepada Allah SWT serta melarang mereka dari kemaksiatan (Tafsir fathul Qodir juz 5/302 Darul hadits Cairo 2007)

Adapun imam Al Alusi ra didalam Tafsirnya menukil hadits Nabi Saw : 

يا رسول الله نقى أنفسنا فكيف لنا بأهلينا ؟ فقال تنهوهن عما نهاكم الله عنه و تأمرونهن بما أمركم الله به فيكون ذلك وقاية بينهنّ و بين النار

Wahai Rasul Saw bagaimana cara kami  memelihara (menjaga) diri kami dan keluarga kami (dari azab api neraka) ? bersabda Nabi saw : Cegahlah mereka dari Apa saja yang telah Allah larang atas kalian darinya dan perintahkan mereka dengan apa-apa yang diperintahkan Allah terhadap kalian dengannya maka jadikanlah itu sebagai perisai (pelindung) diantara mereka dan api neraka (Tafsir Ruhul ma'ani juz 14/469 Darul hadits Mesir 2005)

Bahkan imam ibnu katsir ra menjadikan Ayat yang mulia ini sebagai pondasi  Tarbiyatul Aulad melalui Ta'lim dan Ta'dib didalam Keluarga muslim. 

يقول الحافظ ابن كثير :  أدبوهم و علموهم 

('Umdatut tafsir juz 3/484 Darul wafa Mesir 2014)

kepribadian islami terbentuk dari Aqliyah dan Nafsiyah

Aqliyah ( mindset ) Islami terbentuk dari pemahaman islami yang didapati atau terimanya sehingga menjadi ma'lumatus sabiqoh (database informasi) yang akan menjadi konsepsi berfikirnya atau Qoidah fikriyah baik berupa Aqidah, Fiqih dan Tsaqofah islami lainnya yang dijadikan sebagai Platform berpikir dan cara pandangnya atau Qiyadah fikriyah islami (Islamic worldview).

Adapun Nafsiyah Islami Merupakan ekspresi prilaku adab dan akhlak seseorang. baik Aktivitas fisik (af 'alul jawarih) maupun aktivitas hati (ahwalul Qolbi) yang terpaut dengan keimanan & terikat dengan hukum syara' yang senantiasa berjalan sesuai tuntunan Syariah.

Penanaman nilai-nilai syar'i (islami) merupakan faktor terpenting dalam keberhasilan pendidikan anak. Ia dimulai dari pemberian input informasi yang islami melalui Ta'lim atau pembelajaran intensif serta pembinaan diri anak dengan Ta'dib yakni penerapan hasil pembelajaran intensifnya (Ta'lim) Berdasarkan Potensi anak dan sesuai perkembangannya yang berbasis kasih sayang serta keteladanan dalam membentuk kepribadian islami anak. Sebab Prinsip mendasar Islam ilmu itu dipelajari untuk diamalkan. Hujjatul Islam Imam AlGhazali menjelaskan:

أهل رضوان الله تعالى و فضلهم عند الله لعملهم بعلمهم

Orang yang diridhoi Allah Ta'ala dan keutamaan mereka disisi Allah itu disebabkan pengamalan mereka terhadap ilmunya (Ihya ulumiddin hal 37 Darul 'Alamiah 2014)

Diantara kesalahan yang sering terjadi :

Nabi ﷺ bersabda :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشْرِكَانِهِ

"Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka ibu & bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani maupun Musyrik.(HR Ahmad)

Kesalahan Pola asuh Orangtua akan mengakibatkan anak tumbuh diluar fitrahnya seperti menjadi pribadi yang manja, malas (mager), individualis dll misalnya yang merupakan dampak dari pembiaran atau selalu menuruti setiap keinginan anak dengan dalih kasihan sehingga menempatkan rasa sayang secara berlebihan atau salah. 

1. Penerapan peraturan yang terlampau ketat dan keras sehingga menghambat tumbuh kembang anak secara alami (fitrah) sehingga ketaatan yang terlahir dari kekerasan hanyalah bentuk keterpaksaan bukan kerelaan yang tumbuh dari kesadaran yang benar.

2. Memberikan kebebasan yang berlebihan juga akan membuat anak kehilangan batasan diri (self control) bahkan terjerumus pada perilaku salah dan merusak.

3. Pengabaian faktor lingkungan tumbuh kembang anak baik Pertemanannya, komunitasnya (circle) baik interaksi offline maupun online serta rutinitas anak.

4. Anak-anak yang tumbuh dalam rumah yang "gersang" dari perhatian dan rasa kepedulian serta besar dalam keluarga yang "kering" dari kasih sayang maka mereka akan mencari ketenangan kebahagiaan dan rasa nyaman diluar rumah dan keluarganya.

Solusinya Orang tua harus selalu meningkatkan perhatian (ihtimam) dan kepeduliannya terhadap keluarganya (riayatul usroh). Sambil terus membangunan kesadaran diri anak dengan mindset yang islami serta menghadirkan suasana rumah yang menyenangkan jauh dari kejenuhan yang membosankan dengan mengiringi kelembutan dengan ketegasan bukan kekerasan, menaunginya dengan ketulusan kasih sayang, kesabaran dan keteladanan.

Pola pendidikan islami anak :

وإن أحدا لم يولد عالما و إنما العلم بالتعلُم
Sesungguhnya seseorang tidak terlahir dalam keadaan berilmu ('Alim). Sungguh  ilmu itu hanya didapat dengan belajar
(Ihya ulumiddin hal 27 Darul 'alamiah 2014)

Al-Qur'an, As sunnah & Turost (literasi islami) adalah sumber informasi dan inspirasi konsep pendidikan Islam dalam membentuk kepribadian anak yang islami. disinilah peranan orangtua untuk senantiasa mengembangkan berbagai uslub (cara) dan sarana (wasilah) pendidikan keluarganya. 

1. Ta'lim

A. Ushuluddin 

فأول الواجبات هو المعرفة و وسيلة تحصيلها النظر فهو واجب أيضا

Permulaan berbagai kewajiban ialah Ma'rifat (mengenal Allah) sedangkan mengkajinya adalah sarana yang menghantarkan pada ma'rifat juga Merupakan kewajiban (Aqidah ahlis sunnah wal jamaah hal 19 Darun nashr 2014)

Pada Fase awal pertumbuhan anak pembelajaran dimulai dari mengenalkan eksistensi Pencipta (khaliq), tujuan kehidupannya (Ghoyah) serta menanamkan Prinsip-prinsip dasar & utama didalam islam seperti kitab Arba'in nawawiyah dll.

B. Aqidah 

Mengenalkan konsepsi Tauhid sebagai pondasi keimanan yang menjadi sumber energi ketaatannya. Sebab Tauhid & amal Merupakan muqtadhoyatul Aqidah atau ekspresi dari keimanan seorang hamba. Seperti kitab jalaul afham syarhul Aqidatul awam dll.

الإسلام يكوّن الشخصية الإسلامية بالعقيدة الإسلامية. فبها تتكوّن عقليته وبها نفسها تتكوّن نفسيّته

Islam membentuk kepribadian islami berdasarkan Aqidah islam. maka dengan Aqidah itulah terbentuk aqliyahnya dan dengan Aqidah itu pula nafsiyah dirinya terbentuk (Asy Syakhshiyah al islamiyah juz 1 hal 17 Darul ummah 2003)

Pada tahapan ini orang tua atau gurunya mulai menuntun anaknya untuk Memahami hakikat kehidupan dan tujuan hidupnya dengan mengajak mereka untuk mengurai Uqdatul kubro yaitu simpul besar kehidupan sesuai kadar akalnya.

أول الهداية خاطر ثم إنه تفكّرَ يوما في حال نفسه و خطّر على باله

Permulaan hidayah adalah perenungan. kemudian ia serius bertafakkur pada suatu waktu tentang keadaan dirinya. lalu ia merenungkan terhadap Apa yang ada didalam benaknya (Ayyuhal walad Hal 35 Darul minhaj 2014)

Bahkan DR. Abdullah Nashih 'Ulwan menjelaskan : 

Berpijak pada Pengarahan dari Al Qu'ran dan hadits kaum muslimin pada masa kenabian dan periode setelahnya sangat bersemangat dalam mempelajari ilmu pengetahuan (sains). mereka menganggap bahwa mempelajari semua ilmu yang bermanfaat termasuk suatu kewajiban (Tarbiyatul Aulad fil islam hal 202 Insan kamil 2020)

C. Adab

الأخلاق تكتسب بالرياضة و المجاهدة أبتداء حتى تصير طبعا انتهاء

Akhlak (adab) itu diperoleh dengan melatihnya (pembiasaan) dan keseriusan (kesungguhan) saat memulainya sehingga menjadi kebiasaan (habits) pada akhirnya (Muqoddimah Akhlak libanin juz 4 hal 4)

Akhlak ialah cermin kepribadian yang di ekspresikan baik dengan lisan, tulisan dan perbuatan

Dari sini orang tua hendaknya senantiasa memperkaya pola Ta'dib melalui berbagai improvisasi dan kreativitas dalam pengajarannya (uslub) yang memungkinkan serta mengembangkan beragam sarana dan media (wasail) pembelajaran anak. Seperti Kitab-kitab adab :

A. Akhlak lil banin 1 - 4 & Akhlaq lil banat 1 - 3

B. Siroh Nabawi

C. Hayatus shohabah

Orang tua Juga harus terus berupaya menciptakan berbagai moment menarik serta selalu mengkondisikan anak dalam suasana keimanan dan ketaatan

D. Fiqih

Syariat islam yang sempurna terhimpun didalam kitab-kitab fiqih sebagai tuntunan praktis kita dalam beramal. Dengan kata lain Fiqih adalah Cara praktis Memahami dan mengamalkan Syariat.

فكل من كُلّف شرعا وجبا # عليه أن  يعرف ما قد وجبا

Setiap orang yang telah ditaklif (baligh) secara Syar'i diharuskan baginya mengetahui apa saja yang telah diwajibkan atasnya (Tuhfatul murid 'ala Jauharit tauhid bait ke-9 hal 15 Darus salamah Mesir)

2. Ta'dib

Ta'lim Merupakan fase pembelajaran teoritis maka pada  fase ta'dib pendidikan dilakukan secara aktif dan eksploratif (menggali & mengembangkan potensi) dalam menanamkan Visi (ghoyah) dan Values atau nilai-nilai Prinsip keislaman (Maqoshidusy Syariah) pada anak diantaranya melalui : 

1. Story telling yang dapat memupuk keimanan, ketaatan, sifat-sifat terpuji dan adab mulia dalam Penanaman karakter (nafsiyah) anak

2. Kreativitas islami berbasis Maqhosidusy Syariah

3. Tadabbur Al Qu'ran & hadits dan Tafakkur sains islami

4. Menumbuhkan Kemandirian dan Rasa tanggung jawab anak dengan Raghbah atau Targhib (motivasi) & Rohbah atau Tarhib (Sanksi) baik dampaknya didunia maupun akhirat sebagai akibat (konsekuensi) dari perbuatannya : 

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan anak kepada Yahya sehingga isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap (Rogbah) dan cemas (Rohbah). Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami (Qs al Anbiyaa' 21:90)

5. Sharing & muhasabah bersama 

Bahkan Al allamah syaikh musthofa al adawy menyarankan kepada para Orangtua : 

Mintalah orang lain untuk menasehati anak-anak anda. dengan demikian si anak akan memiliki banyak tempat mendapat  nasehat dan kebaikan. jika ia tidak menerima dari yang ini, mungkin ia akan menerima dari yang itu. bila orang tuanya lalai dalam memberikan nasehat maka yang lain akan menyempurnakannya (Fikih Pendidikan anak hal 264 Qisthi press 2011)

3. Ma'iyah

Membangun kesamaan persepsi & frekuensi antara suami dan istri, anak dan orang tuanya Merupakan kunci keberhasilan pembinaan (tasqif) rumah tangga. Perbedaan pandangan antara istri dan suami atau orang tua dengan anaknya akan menjadi sumber polemik bahkan konflik serius dalam mendidik serta membangun rumah tangga yang harmonis. maka menyamakan Visi, persepsi dan frekuensi keluarga adalah keharusan mutlak yang harus terus dilakukan hingga menjadi standar nilai kebenaran bersama (true value)

Membersamai anak adalah momentum yang tak tergantikan dalam tumbuh kembang kehidupan seorang anak. Kebersamaan Merupakan jalinan kehangatan & ikatan kasih sayang seorang anak terhadap ayah dan bundanya. dimana pembentukan kepribadian anak merupakan cerminan kehidupan kedua orang tuanya sebelum ia terkontaminasi (tercemar) oleh lingkungan, pergaulan dan internet (Hp). 

A. Tasqif  melalui Taujih (arahan) & irsyad (bimbingan)

B. Taqwin Membina dengan apresiasi dan pengkondisian melalui Rewards (hadiah) & punishment (sanksi)

C. Mulazamah merupakan proses Membersamai anak dengan penuh kesabaran, kasih sayang dan keteladanan dalam membentuk Circle (komunitas) & habits (kebiasaan) islami anak. Pembentukan kepribadian ini (Ta'dib) sangatlah dinamis & beragam sesuai Potensi, sarana dan kondisinya. Keberhasilannya sangat ditentukan dari kegigihan dan kesungguhan orangtuanya untuk selalu mengkondisikan anaknya agar berada pada circle & habits yang islami.

4.  Qudwah 

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Amatlah besar kebencian Allah terhadap kalian Orang-Orang yang mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan (Qs Ash Shaff 61:3)

Kegagalan pendidikan anak seringkali terjadi dari minimnya keteladanan Orangtua (integritas). Disinilah peran utama Orangtua harus mampu menjadi inspirator ketaatan dan motivator kebaikan bagi anak-anaknya. Dengan kata lain ayah Dan bundanya harus menjadi Rule model atau teladan dalam ketaqwaan pada keluarganya. Sebab bila seorang anak melihat berbagai prilaku buruk orang tuanya, itu akan menjadi Contoh yang membentuk kepribadiannya. 

Seperti buruknya pola komunikasi dan sering terjadinya interaksi keluarga yang tidak harmonis atau broken home didalam rumah tangga, Maka Hal itu akan menjadi cerminan buruk bagi perkembangan kepribadian anak. disinilah Pentingnya keteladanan yang baik (Qudwah) dalam membentuk kepribadian anak.

Juga Hal-hal yang perlu menjadi perhatian dan perenungan orang tua dalam mendidik dan merawat anak-anaknya bahwasanya secara alami fitrah kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya kelak dihari tua itu sebagaimana kasih sayang orang tuanya kepada anaknya dimasa kecilnya dahulu. Ini sebagaimana firman Allah Tabaraka wa ta'ala : 

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah merawat (mendidik) aku diwaktu kecil(Qs al Israa' 17:24)

Selasa, 05 Maret 2024

Adil menyikapi perbedaan

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ ۖ 

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan Timbangan (keadilan) agar manusia dapat berbuat dengan Adil (Qs al Hadiid 57:25)

Kebenaran islam berdiri diatas keadilan bukan kepentingan apapun dan siapapun sehingga siapa saja yang mempelajarinya dengan Jujur dan lengkap atau utuh akan menemukan bahwasanya Syariat Islam  begitu adil dan manusiawi bukan sekedar informasi dan pengetahuan semata tetapi merupakan Tuntunan, Standar dan Solusi kehidupan manusia.

Namun ada pertanyaan yang sering Kali muncul kenapa Tuhannya satu, AlQur'annya satu dan hadistnya pun juga satu dari Nabi muhammad Saw tetapi mengapa bisa terjadi perbedaan didalam islam...? 

Islam bersumber dari Allah SWT Rabb yang maha benar lagi maha sempurna namun kita makhluknya hanyalah manusia yang tidaklah sempurna bahkan terbatas jangkauannya dalam memahami hakikat segala sesuatu sehingga sangat dimungkinkan terjadinya perbedaan interpretasi (penafsiran) dan ijtihad (penggalian hukum syariah) yang beragam baik disebabkan khilaful aula (meninggalkan yang lebih utama), salah dalam memahami waqi' (fakta) yang menjadi manathul hukmi (Objek hukum) atau tidak tepat dalam beristidlal (menerapkan dalil atas fakta) juga disebabkan perbedaan bangunan ushul fiqih dan Qowaid syar'iyah yang meniscayakan terjadinya Perbedaan. 

Diantara Sebab-sebab terjadinya perbedaan (ikhtilaf) :

1. Pahmul waqoiq (Pemahaman terhadap fakta)

Terkadang perbedaan itu berawal dari perbedaan dalam mendeskripsikan fakta (waqi') secara benar dan utuh yang muncul dari perbedaan input informasi, pendekatan (metodologi) dan sudut pandang (worldview) sehingga menghasilkan manathul hukmi (objek hukum) yang beragam atas suatu realitas yang sama

2. Pahmun nushus (Pemahaman terhadap dalil)

Persoalan berikutnya ialah perbedaan dalam Memahami dalil serta penetapan wajhul istidlal dari keragaman sumber hukum islam (mashodirul ahkam) juga menjadi faktor utama dengan berbagai kategorisasi, tingkatan serta tinjauannya. Dari sini bila kita menemukan tidak ada nash atau dalil yang terlihat lebih kuat dari pada yang lainnya ini disebut sebagai al-ta’âdul.

sebenarnya Al-Ta’âdul ini tidak akan terjadi pada dalil-dalil yang bersifat qath’iy (Pasti). Sebab, tidak akan terjadi pertentangan di antara beberapa nash atau dalil yang qhath’i. Juga tidak akan terjadi antara dalil yang qhath’i dengan dalil yang zhanniy. Sebab, yang qhath’i harus didahulukan terhadap yanag zhanniy. Begitu juga al-ta’âdul ini tidak akan terjadi antar dalil-dalil yang zhanniy dilihat dari sisi fakta pensyari’atan (al-wâqi’ al tasyrî’i)

3. Perbedaan ushul al Qowaid as syar'iyyah

Ushul fiqh merupakan kumpulan kaedah-kaedah syar'iyyah untuk mengistimbat (menetapkan) hukum syara' dari dalil-dalil syar'i terhadap Fakta atau perbuatan.

Maka langkah awal dalam proses ijtihad ialah melakukan Tahqiqul manath (mendeskripsikan fakta secara benar dan utuh) serta melakukan tahqiqul adillah (Pengkajian Nash-Nash syar'i yang berkaitan dengan manathul hukmi yang tepat).

Adapun khilafiyah (perbedaan) yang muncul  dari tsaqofah (nilai-nilai & cara pandang) diluar islam  bukanlah termasuk ikhtilaf (Perbedaan) melainkan inhirof (Penyimpangan) yang harus ditinggalkan

4. At tarjih bainal adillatihat 

Selanjutnya untuk mendapatkan hukum syara' yang Rajih (lebih kuat) disaat terjadinya pertentangan diantara dalil-dalil syara' dimana terdapat sebagian dalil yang lebih kuat dari yang lainnya, maka kasus seperti ini disebut al-tarjîh. Yaitu menguatkan salah satu diantara dua dalil terhadap yang lainnya agar bisa diamalkan. Secara bahasa,  al-tarjîh berarti mencondongkan (al-tamyîl) dan mengalahkan (al-taghlîb).

Al-Tarjîh hanya ada pada dalil-dalil yang zhanniy. Tidak bisa terjadi dalam dalil-dalil yang qhath’i, karena tidak akan terjadi pertentangan di antara dali-dalil yang qhathiy.

1. Mengkompromikan Dalil yang Kelihatan Bertentangan (al-Jam’ bayn al-Adillah)

Mekanisme awal yang harus ditempuh ialah mengkompromikan di antara berberapa dalil yang kelihatannya bertentangan (al-jam’ bayn al-adillah) yakni dengan mengamalkan kedua dalil (yang kelihatannya bertentangan). Apabila hal itu memungkinkan, maka itulah asalnya (yang harus di ambil). Jika tidak memungkinkan maka baru kita berpegang kepada al-tarjîh, karena mengamalkan kedua dalil yang bertentangan lebih utama daripada meninggalkannya

2.  Apabila Rasulullah saw menyampaikan suatu perkataan, kemudian melakukan suatu pekerjaan yang bertentangan dengan perkataannya. Maka pekerjaan itu khusus bagi beliau saw, sedangkan perkataannya merupakan penjelasan bagi kita umatnya. 

Contohnya: Hukum ta'adud (Poligami) menikah lebih dari 4 orang istri sekaligus hanya berlaku bagi beliau saw dan haram bagi umatnya. sebab Allah azza wa jalla berfirman :

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى ٱلْيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ فَوَٰحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَلَّا تَعُولُوا۟

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.(Qs An Nisa 4:3) 

Al-Muhkam adalah induk bagi al-Mutasyâbih

 Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat (QS Ali Imran [3]: 7)

Dari ayat yang mulia ini lahirlah kaidah ushul fiqh "apabila terdapat dua ayat yang satu muhkam dan satunya lagi mutasyabih maka yang mutasyabih harus ditafsirkan dengan yang muhkam".

(Lihat At taisir fii ushuli at tafsiir hal 30-39)

contoh lain misalnya Penentuan awal dan akhir Ramadhan Hukum yang paling Rajih ialah Ru'yat Global yang harus diikuti sebagaimana kesepakatan jumhur ulama meskipun demikian kita tidak diperkenankan untuk mencela ijtihad berdasarkan mathla' ( tempat munculnya hilal). namun sayangnya penetapan yang terjadi saat ini lebih berdasarkan tapal batas Nasionalisme (wilayatul hukmi) bahkan berdasarkan kepentingan / keputusan Politis atau egosentris Penguasa atas sentimen kebangsaannya maka ini bukanlah Ketetapan syar'i yang wajib diikuti misalnya seperti Samarinda diKaltim dengan serawak malaysia dan berunei darussalam yang berada pada satu mathla' yang sama di pulau kalimatan tapi terkadang menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal yang berbeda-beda mengikuti keputusan negaranya masing-masing bukan berdasarkan mathla' yang meliputinya.

Syaikh Abdurrahman al-Jaziri w. 1941 M rahimahullah menjelaskan:

إذا ثبت رؤية الهلال بقطر من الأقطار وجب الصوم على سائر الأقطار، لا فرق بين القريب من جهة الثبوت والبعيد إذا بلغهم من طريق موجب للصوم. ولا عبرة باختلاف مطلع الهلال مطلقاً، عند ثلاثة من الأئمة؛ وخالف الشافعية: إذا ثبتت رؤية الهلال في جهة وجب على أهل الجهة القريبة منها من كل ناحية أن يصوموا بناء على هذا للثبوت، والقرب يحصل باتحاد المطلع، بأن يكون بينهما أقل من أربعة وعشرين فرسخاً تحديداً، أما أهل الجهة البعيدة، فلا يجب عليهم الصوم بهذه الرؤية لاختلاف المطلع

Apabila rukyat hilal telah terbukti disalah satu negeri, maka negeri yang lain wajib juga berpuasa. Dari segi pembuktiannya tidak ada perbedaan lagi antara negeri yang dekat dengan yang jauh apabila informasi rukyat hilal itu memang telah sampai kepada mereka dengan cara terpercaya yang mewajibkan puasa.

Tidak diperhatikan lagi di sini adanya perbedaan mathla’ hilal secara mutlak. Demikianlah pendapat tiga imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Ahmad). Para pengikut mazhab Syafi’i berpendapat lain: Apabila rukyat hilal di suatu daerah telah terbukti, maka atas dasar pembuktian ini, penduduk yang terdekat di sekitar daerah tersebut wajib berpuasa.

Ukuran kedekatan di antara dua daerah dihitung menurut kesamaan mathla’, yaitu jarak keduanya kurang dari 24 farsakh. Adapun penduduk daerah yang jauh, maka mereka tidak wajib berpuasa dengan rukyat ini, karena terdapat perbedaan mathla’. ( Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah, hal 298 Darul 'alamiyah )

Bersikap adil dan bijaksana

Dengan memahami hakikat perbedaan sudah semestinya kita bersikap hati-hati, teliti, adil dan bijaksana. Tidak memukul rata (generalisir) apalagi saling menyalahkan, membenci bahkan bermusuhan dalam menyikapi perbedaan (khilafiyah) pada ruang ijtihad yang beragam. 

Al Qodhi Taqiyuddin rahimahullah mengingatkan kita : 

لا يصح أن يقول حملة الدعوة عن فهمهم،  أن هذا هو رأي الإسلام،  بل عليهم أن يقولوا عن رأيهم، إن هذا رأي إسلامي

Tidak dibenarkan bagi seorang Pengemban dakwah (da'i) mengatakan atas pemahamannya ini adalah pendapat islam tapi hendaklah mereka mengatakan atas pendapatnya ini adalah pendapat yang islami. (Mafahim hizb at-tahrir Hal 28 )

Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : 

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُواۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada ketakwaan (Qs al Maidah 5 : 8)

Rabu, 28 Februari 2024

Bahagia dunia akhirat

Kebahagiaan adalah impian semua orang. secara alami setiap manusia pasti menginginkan yang terbaik dalam kehidupannya. bahkan terkadang ia rela melakukan apa saja untuk meraihnya. Walaupun terkadang sampai terjebak pada zona nyaman (comfort zone) yang melalaikan meski itu bukanlah perkara yang haram. Sebagaimana Allah SWT mengingatkannya didalam AlQur'an :

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik (Qs al Hasyr 59:19)

Allah SWT juga menggambarkan tabiat kebanyakan manusia. Mereka lebih sibuk mengutamakan urusan dunia ketimbang Akhiratnya :

بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا.والآخرة خير و أبقى

Tetapi kalian lebih memilih (condong) pada kehidupan duniawi. padahal kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal (Qs Al A'laa 87:16-17)

Yakni kamu lebih mendahulukan kepentingan duniawi dari pada kepentingan akhirat, dan kamu memandangnya sebagai tujuanmu karena di dalamnya terkandung kemanfaatan dan kemaslahatan kehidupanmu [Umdatut tafsir juz 3 hal 595 Darul wafa 2014 Mesir]

Maka bila ingin sukses bahagia diDunia & Akhirat prinsip utamanya ialah menjadikan Islam solusi kehidupannya dan Takwa Merupakan jalan hidupnya dengan mendahulukan urusan Akhirat ketimbang dunia.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.(Qs Ali Imran 3:102) 

Empat tipe kebahagiaan :

A. Bahagia dunia saja 🚷

B. Bahagia akhirat saja 🚷

C. Tidak bahagia dunia akhirat  🚷

D. Bahagia dunia akhirat ✅

Sebagaimana Allah SWT menjelaskan kepada kita didalam Al Qu'ran :

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".(Qs Al Baqarah 2:201)

Dari sini dapat kita mengerti bahwasanya orang tipe pertama ialah orang yang sibuk mengejar dunia tapi abai terhadap akhiratnya sedangkan tipe kedua hanya fokus mengejar akhiratnya namun ia cenderung tidak peduli dengan perkara duniawi adapun tipe ketiga ialah mereka yang berani mengerjakan keharaman demi kesenangan & kebahagiaan semu. Mereka terperdaya, lalai dan tertipu sehingga mereka rugi didunia rugi diakhirat bahkan menderita dunia & akhirat,.....

"Padahal sehebat apapun dan sejauh manapun kita mengejar dunia ini garis finishnya tetaplah kematian"

Allah Subhanahu wa ta'ala menjelaskan didalam firmanNya : 

ٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Qs Al Qashash 28:77) 

So, kita harus menemukan Jalan kebahagiaan yang Sebenarnya yang dengannya kita bisa meraih kebahagiaan didunia & akhirat yang abadi. Maka apa yang harus kita lakukan... ?

Pertama, Husnudzan (Prasangka baik)

Selalulah berbaik sangka dan berfikir positif sebab pikiran positif akan melahirkan emosi positif dan energi positif yang akan membuat hidup kita tenang dan optimis mempersiapkan masa depan yang lebih baik

Kedua, Qona'ah

Qona'ah ialah ridho atas segala ketetapan Rabbnya karena ia menyadari betul Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hambanya.

Qona'ah akan membuat seorang hamba senantiasa berbaik sangka kepada Allah sehingga kita akan bersabar dalam menjalani berbagai ujian dan kesulitan sekaligus menjadikan kita selalu bersyukur dalam setiap keadaan. Bahkan Qona'ah adalah Rahasia keikhlasan yakni syukur dalam nikmat dan sabar dalam ujian & musibah

Ketiga, ilmu

Agar senantiasa Husnudzan dan Qona'ah. Kita butuh ilmu untuk membersihkan Hati & Pikiran (Tazkiyatun nafs) Sebab tanpa ilmu kita bukan beramal sholeh tapi justru akan beramal salah. Maka Agar amal kita tidak rusak apalagi sia-sia disinilah islam mewajibkan kita untuk terus belajar 

sebagaimana Allah azza wa jalla berfirman :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajarannya...? (Qs al Qamar 54:17)

Keempat, iman

kekuatan seorang mukmin sesungguhnya terletak pada keyakinannya yaitu imannya. tanpa iman seluruh amal kita tak ada nilainya disisi Allah Subhanahu wa ta'ala

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (Qs al Israa' 17:9)

Kelima, amal sholeh 

ketaatan pada syariatNya membutuhkan ilmu, kesabaran dan keteguhan hati agar menjadi Amal sholeh yang sempurna. Doa, Tawakal & keikhlasan yang terus dipanjatkan akan berbuah keridhoan, pertolongan dan ketaqwaan. Sebagaimana Nabi saw bersabda :

إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا و ابتغي به وجهه

sesungguhnya Allah tidak menerima Amal kecuali amal yang ikhlas untuk mencari keridhoanNya (HR Nasa'i)

Keenam, isti'anah 

Seorang hamba yang senantiasa mengharapkan pertolongan Rabbnya (isti'anah) maka disaat berhasil ia tidak sombong, Namun bila gagal iapun tidak larut dalam kekecewaan & kesedihan. sebab ia tidak bersandar dan bergantung kepada amalnya. Tugasnya ialah menyempurnakan ikhtiarnya yang menjadi Amal sholeh baginya. sedangkan hasilnya ia serahkan kepada Allah SWT 

نَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَٰنِهِمْ ۖ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ فِى جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan (Qs Yunus 10:9)

من عرف بعد السفر استعدّ

Siapa yang mengerti akan jauhnya  perjalanan (Akhirat) pasti ia akan menyiapkan perbekalannya...

Minggu, 25 Februari 2024

Sebenarnya Hidup itu pilihan

Orang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, tapi orang yang mau berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda: 

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون

"Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dia orang yang beruntung, dan siapa yang hari ini ia sama dengan hari kemarin dia tergolong orang yang merugi dan bahkan, sedangkan siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah orang yang celaka." (HR Hakim)

Namun seringkali kita terjebak dengan zona nyaman, kemalasan, keinginan nafsu dan ambisi diri yang melalaikan. padahal sebenarnya kita mampu dan bisa memilih untuk melakukan atau meninggalkannya atau berubah untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. 

Begitulah perjalanan hidup. realitas hidup memang sangat beragam dan begitu kompleks  namun cara kita merespon itulah yang akan menjadi pilihan dalam menyikapi situasi dan keadaan.

Sahabat beriman, Jika sukses dan bahagia didunia saja butuh ilmu (knowledges) dan amal (efforts) apalagi bila ingin bahagia dunia akhirat tentu membutuhkan lebih banyak ilmu, komitmen (azam), konsistensi (istiqomah) dengan Perjuangan dan pengorbanan yang lebih besar lagi. Yakiin mau....? 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia itu tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (Qs an Najm 53:39)

Adapun terhadap peristiwa yang diluar kehendak dan kendali kita (musyayyar) maka Allah SWT takkan menuntut kita atas takdirNya. namun sikap kita dalam merespon Qodho (takdir) yang telah Allah tetapkan inilah yang menjadi Ruang pilihan dan amal kita (mukhayyar) yang akan dihisab nantinya.

Sahabat beriman, ilmu akan menjadi obat kebodohan sedangkan banyak mengingat kematian dan penyesalan  akan menjadi "terapi kemalasan"  agar kita lebih  bersabar dan istiqomah dalam "menanam amal sholeh" 

sebab bila kita tak mampu melawan rasa malas maka ia (kemalasan) akan melumpuhkan daya juang dan mengubur cita-cita serta masa depan. padahal sejatinya: 

إنما الدنيا مزرعة الآخرة 

Dunia hanyalah ladang negeri Akhirat. 

Namun jika kita menanam amal salah maka diakhirat nanti kita akan memanen kesalahan buah dari amal kita didunia ini

hujjatul islam imam Al ghazali Rahimahullah mengingatkan : 

علامة إعراض الله عن العبد...اشتغاله بما لا يعنيه

Tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba ialah sibuknya seorang hamba terhadap aktivitas yang tidak Penting atau berarti bagi (agama)nya (Ayyuhal walad hal 34 darul minhaj)

Maka Allah Subhanahu wa ta'ala meyakinkan kita didalam firmanNya :

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ  وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ 
jika kalian berbuat baik maka kebaikan itu untuk diri kalian sendiri dan bila kalian berbuat jahat maka kejahatan itu kembali pada pelakunya (Qs Al Isra' 17:7)

Rabu, 21 Februari 2024

Mulia dengan islam

Sahabat beriman, diskriminasi kasta dalit hindu merupakan Contoh hilangnya rasa keadilan dan kemanusiaan. islam meletakkan kemuliaan pada ketaqwaan bukan pada kasta, nasab, suku, harta, tahta dan lainnya. kemuliaan seseorang ada didalam ketaqwaannya Sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs al Hujaraat 49:13)

Tiada lain keutamaan diantara kalian dalam pandangan Allah SWT ialah disebabkan ketaqwaan kalian bukan Karena nasab atau jabatan. Nabi saw bersabda:

إن الله لا ينظر إلى صوركم و أموالكم.ولكن ينظر إلى قلوبهم و أعمالكم

Sesungguhnya Allah SWT tidak memandang cantik atau tampannya wajah dan harta-harta kalian, tapi Allah memandang kepada Hati dan perbuatan (Aktivitas) kalian [Umdatut tafsir Mukhtashor ibnu katsir juz 3 Hal 320 Mesir]

Namun saat ini kita hidup diakhir zaman. Dimana terkadang Kita bingung dalam memilah dan memilih untuk mengikuti kebenaran yang menuntun pada hakikat ketaqwaan yang Sesungguhnya. Tanpa bimbingan ulama rabbani para musyrif dan mursyid Kita akan terombang-ambing dalam lautan ikhtilaf (Perbedaan),  inhirof (penyimpangan) terlebih lagi saat ini dimana pengamalan islam telah banyak "dipangkas", "dikebiri" dan "dibongsai" bahkan Tadhlil (diselewengkan) sehingga terjadilah pergeseran Nilai & Standar kebenaran. 

Akhirnya manusia terjebak pada oportunisme yaitu Prinsip mengejar keuntungan, kepentingan dan kenikmatannya semata tanpa lagi peduli halal dan haram, baik buruk, benar Salah, tercela dan terpuji akibat dari rusaknya cara pandang (mindset). mulai dari mencampuradukkan iman & syariah dengan khurafat dan perdukunan sampai Legalisasi "lokalisasi" Bahkan legalisasi perzinaan (free sex) siswa/i asalkan pakai kontrasepsi.....

Melalui Kebijakan Peraturan Pemerintah  Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksana UU Kesehatan pada 26 Juli 2024.

Maka untuk menyelamatkan ketaqwaan anak & keluarga. Setiap Muslim harus membentengi dirinya dengan Ulumul Syar'i, menata hatinya dengan Tafakkur, Tadabbur dan Tazakkur serta menghiasi hidupnya dengan Amal sholeh

Bagaimana Caranya ...?

Pertama, Ad dars (belajar)

Prinsip utama ilmu ialah untuk diamalkan. inilah tujuan mendasar belajar dalam islam. sehingga kebenaran itu akan bermakna bagi dirinya sebagai tuntunan kehidupannya.

Sayidina Ali ra menuturkan : 

العلم خير من المال.العلم يحرسك و انت تحرس المال. والمال تنقص بالنفقة والعلم يزكو بالإنفاق

ilmu itu lebih baik dari pada harta. ilmu akan menjagamu, sedangkan harta engkau yang akan menjaganya. harta akan berkurang saat digunakan sementara ilmu akan bertambah saat dibagikan (Tadzkirotus sami' juz 1/9, Al Iqna juz 1/25 darul hadits)

Kedua, Al fahmu (memahami)

Ilmu akan menjadi petunjuk dan solusi bila telah dipahami dengan benar dan sempurna. Maka mempelajari literasi islam  secara mendalam, terarah dan terbimbing ialah cara terbaik untuk membentuk pemahaman atau mindset yang benar dalam menumbuhkan kesadaran diri yang benar.

Ketiga, Al iman (meyakini)

Setelah terbentuk kesadaran yang benar dan holistic (kaffah) maka ia akan melahirkan keyakinan yang kokoh yang menjadi sumber utama energi ketaatan dalam menjalani kehidupan yang islami

Keempat, Tathbiq  (mengamalkan)

Manifestasi atau perwujudan ilmu dan iman yang benar ialah amal sholeh & ketaatan yakni keterikatan pada SyariatNya sehingga ia tidak akan menerima tuntunan dan aturan selain dari pada islam.

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (Qs ali Imran 3:85)

Kelima, Istiqomah 

Ada kehidupan setelah kematian yaitu kehidupan akhirat Maka seorang mukmin yang cerdas (Al kais) akan berusaha Meraih kemuliaannya tidak hanya didunia tapi juga diakhirat dengan istiqomah berpegang teguh pada al-Qur'an & Assunnah sebagaimana Imam Malik meriwayatkan didalam Al-Muwaththa’ :

 أَنَّ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال تَركْتُ فيكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمسَّكْتُمْ بِهِمَا لنْ تَضِلُّوا أَبَدًا: كِتَابَ اللهِ، وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ 

bahwasanya Rasulullah saw bersabda :Aku tinggalkan dua warisan di tengah-tengah kalian; kalian tidak akan pernah tersesat selama berpegang padanya: yaitu kitab Allah dan sunah rasul-Nya (HR Imam Malik)

Sahabat beriman, inilah diantara jalan kemuliaan seorang muslim yang diajarkan dan dicontohkan Nabi saw bahkan beliau rela menelan semua kepahitan & penderitaan hidup demi membangun peradaban islam yang mulia ini.

dari abu hurairah ra Nabi saw pernah ditanya :

يا رسول الله من أكرم الناس؟ قال:  أتقاهم

Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling mulia ? Nabi saw menjawab orang yang paling bertaqwa (HR Mutafaqun alaih)

Rabu, 14 Februari 2024

Merajut kebahagiaan keluarga

Manusia itu lemah dan terbatas manusia juga tempatnya salah, khilaf dan dosa. Oleh sebab itulah Allah yang maha Rahman Rabb yang maha Tahu telah menuntun kita dengan SyariatNya untuk menjadi insan yang mulia lagi bermanfaat baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat dan agamanya.

Sahabat beriman ketahuilah, seorang mukmin itu akan menjadikan islam sebagai jalan hidupnya dan menjadikan Syariah sebagai Petunjuk kehidupannya termasuk dalam membangun bahtera Rumah tangga yang harmonis dan Romantis.

Allah azza wa jalla mensyariatkan pernikahan untuk menjaga harkat martabat manusia (hifzun nasb wa nafs) dalam mengekspresikan atau menyalurkan naluri seksualnya (gharizatun naw') secara benar dan terhormat. 

Nikah merupakan Aqdun ala manfaah akad pemanfaatan lahir batin atas suami istri dimana islam telah memberikan Peran bagi masing-masing pasangan untuk saling tolong menolong dan melengkapi dalam kebaikan dan ketaqwaan. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ

mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka (Qs Al Baqarah 2:187) 

يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَٰرِى سَوْءَٰتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian (Perisai) ketakwaan itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (Qs Al A'raaf 7:26) 

Allah SWT menjadikan ketaqwaan sebagai jalan merajut keluarga sakinah (ketenangan dan kedamaian), mawaddah (Penuh cinta) wa rahmah (saling menyayangi)

Rasulullah saw juga bersabda: 

Tiga hal siapa yang memilikinya, ia akan merasakan kelezatan iman:

 "hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari yang lain, ia mencintai seseorang karena Allah dan ia benci kembali pada kekufuran seperti ia benci dilemparkan ke neraka"  (HR Bukhari dan muslim) 

ketaqwaan adalah kunci utama  menjadi suami dan istri terbaik yang diajarkan Nabi saw sebab ketaqwaan akan mendatangkan rasa qonaah sehingga ia akan "mencintai suami atau istrinya karena Allah" meskipun pasangannya memiliki kekurangan atau keterbatasan sehingga keduanya akan hidup dalam bingkai ibadah dan ketaatan. 

Suami wajib menafkahi & mendidik keluarga

Tanggung jawab seorang suami tak hanya sekadar memberikan nafkah lahir dan batin melainkan juga wajib baginya memberikan Pendidikan terhadap keluarganya (tarbiyatul auwlad) serta keteladanan (Qudwah) dalam kehidupan rumah tangganya.

keluarga yang dibentuk dalam suasana keimanan, keilmuwan, kasih sayang dan keteladanan akan tumbuh menjadi keluarga ibadurrohman yaitu keluarga yang penuh kasih, Qonaah dan Taat sehingga membuat mereka senantiasa butuh dan dekat kepada Rabbnya.

disinilah peran seorang suami sekaligus ayah bagi anak-anaknya harus senantiasa mengajarkan ilmu-ilmu syar'i (agama) kepada keluarganya untuk diamalkan bukan sebatas pengetahuan semata. ia juga harus berusaha untuk menjadi teladan kebaikan dan ketaqwaan bagi keluarganya dalam mempersiapkan masa depan akhirat keluarganya dengan menanamkan (mengajarkan) ilmu, iman dan amal sholeh sebab ia menyadari betul bahwasanya dunia ini hanyalah tempat bercocok tanam yang panen buahnya nanti akan dipetik di surga kelak. 

الدنيا مزرعة الآخرة فكل ما خلق في الدنيا فيمكن أن يتزود منه للآخرة.

Dunia itu hanyalah ladang negeri Akhirat,  setiap apa saja yang ditanam didunia, maka dia akan menjadi bekal (tabungan)  diakhirat

(إحياء علوم الدين ٢٩٣/٦)

inilah Cinta sejati, cinta yang akan melintasi batas ruang dan waktu menebus keabadian akhirat yang kekal insyaAllah...

istri ummun  wa robbatul bait

Sahabat beriman, Cinta yang tumbuh dari ketaatan akan melahirkan Rasa Qonaah yakni syukur dalam nikmat dan sabar dalam ujian serta cobaan rumah tangga. Qonaah akan membuat ia Ridho atas segala ketetapan Allah meski itu terasa berat, pahit dan sulit dalam menjalaninya.

tapi ia yakin dan percaya bahwasanya Rencana dan ketentuan Allah itu pasti yang  terbaik. Adapun hikmah dibalik ujian dan cobaan dalam rumah tangga sebenarnya akan mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya yang akan membuat ia senantiasa bermunajat dan bersandar pada tuhannya yang maha penyabar (Ash shobur). 

إفتقارالعباد إلى الله من باب شعبة الإيمان

Butuhnya seorang Hamba kepada Allah SWT adalah bagian dari cabang keimanan .

dimana kesabaran dan ketaatan seorang istri pada suaminya menjadi ladang amal Sholih yang akan berbuah ketaqwaan.

Allah yang maha bijaksana berfirman : 

katakanlah; jika kamu benar-benar mencintai Allah,  maka ikutilah aku (Nabi saw) niscaya Allah akan menyayangi kalian semua (Qs Al imran: 31)

khatimah, ilmu, iman dan amal sholeh akan menghasilkan ketaqwaan yang akan  menjadi pondasi dalam membangun keharmonisan Rumah tangga berupa rasa Qonaah, saling mengerti, empati, tolong menolong, sabar dan komitmen untuk saling melengkapi dalam kebaikan dan ketaqwaan.  

sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : 

  وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ

saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan (Qs Al Ma'idah 5:2)

Senin, 12 Februari 2024

Solusi indonesia Berkah

Pemimpin yang baik butuh sistem kepemimpinan yang baik

indonesia yang kita cintai ini membutuhkan solusi mendasar yang holistik (menyeluruh) agar bisa benar-benar merdeka dan berdaulat dari segala bentuk intervensi, penjajahan ekonomi, Teknologi industri dan persenjataan, Cyber attack serta krisis multidimensi melalui Perubahan sistem kepemimpinan yang Adil dan amanah dengan Syariah yang kaffah sebagai jalan terbaik untuk menyelamatkan negeri ini

ibarat Supir yang handal ia juga butuh kendaraan yang handal "Sehat" untuk menghasilkan kinerja yang optimal. demikianlah urgensinya mempersiapkan Pemimpin yang amanah juga sistem pemerintahan yang amanah. 

dari sinilah kita sadari betapa pentingnya Penerapan islam yang merupakan kewajiban yang pasti (ma'lumun min ad dini bidh dhoruroh) Sebagai bukti keimanan (muqtadhoyatul aqidah) serta mewujudkan kemashlahatan, keadilan dan keberkahan didunia maupun diakhirat kelak. 

Namun sayangnya, kesalahan mendasar sebagian kaum muslimin dalam menilai Demokrasi hanyalah sebatas syuro (musyawarah) dan pemilu belaka . padahal pangkal kerusakan demokrasi ialah kebebasan beragama, berbicara, berekspresi dan kebebasan kepemilikan. 

bahkan secara fundamental Demokrasi  merupakan sistem kufur karena esensinya yang Paling mendasar yaitu Vox populy Vox dei = Suara rakyat suara Tuhan yakni mempertuhankan manusia dalam menetapkan hukum yang menentukan standar kebaikan dan kebenaran.

Padahal Allah SWT berfirman : 

ليس كمثله شيء

Dia (Allah) tidak serupa dengan sesuatu apapun (Qs asy syuuro 42:11)

Demokrasi menjadikan Suara rakyat sebagai Suara Tuhan sama saja dengan "Mempertuhankan manusia" yang memiliki otoritas atau wewenang membuat (legislasi) Hukum menggantikan Syariat islam sebagai tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Sebagai insan beriman tentu kita tidak boleh mempersekutukan Allah azza wa jalla dengan sesuatu apapun termasuk manusia

sebab Allah SWT berfirman : 

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Qs Al Ikhlash 112:4)

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِ

Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun (Qs An nisa: 36)

Pemahaman Aqidah yang benar atau Tauhid yang murni akan Sifat Wajib, mustahil & jaiz bagi Allah Pastilah menolak Demokrasi = Vox populy Vox dei yang menjadikan manusia sebagai pembuat hukum dan aturan menggantikan Tuhan. terlebih lagi bahwasanya pandangan akal manusia itu amatlah nisbi, lemah dan terbatas dalam menjangkau realitas yang begitu kompleks sementara akalnya dibatasi oleh dimensi Ruang  waktu serta dinamika kehidupan yang terus berkembang.

 اما الإسلام  فالسيادة  للشرع وليس للأمة

adapun didalam islam Kedaulatan (Otoritas membuat hukum) hanya hak milik Allah yakni SyariatNya bukan kehendak atau wewenang manusia ( ad dimuqrotiyah nizhomu kufri, hal 49)

bahkan Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

قُلْ إِنِّى عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبّى وَكَذَّبْتُم بِهِۦ ۚ مَا عِندِى مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِۦٓ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْفَٰصِلِينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Sesungguhnya Menetapkan hukum itu hanyalah hak (milik) Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik (Qs Al An'aam 6:57)

فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Dan jika kalian berlainan (berbeda) pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (Qs An Nisa 4:59) 

Demokrasi Merupakan Antitesis Islam

Sejatinya demokrasi hanya dijadikan sarana untuk menjalankan kepentingan Asing, Aseng, Kapitalis Global, Regional, Lokal, Oligarki, kartel melalui Voting wakil Rakyat yang "terbeli" yang sarat kepentingan dan keuntungan.

Demokrasi menjadikan standar kebenaran atas nama mayoritas atau suara terbanyak sedangkan standar kebenaran islam ialah Syariah yang bersumber dari Al Qu'ran alkareem dan As sunnah an nabawiyah yang bertentangan dengan demokrasi yang berasaskan sekulerisme yang memisahkan Agama dari kehidupan.

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (Qs Al Ma'idah 5:50)

Kesempurnaan islam sebagai sistem hukum terbaik meliputi seluruh interaksi dan tatanan kehidupan mulai dari individu, masyarakat hingga bernegara yaitu  khilafah islamiyah (ad daulatul ula fil 'alam) yang diwajibkan nabi saw atas seluruh kaum muslimin serta dicontohkan dan dijalankan khulafaur rosyidin sebagai solusi terbaik bagi negeri kita tercinta ini. 

عَن أَبي نَجِيحٍ العربَاضِ بنِ سَاريَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنا رَسُولُ اللهِ مَوعِظَةً وَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ وَذَرَفَت مِنهَا العُيون. فَقُلْنَا: يَارَسُولَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوصِنَا، قَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عز وجل وَالسَّمعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلافَاً كَثِيرَاً؛ فَعَلَيكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المّهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فإنَّ كلّ مُحدثةٍ بدعة، وكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ. رواه أبو داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح

Abu Najih Irbādh bin Sāriyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah pernah menasihati kami dengan sebuah nasihat yang menyebabkan hati bergetar dan air mata berlinang, lalu kami berujar, ‘Wahai utusan Allah, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka berilah kami wasiat!’ Beliau bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun kalian diperintah oleh seorang budak. Sesungguhnya siapa di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh sebab itu, Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunahku dan sunah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk...(HR. Abu Dawud, Tirmizi) beliau berkata bahwa hadis ini hasan sahih hadist ke-28 dalam arbain nawawiyah 

jadi, Penerapan Syariah islam yang kaffah sebagai Tuntunan kehidupan yang paripurna merupakan solusi hakiki mewujudkan Negeri kita tercinta ini menjadi Baldatun  thoyyibatun wa rabbun Ghofur wa ad daulatul ula fil 'alam

islam Solusi Hidup berkah

فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَهُمْ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا... 

Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. bagi tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan (syariat) dan jalan hidup (manhaj)...(Qs Al maidah 5:48)

Hijrah kaffah dengan Khilafah

it is time tobe one ummah

والله موافق الى أقوام الطريق

Jumat, 09 Februari 2024

Bersegera Meraih cinta ilahi

Sahabat beriman, Imam Asy syathibi rahimahullah menyimpulkan bahwasanya : 

ما جاء من الأدلة على أن روح العلم هو العمل

Tidaklah datang dari dalil-dalil melainkan bahwasanya nyawa (ruh)nya ilmu ialah Pengamalan [Al Muwafaqot fii Ushul asy Syariah juz 1 hal 43 Darul hadits 2006 Mesir]

Demikianlah tak ada kebahagiaan yang sempurna didunia ini begitulah yang dirasakan Abu dahdah ra Salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang memiliki kebun terbesar dimadinah. didalamnya  terdapat 600 batang pohon kurma. Ketika sedang duduk-duduk disisi nabi Saw ia mendengar satu ayat dari kalamullah :

مَّن ذَا ٱلَّذِى يُقْرِضُ ٱللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَٱللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah ? pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan berlipat ganda yang banyak. Dan Allahlah yang  menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (Qs Al Baqarah 2:245)

Ia berkata Wahai Rasul, apakah Rabb Kita menginginkan diantara Kita perniagaan yang baik ? Rasul menjawab Benar Wahai Abu dahdah. Ia berkata Wahai Rasul, bentangkan tanganmu,..lalu Abu dahdah membentangkan  tangannya diatas tangan beliau saw seraya berkata Wahai Rasul Aku belanjakan (serahkan) pagarku (kebunku) pada Rabbku. ( Kitab islahul qulub Hal 145 )

Sahabat beriman begitulah karakteristik seorang mukmin yang begitu mencintai Allah dan rasulNya mereka berusaha bersegera dalam kebaikan. Ia ingin setiap ilmu, Amal, harta dan lelahnya menjadi lillah .

لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak akan sampai pada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah itu mengetahuinya (Qs Ali Imran 3:92)

Namun bila seorang hamba suka menunda-nunda atau "Mager" Inilah pintu kelalaian yang membinasakan Karena kemalasan adalah cara terbaik memelihara kebodohan dan kesengsaraan. 

atau hanya sibuk mengejar ambisi dunianya semata Sungguh ia akan semakin jauh dari jalan ketaatan dan dakwah sebagaimana Para tabi'in pernah mengingatkan :

Bagaimana Hati akan bersinar sedang dunia terpahat didalam hatinya ?

Atau bagaimana Hati akan pergi kepada Allah sedang ia dikekang (dikendalikan) oleh nafsunya ?

Atau bagaimana ia akan memasuki (pintu) Allah sedang ia belum suci dari noda kelalaiannya ? ( islahul qulub terj Hal 148 )

Semoga Kita semua dapat mengambil ibrah (pelajaran) dan meneladani sahabat mulia Abu dahda Radhiyallahu anhu untuk bersegera dalam kebaikan, ketaatan serta meraih Ampunan dan cinta ilahi Rabbnya.

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Qs Ali Imran 3:133)

Senin, 29 Januari 2024

Sukses itu Proses Bukan Protes

Siapapun berkesempatan untuk meraih kesuksesannya, karena Sukses merupakan hak semua orang. 

siapapun bisa mempersiapkan kesuksesannya dimulai dari memprogram mindset sukses didalam pikirannya. Selanjutnya barulah ia memaksimalkan Potensi dirinya melalui perencanaan yang baik, strategi yang tepat serta management yang efektif dan dinamis dalam mengelola Potensi, sumber daya, peluang dan momentum yang dipersiapkan dan terus dikembangkan. Adapun Doa dan Tawakal Merupakan "jalan langit" menyempurnakan semua prosesnya.

Setelah mengoptimalkan konsep Perencanaan dan bisnis model, maka langkah berikutnya ialah Adaptasi dengan sarana dan Potensi yang tersedia serta mengembangkan berbagai kreativitas dan solusi inovatif. Karena adaptasi Merupakan kausalitas (hukum Sebab akibat) yang membuat kita tetap survive (bertahan) dan terus bertumbuh menjadi lebih baik. kemudian fokus terpenting selanjutnya ialah menjaga komitmen dan konsistensi pada Tujuan adalah kunci keberhasilan yang harus terus diperjuangkan. 

jadi kesuksesan itu sebenarnya adalah Proses atau ikhtiar yang diperjuangkan bukan protes atau keluhan yang dilegitimasi (benarkan) untuk  menyerah pada keterbatasan, kelemahan diri dan keadaan.

bahkan Allah SWT berfirman menegaskan : 

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (Qs ar Ra'd 13:11)

Dengan demikian seorang Muslim yang ingin Meraih kesuksesannya haruslah mencurahkan hati, pikiran, modal, tenaga waktu segenap daya dan upaya untuk meningkatkan kompetensi diri (scale up), Produk & layananan  yang dapat menjadi add value & differentation (nilai tambah dan keunggulan) untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

So, tugas utama Kita ialah meng-install software kemakmuran (success mindset) ➡️ take to action ➡️ focus on your Purposes. 

Konsep rezeki dalam islam

Sahabat beriman, dari uraian sederhana  ini dapat kita simpulkan sukses itu bukanlah sekedar soal modal, aset (harta), Penampilan dan gaya hidup glamor apalagi flexing tapi kesuksesan Sebenarnya ialah kekayaan Mental (Sarwatul fikriyah) yang menjadi mindset kesadaran (awareness) kemakmuran dan kebahagiaan yang dimiliki seseorang. Namun yang harus disadari bahwasanya konsep sukses didalam Islam itu berorientasi akhirat & keberkahan bukan sekedar kekayaan materi (harta) tetapi juga kekayaan hati (Qalbu).

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ 
Pada Hari itu tak lagi berguna harta Dan tidak lagi bermanfaat anak-anakmu kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Qs Asy Syu'araa' 26:89) 

Doa akan meneguhkan pengharapan dan ikhtiar akan menghilangkan kekhawatiran yang akan menghantarkan pada tujuan✨ 

 إنما الأعمال بالخواتيم

Tiada lain Sesungguhnya (keberhasilan) Pekerjaan itu  ditentukan dari hasil akhirnya (HR imam Bukhari)